MUHAMMAD : TIGAPULUH TAHUN PERTAMA DI MEKAH
USIA : 40 – 53 TAHUN
YESUS : SATU - DUA TAHUN PERTAMA PELAYANANNYA SAMPAI IA MENGIRIMKAN MURID-MURIDNYA BERKHOTBAH TANPANYA
Sampai pada bagian ini, baik Muhammad maupun Yesus telah menyatakan bahwa mereka dipanggil untuk menyampaikan pesan dari Tuhan kepada dunia. Mari kita lihat pada hari-hari pertama mereka berkhotbah. Kita akan terkejut melihat adanya persamaan reaksi dari orang-orang di kampung mereka, tetapi juga ada perbedaan bagaimana Yesus dan Muhammad menanggapinya.
PERMULAAN MUHAMMAD SECARA DIAM-DIAM
Isteri Muhammad, Kadijah, adalah orang pertama yang pindah agama dan memeluk Islam, diikuti oleh sepupunya yang berusia sepuluh tahun (Ali ibn Abu Talib) yang tinggal bersama mereka.[1] Orang berikutnya yang memeluk agama Islam adalah salah seorang penyembah berhala bernama Abu Bakar. Abu Bakar ini kemudian menjadi salah seorang penginjil agama Islam yang sangat berhasil, dan ia berhasil membawa dua puluh lima orang untuk memeluk agama Islam, termasuk seseorang yang bernama Al-Arqam. Rumah Al-Arqam menjadi tempat utama bagi Muhammad mengajar.[2]
Muhammad memberitahukan paman yang membesarkannya, Abu Talib, mengenai pengalamannya, dan pamannya berjanji untuk melindungi dirinya tetapi tidak mau menerima ajaran Muhammad.
Jadi, apa yang diajarkan oleh Muhammad pada saat itu? Ia memberitahukan sepupunya bahwa untuk menjadi seorang Muslim, ia harus bersaksi bahwa, “Tidak ada tuhan selain Allah saja, tanpa sekutu, dan mengingkari al-Lat dan al-Uzza (berhala), serta melepaskan saingan-saingannya.”[3] Muhammad juga mengatakan bahwa malaikat Gabriel mengajarkannya sebuah cara sembahyang yang khusus, yang diajarkannya kepada para pengikutnya.[4] Selanjutnya, Muhammad menambahkan beberapa petunjuk yang harus diikuti untuk menjadi seorang Muslim.
Pada awalnya, Muhammad dan orang-orang Muslim bersikap rendah hati. Mereka pergi ke sebuah lembah di padang gurun, di luar kota, untuk bersembahyang sehingga orang-orang tidak dapat melihat mereka.[5] Muhammad terus melakukan cara diam-diam seperti ini di Mekah selama tiga tahun.
PERMULAAN YESUS YANG DRAMATIS
Kisah tentang Yesus di dalam kitab Injil memberikan beberapa gambaran yang berbeda mengenai awal mula pekerjaannya.
Hanya dalam beberapa hari setelah dibaptis, lima orang laki-laki telah mengikuti Yesus kemanapun ia pergi.(Yohanes 1:35-40). Mereka pergi bersama-sama ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ketika mereka masuk ke bait suci, Yesus melakukan sesuatu yang membuatnya dipandang oleh pemuka-pemuka agama Yahudi seumur hidupnya. Ketika Yesus melihat orang-orang berdagang lembu, domba, dan burung merpati dan menukarkan uang, ia menjadi marah. Ia mencampakkan dan menggiring semua orang dan hewan-hewan itu keluar dari halaman bait suci sambil berteriak, “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yohanes 2:16)
Pemuka-pemuka agama mempertanyakan wewenangnya, namun mereka tidak mampu menghentikannya. Ia tinggal di Yerusalem untuk merayakan Paskah dan melakukan “tanda-tanda mujizat,” yang membuat banyak orang menjadi percaya kepadanya (Yohanes 2:23). Pemimpin-pemimpin agam Yahudi (orang-orang Farisi) mulai mengikuti perkembangan aktivitasnya (Yohanes 4:1)
Yesus mulai berbicara di sinagoga orang-orang Yahudi dan, “... tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu .... dan semua orang memuji Dia.” (Lukas 4:14-15). Setelah mengajar di beberapa kota, Yesus kembali mengajar di kampung halamannya, Nazaret, sebuah kampung kecil yang hanya berpenduduk sekitar dua ratus jiwa.
Apa yang Yesus ajarkan pada saat itu? Ketika ia berdiri mengajar di sinagoga di Nazaret, ia memegang gulungan kitab Yesaya. Ia membacakannya kepada orang-orang:
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
-- Lukas 4:18-19 --
Ketika orang-orang menatapnya, ia mulai mengajar mereka dan berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:21).
Di hari-hari pertama di Yerusalem, Yesus telah memberitahukan kepada para pemuka agama Yauhdi bahwa Tuhan, “telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Seorang perempuan Samaria, di tepi sumur mengatakan kepada Yesus bahwa ia sedang mencari Mesias yang akan datang bagi orang-orang Yahudi, dan Yesus berkata, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” (Yohanes 4:26). Singkatnya, Yesus mengatakan bahwa ia adalah Anak Tuhan dan ia memegang kunci untuk memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan, dan akan menghasilkan hidup yang kekal. Inilah pesan yang disampaikan oleh Yesus mulai sejak saat itu sampai akhir hidupnya. (Kita akan memperbandingkan pesan yang disampaikan oleh Yesus dan Muhammad lebih rinci di dalam bab 10)
PENOLAKAN MUHAMMAD DI KAMPUNG HALAMANNYA SENDIRI
DAN OLEH PARA PEMUKA AGAMA
Muhammad menyebarkan pesannya secara diam-diam selama tiga tahun sampai ia kemudian menyatakan bahwa malaikat Gabriel memerintahkannya menyampaikan pesan tersebut kepada orang banyak (pada usia empat puluh tiga tahun). Muhammad memutuskan untuk memanggil para pemimpin suku Qurais dan memberitahukan mereka tentang ajarannya. Ada beberapa hal yang perlu diingat tentang suku Qurais: (1) keluarga Muhammad adalah bagian dari suku ini. Cabang keluarganya disebut dengan Bani Hashim. (Bani dalam bahasa Arab berarti suku). (2) Suku ini secara turun temurun bertugas untuk menjaga Ka’abah, pusat penyembahan berhala bagi bangsa Arab.
Ketika Muhammad memberitahukan mereka pesan yang ia terima, mereka menjadi marah. Mereka berkata kepada paman Muhammad, “Ya Abu Talib, keponakanmu telah mengutuki dewa-dewa kita, menghina agama kita, mengejek jalan hidup kita dan menuduh para pendahulu kita melakukan kesalahan, engkau harus menghentikannya atau kami akan menangkapnya.”[6]
Karena paman Muhammad memilih untuk melindunginya, orang-orang Mekah tidak dapat membunuh Muhammad, jadi mereka hanya mengancamnya. Sebagai contoh, mereka mengingatkan orang-orang yang berkunjung ke Mekah untuk mengabaikan Muhammad. Mereka juga menghina Muhammad ketika mereka berjalan mengelilingi Batu Hitam di Ka’abah.[7]
Para pengikut agama Islam berada dalam bahaya melebihi Muhammad sendiri. Orang-orang Qurais menekan mereka untuk meninggalkan iman mereka. Jika orang yang memeluk agama Islam itu aalah orang yang terpandang di masyarakat, mereka akan mengejeknya. Jika ia seorang pedagang, mereka mengancam untuk memboikotnya. Dan jika ia berasal dari kelas masyarakat rendah, mereka akan memukulinya.[8]
Kebanyakkan orang yang memeluk agama Islam pada saat itu berasal dari kelas rendah atau para budak. Namun, berjalan dengan waktu, dua orang yang berpengaruh bergabung dengan Muhammad, yaitu Umar dan Hamzah (salah satu paman Muhammad). Kedua orang ini secara fisik sangat kuat dan agresif, dan menakutkan bagi orang-orang Qurais. Untuk memperlemah orang-orang Islam, suku Qurais memutuskan untuk memboikot seluruh orang Islam dan seluruh kerabat Muhammad (Bani Hashim).
Mereka menandatangani sebuah perjanjian bahwa seluruh suku tidak boleh menikah dengan perempuan dari suku Hashim atau memberikan perempuan mereka untuk dinikahi. Mereka juga tidak boleh membeli atuapun menjual sesuatu kepada mereka.
Pemimpin tindakan pemboikotan ini adalah Abu Lahab, salah seorang dari paman Muhammad. Ia pergi ke pasar dan berkata kepada orang banyak, “Wahai para pedagang, naikkanlah harga barang daganganmu sedemikian rupa sehingga orang-orang Muhammad tidak dapat membeli apapun daripadamu. Jika seseorang khawatir bahwa bisnisnya akan merugi, aku punya cukup uang untuk menutupi kerugian itu.”
Muhammad menyampaikan wahyu dari malaikat Gabriel mengenai orang itu (Surat 111). Beberapa saat kemudian, Muhammad dan orang-orang Islam itu pergi meninggalkan kota dan tinggal di lembah gurun yang berdekatan. Mereka mulai putus asa. Ketika seorang Muslim pergi ke kota untuk membeli makanan bagi keluarganya, para pedagang memintanya membayar harga dua, tiga bahkan empat kali lipat lebih mahal dari harga normal. Ia tidak dapat membayar, sehingga ia kembali lagi tanpa membawa apa-apa bagi keluarganya.
Sejarah Islam mengatakan bahwa para pengikut Muhammad menjadi sangat lapar sehingga mereka memakan kotoran binatang dan daun-daunan. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan Tahun Kelaparan.
Bayangkan, Muhammad dan isterinya, yang pernah menjadi orang terkaya, perempuan paling terpandang di kota Mekah, menjadi pelarian di gurun pasir, tanpa bisa membeli makanan. Mereka mungkin juga membawa anak-anak mereka yang masih kecil bersama mereka. Mereka bertahan hidup dengan adanya simpanan makanan yang diberikan secara diam-diam oleh orang-orang yang simpatik dan teman-teman mereka.[9]
Selama masa itu, Muhammad terus berbicara tentang wahyu yang berasal dari malaikat Gabriel. Ayat-ayat ini dikumpulkan dan menjadi bagian buku yang dikenal dengan nama Al Quran. Wahyu-wahyu ini seringkali berisi makian terhadap mereka yang menganiaya dirinya.
PENOLAKAN YESUS DI KAMPUNG HALAMANNYA SENDIRI
DAN OLEH PARA PEMUKA AGAMA
Kita telah melihat bagaimana orang-orang sekampung Muhammad menolaknya. Sekarang mari kita lihat di Nazaret, sebuah kota kecil, tempat di mana Yesus dibesarkan. Anda telah membaca tentang bagaimana Yesus berdiri di sinagoga di Nazaret membaca Kitab Suci. Sekarang mari kita lihat bagaimana reaksi orang-orang.
Setelah Yesus membaca kitab Yesaya, ia kemudian mengajar. Ia berbicara tentang bagaimana orang-orang di kampungnya, di Nazaret, menginginkannya membuat mujizat sama seperti yang telah dilakukannya di Kapernaum. “Aku memberitakan kepadamu kebenaran,” katanya, “seorang nabi tidak akan diterima di tempat asalnya.” Kemudian ia mengingatkan mereka tentang nabi-nabi Perjanjian Lama yang diutus dari Israel untuk menolong orang-orang yang bukan Yahudi. Ucapan ini membuat orang-orang di sinagoga menjadi sangat marah. Mereka lalu membawa Yesus ke dekat sebuah terbing yang curam, untuk melemparkannya dari tepi jurang. Tetapi Yesus berjalan melewati orang banyak dan pergi (Lukas 4:14-30).
Sebagai tambahan, Yesus juga ditolak di kota-kota lainnya dan beberapa kelompok masyarakat. Yesus melakukan banyak mujizat di kota-kota lain di Galilea, namaun mereka menolak pesan dari Yesus (Kapernaum, Matius 11:23; Korazin dan Bethsaida, Lukas 10:13). Pesan yang disampaikan oleh Yesus membuat marah para pemuka agama Yahudi, sama seperti pesan Muhammad yang membuat marah para pemimpin penyembah berhala di Mekah.
Para pemimpin agama ketika kemudian berusaha untuk membunuh Yesus tetapi mereka melakukannya dengan cara yang berbeda. Mereka tidak secara langsung membunuh Yesus, melainkan mencari cara untuk membuatnya melanggar hukum sehingga mereka dapat secara sah menghukum mati Yesus. Sebagai contoh, jika ia terbukti mengumpat, hukum orang Yahudi mengijinkan ia untuk dibunuh. Jika ia terbukti melakukan pengkhianatan terhadap pemerintah Roma, ia juga harus dibunuh (Matius 22:15)
Di depan orang-orang yang menolak dia, Yesus tetap menyampaikan sudut pandangnya dan terus bergerak (Lukas 9:51-56). Jika kita lebih lanjut melihat kehidupan Yesus dan Muhammad, kita akan melihat bahwa reaksi Muhammad terhadap penolakan dirinya sangat berbeda. Mari kita lihat bagaimana Muhammad bisa pulih dari tindakan boikot orang-orang di sukunya.
PENCABUTAN BOIKOT / MUHAMMAD MENCARI PERLINDUNGAN
Setelah dua atau tiga tahun, tanpa intervensi secara langsung dari Muhammad, para pemimpin Qurais memutuskan untuk mencabut boikot. Para pemimpin itu memutuskan bahwa tidaklah baik memperlakukan kerabat mereka sendiri dengan cara buruk seperti itu, dan karena itu mereka merobek perjanjian yang ada. Muhammad dan orang-orangnya kembali ke Mekah dan melanjutkan praktek agama Islam di sana, meski tetap mengalami beberapa penghinaan.[10]
Muhammad menyampaikan pesannya dengan memberitahukan orang-orang bahwa mereka harus meninggalkan berhala mereka, menerima Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang benar dan menerima Muhammad sebagai rasul Allah. Ia juga akan mengutip ayat-ayat Al Quran untuk orang-orang tersebut. Ketika orang-orang meminta tanda, ia menjawab, “Al Quran adalah tanda bagimu” (Surat 29:50-51).
Peristiwa dalam beberapa tahun kemudian menunjukkan bahwa Muhammad kemudian mengembangkan sebuah strategi baru untuk memantapkan agama Islam dan melindungi dirinya sendiri.
Dalam satu, dua tahun berikutnya, dua orang yang paling berpengaruh dalam hidup Muhammad, meninggal dunia – pamannya, Abu Talib, yang melindunginya dari musuh-musuhnya, dan isterinya yang memberikan dukungan moral (tahun 620 M). Muhammad berusia lima puluh tahun. Sejarah Islam mengatakan bahwa suku Qurais mulai mengancamnya, “dengan cara yang lebih menakutkan.” Sebagai contoh, ada seorang “pemuda yang tidak sopan yang melemparkan debu ke atas kepalanya”.[11] Meski demikian, tidak ada serangan secara fisik, seperti memukul, upaya pembunuhan, atau apapun yang seperti itu. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa Muhammad merasa terancam karena itu ia mencari orang atau suku lain yang dapat melindunginya. (Para pengikutnya juga mencari pelindung bagi diri mereka). Sejarah agama Islam mengatakan bahwa ia pergi keluar Mekah kepada orang-orang Thaqif, kediaman suku Kinda, suka Kalb tetapi ditolak oleh mereka semua.[12]
Ketika pemimpin-pemimpin suku datang ke Mekah, Muhammad menemui mereka. Ia memberitahukan mereka bahwa ia adalah seorang nabi dan meminta mereka untuk percaya kepadanya dan melindunginya sampai Allah selesai menyampaikan wahyunya kepada mereka melalui hambanya.”[13]
Selain dari penganut agama Islam yang berasal dari kelas ekonomi bawah di Mekah, usaha Muhammad tampaknya menemui keberhasilan. Ia akhirnya memperoleh kesempatan melalui perang-perang panjang antara dua suku yang berdekatan di kota Medina, Aous dan Khazraj. Kedua suku ini datang ke Ka’abah di Mekah untuk naik haji dan menyembah berhala-berhala mereka. Setelah mereka selesai menyembah, beberapa perwakilan mereka bertemu dengan Muhammad pada malam hari di Al-Aqaba. Muhammad berkata kepada mereka, “Aku mengundang orang-orang yang setia kepadamu dengan harapan engkau akan melindungi aku sama seperti para perempuan dan anak-anakmu.” Salah satu dari pemimpin itu lalu menjawab:
“Aku bersumpah demi nama ia yang mengutusmu dengan kebenaran, kami akan melindungimu sama seperti kami melindungi keluarga kami. Tanda-tangani perjanjian ini dengan kami, wahai rasul Allah. Aku bersumpah, kami adalah anak-anak perang (kami tahu bagaimana mengalahkanmu). Kami mewariskan itu dari generasi ke generasi.”[14]
Jadi kita melihat orang-orang yang telah sering berperang mengadakan sumpah setia kepada Muhammad. Muhammad jelas membuat perjanjian militer dengan suku-sukku itu. Ia berkata kepada mereka, “Aku akan berperang dengan mereka yang berperang denganmu dan berdamai dengan orang yang berdamai denganmu.”[15]
Pada bagian ini, kita melihat kemiripan yang ironis dengan Yesus. Muhammad berkata kepada orang-orang yang ia temui, “Bawalah kepadaku dua belas orang yang akan mengurus hubungan di antara mereka.” Mereka mendapatkan sembilan orang dari suku-suku mereka dan tiga orang dari suku lain. Jadi Muhammad memilih dua belas orang inti untuk berjalan bersamanya, sama seperti Yesus memanggil duabelas orang rasul untuk berjalan bersamanya.
Sampai di sini, Muhammad telah menghabiskan waktu selama tiga belas tahum berkhotbah tentang Islam. Saat itu ia sudah mulai membuat persiapan untuk mengadakan perubahan besar.
Sekarang mari kita bandingkan gambaran dari hidup Muhammad dengan bagaimana cara Yesus menyampaikan pesan-pesannya.
KHOTBAH YESUS DAN KESEMBUHAN
Kita telah melihat perkembangan mulai dari pertengahan pertama kehidupan Muhammad sebagai seorang nabi, dan sekarang kita akan memperhatikan pertengahan pertama pelayanan Yesus. Maksud kami adalah satu dua tahun pertama yang telah ia habiskan untuk mengajar orang-orang dan melatih murid-muridnya sebelum ia mengirim mereka untuk berkhotbah sendiri.
Jadi, bagaimana Yesus menyampaikan pesannya? Ia berjalan dari kota ke kota di sekitar Galilea dan Yudea dan berkhotbah. Bagaimana ia membujuk orang-orang untuk percaya kepadanya? Ia menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir setan dan melakukan keajaiban-keajaiban terhadap alam.
Sebagai contoh, pada awal pelayanannya, ia mengusir setan keluar dari orang yang mengganggu pelayanannya di sinagoga di Kapernaum (Lukas 4:33). Kemudian Yesus pergi ke rumah Petrus dan menyembuhkan ibu mertua Petrus, yang sedang demam tinggi. Kemudian orang banyak berkumpul di rumah itu sampai malam hari. Mereka membawa kepada Yesus semua orang yang menderita berbagai macam penyakit, dan Yesus menyembuhan mereka dengan cara “menumpangkan tangan atas setiap orang” (Lukas 4:40).
Kegiatan ini membuat orang-orang meresponi Yesus dengan antusias ke manapun ia pergi. Orang-orang membawa kepadanya, “semua orang yang menderita penyakit, kerasukan setan, yang lumpuh dan menyembuhkan mereka” (Matius 4:24). Seseorang yang telah disembuhkan dari sakit kusta memberitakan kabar ini dengan sangat efektif sehingga Yesus tidak dapat pergi ke kota-kota lainnya dengan mudah karena kerumunan orang banyak. Ia kemudian meninggalkan keramaian itu untuk “menyendiri” namun orang-orang tetap saja mendatanginya di sana (Markus 1:45).
Setelah mujizat melipatgandakan makanan, orang-orang mulai berkata, “Sungguh, Dia adalah nabi yang diutus ke dunia.” Mereka kemudian siap “memaksanya untuk menjadi raja,” karena itu Yesus pergi ke bukit seorang diri (Yohanes 6:14-15).
Ia pun menjadi terkenal karena caranya mengajar. Matius mengatakan, “Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.” (Matius 7:28-29, lihat juga Lukas 4, Matius 13:54). Yesus seringkali mengajarkan orang-orang dengan menceritakan sebuah kisah yang memiliki arti secara rohani (perumpamaan; Matius 13:34). Sebagai contoh, untuk mengajarkan orang tentang pengampunan, ia menceritakan kisah tentang seorang hamba yang dihapuskan hutangnya yang besar oleh tuannya (Matius 18:21-35).
Menjelang akhir tahun pertama, Yesus memilih dua belas orang dari mereka yang telah mengikutinya (Matius 10:1, Markus 3:13, Lukas 6:12). Kedua belas orang ini menjadi pengikutnya yang paling dekat. Yesus kemudian memberikan perintah kepada mereka untuk menyampaikan pesannnya.
Muhammad juga memulai pekerjaannya dengan dua belas orang pemimpin, dan mempersiapkan mereka untuk menyebarkan Islam ke seluruh wilayah Arab. Mari kita lihat bagaimana ia melakukannya.
[1] Ibn Ishaq, hal 111, 114.
[2] Ibn Hisham, vol. 1, bagian 2, hal 91.
[3] Ibn Ishaq, hal 115.
[4] Ibid., hal 112.
[5] Ibid., hal 118.
[6] Ibid, hal 119.
[7] Ibid, hal 131.
[8] Ibid, hal 145.
[9] Ibn Hisham, vol. 1, bagian 2, hal 222ff. Ibn Ishaq, The Life of Muhammad, hal 159ff.
[10] Ibn Ishaq, hal 160.
[11] Ibid, hal 191
[12] Ibid, hal 194-195
[13] Ibid, hal 194.
[14] Ibid. hal 203. Dalam sejarah Islam, peristiwa ini menunjuk pada “Sumpah kedua Al-Aqaba.”
[15] Ibid, hal 204Respon Orang Banyak
MUHAMMAD : TIGAPULUH TAHUN PERTAMA DI MEKAH
USIA : 40 – 53 TAHUN
YESUS : SATU - DUA TAHUN PERTAMA PELAYANANNYA SAMPAI IA MENGIRIMKAN MURID-MURIDNYA BERKHOTBAH TANPANYA
Sampai pada bagian ini, baik Muhammad maupun Yesus telah menyatakan bahwa mereka dipanggil untuk menyampaikan pesan dari Tuhan kepada dunia. Mari kita lihat pada hari-hari pertama mereka berkhotbah. Kita akan terkejut melihat adanya persamaan reaksi dari orang-orang di kampung mereka, tetapi juga ada perbedaan bagaimana Yesus dan Muhammad menanggapinya.
PERMULAAN MUHAMMAD SECARA DIAM-DIAM
Isteri Muhammad, Kadijah, adalah orang pertama yang pindah agama dan memeluk Islam, diikuti oleh sepupunya yang berusia sepuluh tahun (Ali ibn Abu Talib) yang tinggal bersama mereka.[1] Orang berikutnya yang memeluk agama Islam adalah salah seorang penyembah berhala bernama Abu Bakar. Abu Bakar ini kemudian menjadi salah seorang penginjil agama Islam yang sangat berhasil, dan ia berhasil membawa dua puluh lima orang untuk memeluk agama Islam, termasuk seseorang yang bernama Al-Arqam. Rumah Al-Arqam menjadi tempat utama bagi Muhammad mengajar.[2]
Muhammad memberitahukan paman yang membesarkannya, Abu Talib, mengenai pengalamannya, dan pamannya berjanji untuk melindungi dirinya tetapi tidak mau menerima ajaran Muhammad.
Jadi, apa yang diajarkan oleh Muhammad pada saat itu? Ia memberitahukan sepupunya bahwa untuk menjadi seorang Muslim, ia harus bersaksi bahwa, “Tidak ada tuhan selain Allah saja, tanpa sekutu, dan mengingkari al-Lat dan al-Uzza (berhala), serta melepaskan saingan-saingannya.”[3] Muhammad juga mengatakan bahwa malaikat Gabriel mengajarkannya sebuah cara sembahyang yang khusus, yang diajarkannya kepada para pengikutnya.[4] Selanjutnya, Muhammad menambahkan beberapa petunjuk yang harus diikuti untuk menjadi seorang Muslim.
Pada awalnya, Muhammad dan orang-orang Muslim bersikap rendah hati. Mereka pergi ke sebuah lembah di padang gurun, di luar kota, untuk bersembahyang sehingga orang-orang tidak dapat melihat mereka.[5] Muhammad terus melakukan cara diam-diam seperti ini di Mekah selama tiga tahun.
PERMULAAN YESUS YANG DRAMATIS
Kisah tentang Yesus di dalam kitab Injil memberikan beberapa gambaran yang berbeda mengenai awal mula pekerjaannya.
Hanya dalam beberapa hari setelah dibaptis, lima orang laki-laki telah mengikuti Yesus kemanapun ia pergi.(Yohanes 1:35-40). Mereka pergi bersama-sama ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ketika mereka masuk ke bait suci, Yesus melakukan sesuatu yang membuatnya dipandang oleh pemuka-pemuka agama Yahudi seumur hidupnya. Ketika Yesus melihat orang-orang berdagang lembu, domba, dan burung merpati dan menukarkan uang, ia menjadi marah. Ia mencampakkan dan menggiring semua orang dan hewan-hewan itu keluar dari halaman bait suci sambil berteriak, “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yohanes 2:16)
Pemuka-pemuka agama mempertanyakan wewenangnya, namun mereka tidak mampu menghentikannya. Ia tinggal di Yerusalem untuk merayakan Paskah dan melakukan “tanda-tanda mujizat,” yang membuat banyak orang menjadi percaya kepadanya (Yohanes 2:23). Pemimpin-pemimpin agam Yahudi (orang-orang Farisi) mulai mengikuti perkembangan aktivitasnya (Yohanes 4:1)
Yesus mulai berbicara di sinagoga orang-orang Yahudi dan, “... tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu .... dan semua orang memuji Dia.” (Lukas 4:14-15). Setelah mengajar di beberapa kota, Yesus kembali mengajar di kampung halamannya, Nazaret, sebuah kampung kecil yang hanya berpenduduk sekitar dua ratus jiwa.
Apa yang Yesus ajarkan pada saat itu? Ketika ia berdiri mengajar di sinagoga di Nazaret, ia memegang gulungan kitab Yesaya. Ia membacakannya kepada orang-orang:
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."
-- Lukas 4:18-19 --
Ketika orang-orang menatapnya, ia mulai mengajar mereka dan berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:21).
Di hari-hari pertama di Yerusalem, Yesus telah memberitahukan kepada para pemuka agama Yauhdi bahwa Tuhan, “telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Seorang perempuan Samaria, di tepi sumur mengatakan kepada Yesus bahwa ia sedang mencari Mesias yang akan datang bagi orang-orang Yahudi, dan Yesus berkata, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” (Yohanes 4:26). Singkatnya, Yesus mengatakan bahwa ia adalah Anak Tuhan dan ia memegang kunci untuk memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan, dan akan menghasilkan hidup yang kekal. Inilah pesan yang disampaikan oleh Yesus mulai sejak saat itu sampai akhir hidupnya. (Kita akan memperbandingkan pesan yang disampaikan oleh Yesus dan Muhammad lebih rinci di dalam bab 10)
PENOLAKAN MUHAMMAD DI KAMPUNG HALAMANNYA SENDIRI
DAN OLEH PARA PEMUKA AGAMA
Muhammad menyebarkan pesannya secara diam-diam selama tiga tahun sampai ia kemudian menyatakan bahwa malaikat Gabriel memerintahkannya menyampaikan pesan tersebut kepada orang banyak (pada usia empat puluh tiga tahun). Muhammad memutuskan untuk memanggil para pemimpin suku Qurais dan memberitahukan mereka tentang ajarannya. Ada beberapa hal yang perlu diingat tentang suku Qurais: (1) keluarga Muhammad adalah bagian dari suku ini. Cabang keluarganya disebut dengan Bani Hashim. (Bani dalam bahasa Arab berarti suku). (2) Suku ini secara turun temurun bertugas untuk menjaga Ka’abah, pusat penyembahan berhala bagi bangsa Arab.
Ketika Muhammad memberitahukan mereka pesan yang ia terima, mereka menjadi marah. Mereka berkata kepada paman Muhammad, “Ya Abu Talib, keponakanmu telah mengutuki dewa-dewa kita, menghina agama kita, mengejek jalan hidup kita dan menuduh para pendahulu kita melakukan kesalahan, engkau harus menghentikannya atau kami akan menangkapnya.”[6]
Karena paman Muhammad memilih untuk melindunginya, orang-orang Mekah tidak dapat membunuh Muhammad, jadi mereka hanya mengancamnya. Sebagai contoh, mereka mengingatkan orang-orang yang berkunjung ke Mekah untuk mengabaikan Muhammad. Mereka juga menghina Muhammad ketika mereka berjalan mengelilingi Batu Hitam di Ka’abah.[7]
Para pengikut agama Islam berada dalam bahaya melebihi Muhammad sendiri. Orang-orang Qurais menekan mereka untuk meninggalkan iman mereka. Jika orang yang memeluk agama Islam itu aalah orang yang terpandang di masyarakat, mereka akan mengejeknya. Jika ia seorang pedagang, mereka mengancam untuk memboikotnya. Dan jika ia berasal dari kelas masyarakat rendah, mereka akan memukulinya.[8]
Kebanyakkan orang yang memeluk agama Islam pada saat itu berasal dari kelas rendah atau para budak. Namun, berjalan dengan waktu, dua orang yang berpengaruh bergabung dengan Muhammad, yaitu Umar dan Hamzah (salah satu paman Muhammad). Kedua orang ini secara fisik sangat kuat dan agresif, dan menakutkan bagi orang-orang Qurais. Untuk memperlemah orang-orang Islam, suku Qurais memutuskan untuk memboikot seluruh orang Islam dan seluruh kerabat Muhammad (Bani Hashim).
Mereka menandatangani sebuah perjanjian bahwa seluruh suku tidak boleh menikah dengan perempuan dari suku Hashim atau memberikan perempuan mereka untuk dinikahi. Mereka juga tidak boleh membeli atuapun menjual sesuatu kepada mereka.
Pemimpin tindakan pemboikotan ini adalah Abu Lahab, salah seorang dari paman Muhammad. Ia pergi ke pasar dan berkata kepada orang banyak, “Wahai para pedagang, naikkanlah harga barang daganganmu sedemikian rupa sehingga orang-orang Muhammad tidak dapat membeli apapun daripadamu. Jika seseorang khawatir bahwa bisnisnya akan merugi, aku punya cukup uang untuk menutupi kerugian itu.”
Muhammad menyampaikan wahyu dari malaikat Gabriel mengenai orang itu (Surat 111). Beberapa saat kemudian, Muhammad dan orang-orang Islam itu pergi meninggalkan kota dan tinggal di lembah gurun yang berdekatan. Mereka mulai putus asa. Ketika seorang Muslim pergi ke kota untuk membeli makanan bagi keluarganya, para pedagang memintanya membayar harga dua, tiga bahkan empat kali lipat lebih mahal dari harga normal. Ia tidak dapat membayar, sehingga ia kembali lagi tanpa membawa apa-apa bagi keluarganya.
Sejarah Islam mengatakan bahwa para pengikut Muhammad menjadi sangat lapar sehingga mereka memakan kotoran binatang dan daun-daunan. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan Tahun Kelaparan.
Bayangkan, Muhammad dan isterinya, yang pernah menjadi orang terkaya, perempuan paling terpandang di kota Mekah, menjadi pelarian di gurun pasir, tanpa bisa membeli makanan. Mereka mungkin juga membawa anak-anak mereka yang masih kecil bersama mereka. Mereka bertahan hidup dengan adanya simpanan makanan yang diberikan secara diam-diam oleh orang-orang yang simpatik dan teman-teman mereka.[9]
Selama masa itu, Muhammad terus berbicara tentang wahyu yang berasal dari malaikat Gabriel. Ayat-ayat ini dikumpulkan dan menjadi bagian buku yang dikenal dengan nama Al Quran. Wahyu-wahyu ini seringkali berisi makian terhadap mereka yang menganiaya dirinya.
PENOLAKAN YESUS DI KAMPUNG HALAMANNYA SENDIRI
DAN OLEH PARA PEMUKA AGAMA
Kita telah melihat bagaimana orang-orang sekampung Muhammad menolaknya. Sekarang mari kita lihat di Nazaret, sebuah kota kecil, tempat di mana Yesus dibesarkan. Anda telah membaca tentang bagaimana Yesus berdiri di sinagoga di Nazaret membaca Kitab Suci. Sekarang mari kita lihat bagaimana reaksi orang-orang.
Setelah Yesus membaca kitab Yesaya, ia kemudian mengajar. Ia berbicara tentang bagaimana orang-orang di kampungnya, di Nazaret, menginginkannya membuat mujizat sama seperti yang telah dilakukannya di Kapernaum. “Aku memberitakan kepadamu kebenaran,” katanya, “seorang nabi tidak akan diterima di tempat asalnya.” Kemudian ia mengingatkan mereka tentang nabi-nabi Perjanjian Lama yang diutus dari Israel untuk menolong orang-orang yang bukan Yahudi. Ucapan ini membuat orang-orang di sinagoga menjadi sangat marah. Mereka lalu membawa Yesus ke dekat sebuah terbing yang curam, untuk melemparkannya dari tepi jurang. Tetapi Yesus berjalan melewati orang banyak dan pergi (Lukas 4:14-30).
Sebagai tambahan, Yesus juga ditolak di kota-kota lainnya dan beberapa kelompok masyarakat. Yesus melakukan banyak mujizat di kota-kota lain di Galilea, namaun mereka menolak pesan dari Yesus (Kapernaum, Matius 11:23; Korazin dan Bethsaida, Lukas 10:13). Pesan yang disampaikan oleh Yesus membuat marah para pemuka agama Yahudi, sama seperti pesan Muhammad yang membuat marah para pemimpin penyembah berhala di Mekah.
Para pemimpin agama ketika kemudian berusaha untuk membunuh Yesus tetapi mereka melakukannya dengan cara yang berbeda. Mereka tidak secara langsung membunuh Yesus, melainkan mencari cara untuk membuatnya melanggar hukum sehingga mereka dapat secara sah menghukum mati Yesus. Sebagai contoh, jika ia terbukti mengumpat, hukum orang Yahudi mengijinkan ia untuk dibunuh. Jika ia terbukti melakukan pengkhianatan terhadap pemerintah Roma, ia juga harus dibunuh (Matius 22:15)
Di depan orang-orang yang menolak dia, Yesus tetap menyampaikan sudut pandangnya dan terus bergerak (Lukas 9:51-56). Jika kita lebih lanjut melihat kehidupan Yesus dan Muhammad, kita akan melihat bahwa reaksi Muhammad terhadap penolakan dirinya sangat berbeda. Mari kita lihat bagaimana Muhammad bisa pulih dari tindakan boikot orang-orang di sukunya.
PENCABUTAN BOIKOT / MUHAMMAD MENCARI PERLINDUNGAN
Setelah dua atau tiga tahun, tanpa intervensi secara langsung dari Muhammad, para pemimpin Qurais memutuskan untuk mencabut boikot. Para pemimpin itu memutuskan bahwa tidaklah baik memperlakukan kerabat mereka sendiri dengan cara buruk seperti itu, dan karena itu mereka merobek perjanjian yang ada. Muhammad dan orang-orangnya kembali ke Mekah dan melanjutkan praktek agama Islam di sana, meski tetap mengalami beberapa penghinaan.[10]
Muhammad menyampaikan pesannya dengan memberitahukan orang-orang bahwa mereka harus meninggalkan berhala mereka, menerima Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang benar dan menerima Muhammad sebagai rasul Allah. Ia juga akan mengutip ayat-ayat Al Quran untuk orang-orang tersebut. Ketika orang-orang meminta tanda, ia menjawab, “Al Quran adalah tanda bagimu” (Surat 29:50-51).
Peristiwa dalam beberapa tahun kemudian menunjukkan bahwa Muhammad kemudian mengembangkan sebuah strategi baru untuk memantapkan agama Islam dan melindungi dirinya sendiri.
Dalam satu, dua tahun berikutnya, dua orang yang paling berpengaruh dalam hidup Muhammad, meninggal dunia – pamannya, Abu Talib, yang melindunginya dari musuh-musuhnya, dan isterinya yang memberikan dukungan moral (tahun 620 M). Muhammad berusia lima puluh tahun. Sejarah Islam mengatakan bahwa suku Qurais mulai mengancamnya, “dengan cara yang lebih menakutkan.” Sebagai contoh, ada seorang “pemuda yang tidak sopan yang melemparkan debu ke atas kepalanya”.[11] Meski demikian, tidak ada serangan secara fisik, seperti memukul, upaya pembunuhan, atau apapun yang seperti itu. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa Muhammad merasa terancam karena itu ia mencari orang atau suku lain yang dapat melindunginya. (Para pengikutnya juga mencari pelindung bagi diri mereka). Sejarah agama Islam mengatakan bahwa ia pergi keluar Mekah kepada orang-orang Thaqif, kediaman suku Kinda, suka Kalb tetapi ditolak oleh mereka semua.[12]
Ketika pemimpin-pemimpin suku datang ke Mekah, Muhammad menemui mereka. Ia memberitahukan mereka bahwa ia adalah seorang nabi dan meminta mereka untuk percaya kepadanya dan melindunginya sampai Allah selesai menyampaikan wahyunya kepada mereka melalui hambanya.”[13]
Selain dari penganut agama Islam yang berasal dari kelas ekonomi bawah di Mekah, usaha Muhammad tampaknya menemui keberhasilan. Ia akhirnya memperoleh kesempatan melalui perang-perang panjang antara dua suku yang berdekatan di kota Medina, Aous dan Khazraj. Kedua suku ini datang ke Ka’abah di Mekah untuk naik haji dan menyembah berhala-berhala mereka. Setelah mereka selesai menyembah, beberapa perwakilan mereka bertemu dengan Muhammad pada malam hari di Al-Aqaba. Muhammad berkata kepada mereka, “Aku mengundang orang-orang yang setia kepadamu dengan harapan engkau akan melindungi aku sama seperti para perempuan dan anak-anakmu.” Salah satu dari pemimpin itu lalu menjawab:
“Aku bersumpah demi nama ia yang mengutusmu dengan kebenaran, kami akan melindungimu sama seperti kami melindungi keluarga kami. Tanda-tangani perjanjian ini dengan kami, wahai rasul Allah. Aku bersumpah, kami adalah anak-anak perang (kami tahu bagaimana mengalahkanmu). Kami mewariskan itu dari generasi ke generasi.”[14]
Jadi kita melihat orang-orang yang telah sering berperang mengadakan sumpah setia kepada Muhammad. Muhammad jelas membuat perjanjian militer dengan suku-sukku itu. Ia berkata kepada mereka, “Aku akan berperang dengan mereka yang berperang denganmu dan berdamai dengan orang yang berdamai denganmu.”[15]
Pada bagian ini, kita melihat kemiripan yang ironis dengan Yesus. Muhammad berkata kepada orang-orang yang ia temui, “Bawalah kepadaku dua belas orang yang akan mengurus hubungan di antara mereka.” Mereka mendapatkan sembilan orang dari suku-suku mereka dan tiga orang dari suku lain. Jadi Muhammad memilih dua belas orang inti untuk berjalan bersamanya, sama seperti Yesus memanggil duabelas orang rasul untuk berjalan bersamanya.
Sampai di sini, Muhammad telah menghabiskan waktu selama tiga belas tahum berkhotbah tentang Islam. Saat itu ia sudah mulai membuat persiapan untuk mengadakan perubahan besar.
Sekarang mari kita bandingkan gambaran dari hidup Muhammad dengan bagaimana cara Yesus menyampaikan pesan-pesannya.
KHOTBAH YESUS DAN KESEMBUHAN
Kita telah melihat perkembangan mulai dari pertengahan pertama kehidupan Muhammad sebagai seorang nabi, dan sekarang kita akan memperhatikan pertengahan pertama pelayanan Yesus. Maksud kami adalah satu dua tahun pertama yang telah ia habiskan untuk mengajar orang-orang dan melatih murid-muridnya sebelum ia mengirim mereka untuk berkhotbah sendiri.
Jadi, bagaimana Yesus menyampaikan pesannya? Ia berjalan dari kota ke kota di sekitar Galilea dan Yudea dan berkhotbah. Bagaimana ia membujuk orang-orang untuk percaya kepadanya? Ia menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir setan dan melakukan keajaiban-keajaiban terhadap alam.
Sebagai contoh, pada awal pelayanannya, ia mengusir setan keluar dari orang yang mengganggu pelayanannya di sinagoga di Kapernaum (Lukas 4:33). Kemudian Yesus pergi ke rumah Petrus dan menyembuhkan ibu mertua Petrus, yang sedang demam tinggi. Kemudian orang banyak berkumpul di rumah itu sampai malam hari. Mereka membawa kepada Yesus semua orang yang menderita berbagai macam penyakit, dan Yesus menyembuhan mereka dengan cara “menumpangkan tangan atas setiap orang” (Lukas 4:40).
Kegiatan ini membuat orang-orang meresponi Yesus dengan antusias ke manapun ia pergi. Orang-orang membawa kepadanya, “semua orang yang menderita penyakit, kerasukan setan, yang lumpuh dan menyembuhkan mereka” (Matius 4:24). Seseorang yang telah disembuhkan dari sakit kusta memberitakan kabar ini dengan sangat efektif sehingga Yesus tidak dapat pergi ke kota-kota lainnya dengan mudah karena kerumunan orang banyak. Ia kemudian meninggalkan keramaian itu untuk “menyendiri” namun orang-orang tetap saja mendatanginya di sana (Markus 1:45).
Setelah mujizat melipatgandakan makanan, orang-orang mulai berkata, “Sungguh, Dia adalah nabi yang diutus ke dunia.” Mereka kemudian siap “memaksanya untuk menjadi raja,” karena itu Yesus pergi ke bukit seorang diri (Yohanes 6:14-15).
Ia pun menjadi terkenal karena caranya mengajar. Matius mengatakan, “Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.” (Matius 7:28-29, lihat juga Lukas 4, Matius 13:54). Yesus seringkali mengajarkan orang-orang dengan menceritakan sebuah kisah yang memiliki arti secara rohani (perumpamaan; Matius 13:34). Sebagai contoh, untuk mengajarkan orang tentang pengampunan, ia menceritakan kisah tentang seorang hamba yang dihapuskan hutangnya yang besar oleh tuannya (Matius 18:21-35).
Menjelang akhir tahun pertama, Yesus memilih dua belas orang dari mereka yang telah mengikutinya (Matius 10:1, Markus 3:13, Lukas 6:12). Kedua belas orang ini menjadi pengikutnya yang paling dekat. Yesus kemudian memberikan perintah kepada mereka untuk menyampaikan pesannnya.
Muhammad juga memulai pekerjaannya dengan dua belas orang pemimpin, dan mempersiapkan mereka untuk menyebarkan Islam ke seluruh wilayah Arab. Mari kita lihat bagaimana ia melakukannya.
[1] Ibn Ishaq, hal 111, 114.
[2] Ibn Hisham, vol. 1, bagian 2, hal 91.
[3] Ibn Ishaq, hal 115.
[4] Ibid., hal 112.
[5] Ibid., hal 118.
[6] Ibid, hal 119.
[7] Ibid, hal 131.
[8] Ibid, hal 145.
[9] Ibn Hisham, vol. 1, bagian 2, hal 222ff. Ibn Ishaq, The Life of Muhammad, hal 159ff.
[10] Ibn Ishaq, hal 160.
[11] Ibid, hal 191
[12] Ibid, hal 194-195
[13] Ibid, hal 194.
[14] Ibid. hal 203. Dalam sejarah Islam, peristiwa ini menunjuk pada “Sumpah kedua Al-Aqaba.”
[15] Ibid, hal 204
Senin, 10 Agustus 2009
7. MEMBERITAKAN PESAN
MUHAMMAD : TUJUH TAHUN PERTAMA DI MEDINA
USIA : 53-60 TAHUN
YESUS : AKHIR SATU SAMPAI DUA TAHUN PELAYANANNYA SAMPAI PERJALANAN AKHIR DI YERUSALEM
USIA : 34 – 35 TAHUN.
Cara Yesus menjalankan pelayanannya tetap sama mulai dari awal sampai pada akhirnya. Namun dalam kehidupan Muhammad, ada beberapa peristiwa yang menandai perubahan besar. Salah satunya adalah perjalanan dari Mekah ke Medinah yang dikenal dengan hijrah. Pada bab ini kita akan melihat apa yang terjadi setelah kepindahan Muhammad dan bagaimana ia bekerja dengan dua belas orang pemimpin yang menyebarkan Islam. Kita juga akan melihat bagaimana Yesus bekerja dengan keduabelas muridnya dalam menyebarluaskan pesannya.
Kita juga akan melihat sebuah alur cerita yang mempengaruhi kehidupan mereka – yaitu penentangan yang mereka terima dari masyarakat Yahudi atau kelompok agama pada saat itu.
TENTARA MUHAMMAD DALAM PENYEBARAN ISLAM
Pada bab sebelumnya, kita mengetahui kisah Muhammad yang membuat perjanjian dengan dua suku terkuat di Medina. Dalam bab ini, kita akan melihat bahwa ia mulai mengirimkan para pengikutnya dalam kelompok-kelompok kecil dari Mekah untuk tinggal di Medinah. Hal ini memakan waktu beberapa bulan.
Kesedihan Muhammad atas Mekah
Ketika Muhammad telah siap pindah dari Mekah ke Medinah, ia pergi ke puncak gunung yang dapat melihat Mekah dari atasnya, dan berkata, “Oh Mekah, aku bersumpah, kamu adalah kota yang paling dekat dengan hatiku, dan kalau bukan karena pendudukmu yang mengusir aku, aku tidak akan meninggalkanmu.”[1]
Dengan kata lain, Muhammad mengatakan betapa ia sangat mencintai Mekah. Ingatlah kata-kata Muhammad, karena kita akan kembali mengunjungi kota ini setelah ia kembali ke Mekah, delapan tahun kemudian.
Setelah itu, Muhammad dan salah seorang pengikutnya yang sejati, Abu Bakar, meninggalkan Mekah pada malam hari dan tiba di Medinah dengan selamat. Hal ini dikenal dengan hijrah kedua, atau naik haji.[2] Kalender Islam menandai tanggalannya dimulai dari tahun hijrah ini. Oleh karena itu, tahun 5 Hijrah, berarti lima tahun setelah setelah kepindahan Muhammad ke Medinah.
Setelah beberapa tahun mencari perlindungan, Muhammad sekarang berada dalam posisi yang aman. Lalu apa yang ia lakukan?
Ijin untuk berperang
Di Mekah, Muhammad menghabiskan waktu tiga belas tahun untuk bekerjasama dan bertoleransi, tanpa menggunakan kekerasan. Ia seringkali mengampuni orang-orang yang menyakitinya dan tidak mencoba untuk membalas dendam. Setelah ia pindah ke Medinah, anak domba yang lemah lembut ini berubah menjadi singa yang mengaum.
Sebelum berakhir satu tahun pertamanya di Medinah, Muhammad mengumumkan bahwa Allah telah memberikannya ijin untuk berperang. Sejarah Islam mencatat:
“Kemudian rasul Allah mempersiapkan diri untuk berperang dalam melaksanakan perintah Allah, memerangi musuh-musuhnya dan mereka yang menyembah banyak tuhan, yang berada di dekatnya dan yang Tuhan perintahkan untuk diperanginya. Ini adalah tahun ke tiga belas setelah panggilannya.”[3]
Selama tahun-tahun pertamanya di Medinah, Muhammad melakukan sendiri beberapa perampasan, tetapi ia juga mengirim kerabat atau pengikut setianya untuk melakukan perampasan. Ini termasuk juga mengirimkan pamannya, Hamzah, dengan tiga puluh tentara untuk melakukan serangan mendadak terhadap sebuah kereta dari Mekah dan mengirim sepupunya untuk menyerang beberapa orang suku Qurais, ketika mereka pergi keluar dari Mekah.[4]
Orang-orang Mekah tidak mengorganisir satupun serangan berskala besar terhadap Muhammad setelah ia meninggalkan Mekah. Namun, Muhammad memerintahkan sebuah serangan besar terhadap kereta dari Mekah yang akan pergi ke Siria atau kembali ke Mekah. Ini adalah sebuah titik balik besar dalam sejarah Islam.
Serangan ini lebih dari sekedar kepentingan ekonomi, ini adalah serangan terhadap pertahanan Mekah. Kereta-kereta ini hanya keluar dari Mekah dua kali dalam setahun. Mereka kembali dengan membawa makanan, gula, garam, dan pakaian yang dibutuhkan oleh orang-orang untuk bertahan hidup. Mekah adalah padang pasir yang tidak dapat menghasilkan cukup banyak makanan, jadi mereka benar-benar bergantung pada hasil perdagangan. Jika Muhammad berhasil melakukan penyerangan terhadap kereta-kereta dagang tersebut, maka Mekah akan mengalami penderitaan kelaparan.
Sampai suatu hari, pemimpin dari sebuah kereta, Abu Sufyan, mendengar tentang kisah Muhammad ini dan karenanya menghindari tempat di mana Muhammad sedang menunggu untuk merampok. (Ingatlah orang ini karena ia akan menjadi bagian dari kisah Muhammad lainnya nanti). Orang-orang dari Mekah kemudian memutuskan agar Muhammad diberikan hukuman atas maksudnya itu. Mereka ingin berperang dengannya, dan dua kelompok bertemu di lembah Badar. Muhammad hanya membawa sekitar tiga ratus orang bersamanya, tetapi mereka memenangkan peperangan dan membunuh banyak penduduk Mekah (Perang Badar, tahun 624 M, 2 H).[5] Hal ini menjadikan Muhammad sebagai pemimpin terbesar di Arab. (Walaupun ia telah mengalahkan musuh-musuh mereka, namun kota Mekah tetap berada di bawah kepemimpinan suku Qurais pada saat itu.)
Perang Badar dianggap sebagai perang suci oleh semua orang. Muhammad mengatakan bahwa malaikat Gabriel datang kepadanya dengan memberikan wahyu bagaimana mencapai kemenangan mereka. Ini adalah surat ke 8 dalam Al-Quran, yang dinamakan, “Rampasan Perang.” Bab ini berbicara tentang peperangan dan memberikan beberapa instruksi praktis. Mari kita lihat empat hal penting dalam hal ini:
1. Wahyu tersebut mengatakan kepada umat Islam bagaimana membagi barang-barang yang mereka rampas dari pasukan yang kalah perang.
“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan para pelancong.”
-- Surat 8:41 – Terjemahan Ali
Dengan kata lain, Muhammad memperoleh 20% (bagian yang akan ia distribusikan kepada orang-orang miskin) dan sisanya 80% dibagi di antara orang-orang yang ikut berperang dengannya. Ini kedengarannya sangat baik ketika tentara Anda hanya berjumlah tiga ratus orang, tetapi kemudian tentara Muhamad bertambah menjadi sepuluh ribu orang. Dengan jumlah tentara sebesar itu, maka setiap orang hanya mendapat 0,008% dibandingkan Muhammad yang 20%. Ini menyebabkan timbul keluhan di antara para tentara.
2. Wahyu kemudian memerintahkan umat Islam untuk terus memerangi siapapun yang menolak Islam.
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (orang-orang yang tidak percaya dan menyembah banyak tuhan, atau menyembah yang lain selain Allah), dan supaya agama itu (menyembah) semata-mata untuk Allah (di seluruh dunia).”
-- Surat 8:41 --
“Hai nabi (Muhammad), kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh .... karena mereka (orang-orang kafir) itu adalah kaum yang tidak mengerti.”
-- Surat 8:65 --
Jadi, cara paling aman dari serangan tentara Muhammad adalah dengan menerima Islam.
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, jika mereka berhenti (dari kekafirannya) niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku kepada mereka sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.”
-- Surat 8:65 --
3. Wahyu ini memberitahukan umat Islam untuk bersiap-siap menghadapi misi berikutnya.
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang ... untuk menggentarkan musuh Allah dan musuhmu. ”
-- Surat 8:60 --
4. Wahyu ini memerintahkan mereka untuk berperang dengan keras.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya (baik dengan lidah maupun dalam pikiran) agar kamu beruntung.”
-- Surat 8:45 --
Muhammad mengajarkan bahwa misinya untuk menyebarluaskan Islam adalah dengan menggunakan perang suci. Ia memberikan otoritas kepada para pengikutnya untuk menyerang orang-orang yang tidak percaya dan merampasi barang-barang mereka.
UPAYA PENDUDUK MEKAH MENGHENTIKAN MUHAMMAD
Seluruh tanah Arab merasa terancam oleh Muhammad. Di tahun 5 H, beberapa penyembah berhala dari Mekah kemudian bergabung dengan orang-orang Yahudi di Medinah untuk menyerang Muhammad. Umat Islam lalu menggali parit di sekitar kota Medinah dan berhasil menakut-nakuti orang-orang Mekah, yang kemudian menarik diri untuk mundur. Tidak terjadi perang pada saat itu. Dikenal sebagai Perang Parit, peristiwa ini sangat penting bagi sejarah Islam karena jika Muhammad menderita kekalahan, maka masa depan Islam akan terancam.
Demikianlah, Muhammad terus melanjutkan penyebaran Islam dengan cara militer. Ia sendiri ditemani oleh para pejuang dalam dua puluh tujuh perampokan, dan sembilan diantaranya ia lakukan sendiri. Umat Islam melakukan tiga puluh delapan perampokan dan perjalanan sementara Muhammad sendiri tinggal di Medinah.[6]
Muhammad terus menyampaikan wahyu dari malaikat Gabriel sepanjang waktu tersebut. Pesan-pesan ini dikumpulkan dan ditambahkan ke dalam Al Quran, seperti biasanya. Wahyu yang baru ini mengijinkan penyebaran Islam dengan cara kekerasan. Sekarang, mari kita lihat Yesus pada akhir perjalanan hidupnya dan bagaimana ia memerintahkan para murid untuk memberitakan pesannya.
YESUS MENGUTUS MURID-MURIDNYA UNTUK
MEMBERITAKAN INJIL
Tidak seperti Muhammad, yang berubah secara drastis setelah pindah ke Medinah, Yesus tidak merubah pesan maupun cara menyampaikan pesan tersebut. Ketika ia memasuki tahun ketiga pelayanannya, ia terus berkeliling, berkhotbah di sinagoga atau tempat-tempat umum, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dan melakukan berbagai mujizat. Orang banyak tertarik kepadanya dan pemuka-pemuka agama merasa terancam dengan kehadirannya. Dalam keadaan seperti ini, ia memberikan perintah kepada keduabelas muridnya untuk pergi memberitakan Injil tanpanya. Ia kemudian memanggil kelompok yang lebih besar lagi yang terdiri dari tujuh puluh dua orang untuk melakukan hal yang sama. Mari kita lihat secara rinci apa yang ia katakan kepada mereka.
Perintah untuk berkeliling
Ketika saya menyampaikan pesan Yesus kepada murid-muridnya, saya akan membandingkannya dengan instruksi yang disampaikan Muhammad kepada para pengikutnya.
1. Muhammad memberikan otoritas kepada pengikutnya untuk melakukan perang, tetapi Yesus memberi perintah yang berbeda kepada murid-muridnya. Kitab Matius mengatakan:
“Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.”
-- Matius 10:1 --
Setelah memberikan mereka kuasa, Yesus memerintahkan para pengikutnya untuk:
“Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan.”
-- Matius 10:8 --
2. Muhammad memberikan perintah kepada pengikutnya tentang bagaimana membagi barang rampasan dari orang-orang kafir. Yesus melarang para muridnya untuk membawa uang atau menerima uang dari orang-orang..
“Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.”
--- Matius 10:8-9 –
Tetapi Yesus mengijinkan para pengikutnya untuk menumpang di rumah orang dan makan bersama mereka.
“Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.”
--- Lukas 10:7 –
3. Jika sebuah kota menolak Islam, Muhammad memerintahkan umat Islam untuk menyerangnya. Tetapi Yesus berkata:
“Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”
--- Matius 10:14-15 –
Dengan kata lain, Yesus berkata bahwa kota yang menolak pesannya akan dihukum oleh Tuhan pada hari Penghakiman, bukan oleh para murid di saat ini.
Sama seperti yang dilakukan dalam hidupnya, Yesus memberitahu para pengikutnya untuk menjauhi mereka yang menentang.
“Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain”
--- Matius 10:23 –
4. Muhammad memerintahkan orang-orangnya untuk memerangi orang-orang kafir. Yesus malah berkata kepada para pengikutnya untuk waspada terhadap orang-orang tidak percaya yang akan menganiaya mereka. Ia berkata, mereka akan dijual, ditangkap, dan dipenjarakan (Matius 10:16-19).
Para murid mengikuti perintah Yesus.
“Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.”
--- Markus 6:12-13 –
KONFLIK DENGAN ORANG-ORANG YAHUDI
Ada alur cerita utama dalam kehidupan Yesus dan Muhammad – yaitu konflik mereka dengan orang-orang atau pemuka-pemuka agama Yahudi. Kebanyakan interaksi Muhammad dengan orang-orang Yahudi terjadi ketika ia masih di Medinah, karena di Mekah hanya terdapat sedikit orang Yahudi. Sementara Yesus, yang adalah juga orang Yahudi, berinteraksi dengan orang-orang Yahudi seumur hidupnya. Meskpun ia mengalami konflik dengan pemuka-pemuka agama Yahudi. Mari kita lihat bersama apa yang terjadi dalam hidup Muhammad.
Konflik Muhammad dengan orang Yahudi
Komunitas Yahudi terbesar di Arab terdapat di Medinah. Setelah Muhammad pindah ke kota ini, ia berinteraksi dengan orang-orang Yahudi setiap hari. Ia berdagang dengan mereka, mengunjungi rumah mereka dan makan bersama mereka.
Muhammad berharap orang-orang Yahudi dapat menerima Islam karena ia mengajarkan hanya ada satu Tuhan, sama seperti yang diyakini oleh orang Yahudi. Namun orang-orang Yahudi tidak terkesan dengan ajaran Muhammad. Mereka meminta tanda kalau ia benar-benar seorang nabi. Al-Quran menulis:
“Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mujizat-mujizat dari tuhannya?”
--- Surat 29:50 –
Muhammad menjawab, bahwa ia hanya seorang manusia, seorang pemberi peringatan, dan Al-Quran itu sendirilah yang menjadi satu-satunya tanda yang dibutuhkan oleh orang-orang.
“Katakanlah, “Sesungguhnya tanda-tanda itu hanya dari Allah, dan aku hanyakah seorang pemberi peringatan yang nyata.” Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa kami telah menurunkan kepadamu Alkitab (Al Quran) yang dibacakan kepada mereka.”
--- Surat 29:50-51 –
Muhammad berdebat dengan orang-orang Yahudi selama tiga tahun. Kemudian yang mengejutkan mereka adalah ia memerintahkan untuk membunuh setiap orang Yahudi yang ketahuan mengritiknya dengan puisi (3 H). Seperti inilah peristiwa itu terjadi.
Dalam sebuah pertemuan dengan beberapa pengikutnya, Muhammad bertanya, “Siapakah yang akan membunuh orang itu bagiku?” Beberapa orang Islam bersedia. Pada suatu malam, mereka pergi ke rumah orang itu dan mengajaknya berjalan-jalan. Setelah mereka berjalan dan berbincang-bincang sebentar, seorang Islam memberikan sebuah tanda, dan mereka menyerang mereka dengan pedang dan pisau belati, menikamnya sampai mati.[7]
Perilaku Muhammad terhadap orang-orang Yahudi telah berubah. Ia memerintahkan pembunuhan yang lain, dan karena mereka menolak untuk menerima Islam dan itu menjadi ancaman baginya, ia secara sistematis berusaha mengusir mereka dari wilayah Arab.
Pertama, ia menyerang Bani Nadir (suku Nadir, pada 4 H). Ia mematahkan lengan mereka dan memaksa mereka untuk meninggalkan tempat itu. Dua tahun kemudian ia merampok kampung Bani Qurayzah (Kor-AY-zuh). Ia mengepung mereka. Setelah mereka menyerah, ia membunuh semua laki-laki (kurang lebih enam ratus orang) dan membawa wanita dan anak-anak menjadi budak (5 H).[8] Dan akhirnya ia membawa orang-orang Yahudi keluar dari Khaybar (7 H) kampung orang Yahudi di dekat Madinah.
Muhammad menghidupi diriya dan keluarganya dengan barang-barang yang ia rampas dari orang-orang Yahudi di Khaybar.
“Telah diceritakan atas nama Umar, yang berkata, “Barang-barang milik Bani Nadir adalah salah satu hadiah yang diberikan Allah kepada rasulnya, karena tidak ada perjalanan yang dilakukan, baik dengan menggunakan pasukan berkuda ataupun pasukan berunta. Barang-barang ini dikhususkan bagi Rasul Kudus. Ia akan memenuhi kebutuhan keluarganya dari penghasilan ini dan menggunakan sisanya untuk membeli kuda dan senjata yang dipersiapkan untuk jihad.”[9]
Muhammad tidak mentolerir kritikan dari orang-orang Yahudi dan dia tidak mengijinkan mereka hidup dalam damai karena takut mereka akan bergabung dengan musuh-musuhnya untuk berperang dengannya.
Pertemuan Yesus dengan pemuka agama Yahudi
Enam ratus tahun sebelum zaman Muhammad, orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, juga mengritik sebuah pesan baru. “ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal.” (Lukas 11:53).
Sama seperti yang mereka lakukan terhadap Muhammad, orang-orang Yahudi meminta tanda dari Yesus.
“Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.”
-- Matius 12:38-40 --
Yesus menggunakan “tanda Yunus” untuk mengatakan bahwa ia akan mati dan tinggal di dalam kubur selama tiga hari sebelum akhirnya ia bangkit hidup kembali.
Yesus juga menawarkan kuasa kesembuhan dan tanda-tanda mujizat sebagai tanda bahwa ia memiliki kuasa Ilahi. Ketika Yesus mengajar murid-muridnya, ia berkata, “Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.” (Yohanes 14:11; lihat juga Matius 9:2-7).
Yesus menunjukkan rasa kesal dan marah kepada pemuka-pemuka agama Yahudi. Injil mencatat, beberapa kali ia bersuara keras menentang mereka (Matius 23, Markus 7:1-23; Yohanes 8:42-59). Ia juga menggunakan perumpamaan untuk memprotes tindakan mereka (Matius 21:28-46; 22:1-14). Namun, ia tidak berusaha untuk melukai satupun di antara mereka secara fisik.
Kita telah melihat apa yang diperbuat oleh Yesus dan Muhammad dalam setengah putaran kedua pelayanan mereka, sekarang mari kita melihat kehidupan pribadi mereka.
KEHIDUPAN PRIBADI
Setelah Muhammad pindah ke Madinah, kehidupan pribadinya berubah secara signifikan. Ketika di Mekah, ia tetap menikah dengan satu orang isteri, Kadijah, yang meninggal setelah dua puluh lima tahun pernikahan. Selama tahun pertama di Madinah, Muhammad menandatangani kontrak kawin dengan anak perempuan salah satu pengikut setianya, Abu Bakar. Hal ini tidak tampak aneh, kecuali bahwa anak perempuan itu masih berusia enam tahun.[10]
Sejarah Islam mengatakan bahwa Muhammad tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan bernama Aisah itu, sampai ia berusia sembilan tahun, tetapi pengaturan ini sangatlah tidak biasa, bahkan dalam masyarakat Arab sekalipun. Ia tetap menikah dengan Muhammad sampai ia meninggal, dan pada saat itu Aisah baru berusia delapan belas tahun. Meski demikian, Aisah bukanlah satu-satunya isteri Muhammad. Muhammad menikahi sebelas perempuan lainnya selama ia berada di Madinah. Muhammad menghabiskan banyak tenaga untuk mengurusi isteri-isterinya. (Saya menjelaskan dampak dari isteri-isterinya ini secara rinci dalam bab 16)
Sebaliknya, kami tidak mempunyai catatan bahwa Yesus pernah menikah. Ia menghabiskan waktunya dengan para muridnya dan terutama dengan tiga orang yang terdekat di antara mereka, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes (Matius 17:1, Markus 5:37, 14:33). Ia memelihara hubungan baik dengan ibunya dan saudara-saudaranya dan ia juga memiliki hubungan akrab dengan Maria, Marta dan saudara mereka, Lazarus. Sekelompok kecil perempuan berjalan mengikuti Yesus dan membantunya. (Lihat bab 16 untuk informasi lebih jelas)
KESIMPULAN
Kita sekarang sudah mendekati akhir dari hidup baik Yesus maupun Muhammad. Bab berikutnya dari buku ini akan melihat tiga tahun terakhir dari kehidupan Muhammad (usia 61-63 tahun) dan beberapa bulan terakhir dalam kehidupan Yesus (usia sekitar 35 – 36 tahun).
[1] Ibn Kathir, The Beginning and the End, vol. 2, bagian 3, hal 215.
[2] Ibn Ishaq, hal. 324 ff.
[3] Ibid. hal 280.
[4] Ibid, hal 281 – 286.
[5] Ibid, hal 297.
[6] Ibid, hal 257
[7] Ibid, hal 659-660
[8] Ibid, hal 368.
[9] The Correct Books of Bukhari, vol. 5, buku 59, no. 447.
[10] The Correct Books of Muslim, buku 19, no. 4347.
USIA : 53-60 TAHUN
YESUS : AKHIR SATU SAMPAI DUA TAHUN PELAYANANNYA SAMPAI PERJALANAN AKHIR DI YERUSALEM
USIA : 34 – 35 TAHUN.
Cara Yesus menjalankan pelayanannya tetap sama mulai dari awal sampai pada akhirnya. Namun dalam kehidupan Muhammad, ada beberapa peristiwa yang menandai perubahan besar. Salah satunya adalah perjalanan dari Mekah ke Medinah yang dikenal dengan hijrah. Pada bab ini kita akan melihat apa yang terjadi setelah kepindahan Muhammad dan bagaimana ia bekerja dengan dua belas orang pemimpin yang menyebarkan Islam. Kita juga akan melihat bagaimana Yesus bekerja dengan keduabelas muridnya dalam menyebarluaskan pesannya.
Kita juga akan melihat sebuah alur cerita yang mempengaruhi kehidupan mereka – yaitu penentangan yang mereka terima dari masyarakat Yahudi atau kelompok agama pada saat itu.
TENTARA MUHAMMAD DALAM PENYEBARAN ISLAM
Pada bab sebelumnya, kita mengetahui kisah Muhammad yang membuat perjanjian dengan dua suku terkuat di Medina. Dalam bab ini, kita akan melihat bahwa ia mulai mengirimkan para pengikutnya dalam kelompok-kelompok kecil dari Mekah untuk tinggal di Medinah. Hal ini memakan waktu beberapa bulan.
Kesedihan Muhammad atas Mekah
Ketika Muhammad telah siap pindah dari Mekah ke Medinah, ia pergi ke puncak gunung yang dapat melihat Mekah dari atasnya, dan berkata, “Oh Mekah, aku bersumpah, kamu adalah kota yang paling dekat dengan hatiku, dan kalau bukan karena pendudukmu yang mengusir aku, aku tidak akan meninggalkanmu.”[1]
Dengan kata lain, Muhammad mengatakan betapa ia sangat mencintai Mekah. Ingatlah kata-kata Muhammad, karena kita akan kembali mengunjungi kota ini setelah ia kembali ke Mekah, delapan tahun kemudian.
Setelah itu, Muhammad dan salah seorang pengikutnya yang sejati, Abu Bakar, meninggalkan Mekah pada malam hari dan tiba di Medinah dengan selamat. Hal ini dikenal dengan hijrah kedua, atau naik haji.[2] Kalender Islam menandai tanggalannya dimulai dari tahun hijrah ini. Oleh karena itu, tahun 5 Hijrah, berarti lima tahun setelah setelah kepindahan Muhammad ke Medinah.
Setelah beberapa tahun mencari perlindungan, Muhammad sekarang berada dalam posisi yang aman. Lalu apa yang ia lakukan?
Ijin untuk berperang
Di Mekah, Muhammad menghabiskan waktu tiga belas tahun untuk bekerjasama dan bertoleransi, tanpa menggunakan kekerasan. Ia seringkali mengampuni orang-orang yang menyakitinya dan tidak mencoba untuk membalas dendam. Setelah ia pindah ke Medinah, anak domba yang lemah lembut ini berubah menjadi singa yang mengaum.
Sebelum berakhir satu tahun pertamanya di Medinah, Muhammad mengumumkan bahwa Allah telah memberikannya ijin untuk berperang. Sejarah Islam mencatat:
“Kemudian rasul Allah mempersiapkan diri untuk berperang dalam melaksanakan perintah Allah, memerangi musuh-musuhnya dan mereka yang menyembah banyak tuhan, yang berada di dekatnya dan yang Tuhan perintahkan untuk diperanginya. Ini adalah tahun ke tiga belas setelah panggilannya.”[3]
Selama tahun-tahun pertamanya di Medinah, Muhammad melakukan sendiri beberapa perampasan, tetapi ia juga mengirim kerabat atau pengikut setianya untuk melakukan perampasan. Ini termasuk juga mengirimkan pamannya, Hamzah, dengan tiga puluh tentara untuk melakukan serangan mendadak terhadap sebuah kereta dari Mekah dan mengirim sepupunya untuk menyerang beberapa orang suku Qurais, ketika mereka pergi keluar dari Mekah.[4]
Orang-orang Mekah tidak mengorganisir satupun serangan berskala besar terhadap Muhammad setelah ia meninggalkan Mekah. Namun, Muhammad memerintahkan sebuah serangan besar terhadap kereta dari Mekah yang akan pergi ke Siria atau kembali ke Mekah. Ini adalah sebuah titik balik besar dalam sejarah Islam.
Serangan ini lebih dari sekedar kepentingan ekonomi, ini adalah serangan terhadap pertahanan Mekah. Kereta-kereta ini hanya keluar dari Mekah dua kali dalam setahun. Mereka kembali dengan membawa makanan, gula, garam, dan pakaian yang dibutuhkan oleh orang-orang untuk bertahan hidup. Mekah adalah padang pasir yang tidak dapat menghasilkan cukup banyak makanan, jadi mereka benar-benar bergantung pada hasil perdagangan. Jika Muhammad berhasil melakukan penyerangan terhadap kereta-kereta dagang tersebut, maka Mekah akan mengalami penderitaan kelaparan.
Sampai suatu hari, pemimpin dari sebuah kereta, Abu Sufyan, mendengar tentang kisah Muhammad ini dan karenanya menghindari tempat di mana Muhammad sedang menunggu untuk merampok. (Ingatlah orang ini karena ia akan menjadi bagian dari kisah Muhammad lainnya nanti). Orang-orang dari Mekah kemudian memutuskan agar Muhammad diberikan hukuman atas maksudnya itu. Mereka ingin berperang dengannya, dan dua kelompok bertemu di lembah Badar. Muhammad hanya membawa sekitar tiga ratus orang bersamanya, tetapi mereka memenangkan peperangan dan membunuh banyak penduduk Mekah (Perang Badar, tahun 624 M, 2 H).[5] Hal ini menjadikan Muhammad sebagai pemimpin terbesar di Arab. (Walaupun ia telah mengalahkan musuh-musuh mereka, namun kota Mekah tetap berada di bawah kepemimpinan suku Qurais pada saat itu.)
Perang Badar dianggap sebagai perang suci oleh semua orang. Muhammad mengatakan bahwa malaikat Gabriel datang kepadanya dengan memberikan wahyu bagaimana mencapai kemenangan mereka. Ini adalah surat ke 8 dalam Al-Quran, yang dinamakan, “Rampasan Perang.” Bab ini berbicara tentang peperangan dan memberikan beberapa instruksi praktis. Mari kita lihat empat hal penting dalam hal ini:
1. Wahyu tersebut mengatakan kepada umat Islam bagaimana membagi barang-barang yang mereka rampas dari pasukan yang kalah perang.
“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan para pelancong.”
-- Surat 8:41 – Terjemahan Ali
Dengan kata lain, Muhammad memperoleh 20% (bagian yang akan ia distribusikan kepada orang-orang miskin) dan sisanya 80% dibagi di antara orang-orang yang ikut berperang dengannya. Ini kedengarannya sangat baik ketika tentara Anda hanya berjumlah tiga ratus orang, tetapi kemudian tentara Muhamad bertambah menjadi sepuluh ribu orang. Dengan jumlah tentara sebesar itu, maka setiap orang hanya mendapat 0,008% dibandingkan Muhammad yang 20%. Ini menyebabkan timbul keluhan di antara para tentara.
2. Wahyu kemudian memerintahkan umat Islam untuk terus memerangi siapapun yang menolak Islam.
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (orang-orang yang tidak percaya dan menyembah banyak tuhan, atau menyembah yang lain selain Allah), dan supaya agama itu (menyembah) semata-mata untuk Allah (di seluruh dunia).”
-- Surat 8:41 --
“Hai nabi (Muhammad), kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh .... karena mereka (orang-orang kafir) itu adalah kaum yang tidak mengerti.”
-- Surat 8:65 --
Jadi, cara paling aman dari serangan tentara Muhammad adalah dengan menerima Islam.
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, jika mereka berhenti (dari kekafirannya) niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku kepada mereka sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.”
-- Surat 8:65 --
3. Wahyu ini memberitahukan umat Islam untuk bersiap-siap menghadapi misi berikutnya.
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang ... untuk menggentarkan musuh Allah dan musuhmu. ”
-- Surat 8:60 --
4. Wahyu ini memerintahkan mereka untuk berperang dengan keras.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya (baik dengan lidah maupun dalam pikiran) agar kamu beruntung.”
-- Surat 8:45 --
Muhammad mengajarkan bahwa misinya untuk menyebarluaskan Islam adalah dengan menggunakan perang suci. Ia memberikan otoritas kepada para pengikutnya untuk menyerang orang-orang yang tidak percaya dan merampasi barang-barang mereka.
UPAYA PENDUDUK MEKAH MENGHENTIKAN MUHAMMAD
Seluruh tanah Arab merasa terancam oleh Muhammad. Di tahun 5 H, beberapa penyembah berhala dari Mekah kemudian bergabung dengan orang-orang Yahudi di Medinah untuk menyerang Muhammad. Umat Islam lalu menggali parit di sekitar kota Medinah dan berhasil menakut-nakuti orang-orang Mekah, yang kemudian menarik diri untuk mundur. Tidak terjadi perang pada saat itu. Dikenal sebagai Perang Parit, peristiwa ini sangat penting bagi sejarah Islam karena jika Muhammad menderita kekalahan, maka masa depan Islam akan terancam.
Demikianlah, Muhammad terus melanjutkan penyebaran Islam dengan cara militer. Ia sendiri ditemani oleh para pejuang dalam dua puluh tujuh perampokan, dan sembilan diantaranya ia lakukan sendiri. Umat Islam melakukan tiga puluh delapan perampokan dan perjalanan sementara Muhammad sendiri tinggal di Medinah.[6]
Muhammad terus menyampaikan wahyu dari malaikat Gabriel sepanjang waktu tersebut. Pesan-pesan ini dikumpulkan dan ditambahkan ke dalam Al Quran, seperti biasanya. Wahyu yang baru ini mengijinkan penyebaran Islam dengan cara kekerasan. Sekarang, mari kita lihat Yesus pada akhir perjalanan hidupnya dan bagaimana ia memerintahkan para murid untuk memberitakan pesannya.
YESUS MENGUTUS MURID-MURIDNYA UNTUK
MEMBERITAKAN INJIL
Tidak seperti Muhammad, yang berubah secara drastis setelah pindah ke Medinah, Yesus tidak merubah pesan maupun cara menyampaikan pesan tersebut. Ketika ia memasuki tahun ketiga pelayanannya, ia terus berkeliling, berkhotbah di sinagoga atau tempat-tempat umum, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dan melakukan berbagai mujizat. Orang banyak tertarik kepadanya dan pemuka-pemuka agama merasa terancam dengan kehadirannya. Dalam keadaan seperti ini, ia memberikan perintah kepada keduabelas muridnya untuk pergi memberitakan Injil tanpanya. Ia kemudian memanggil kelompok yang lebih besar lagi yang terdiri dari tujuh puluh dua orang untuk melakukan hal yang sama. Mari kita lihat secara rinci apa yang ia katakan kepada mereka.
Perintah untuk berkeliling
Ketika saya menyampaikan pesan Yesus kepada murid-muridnya, saya akan membandingkannya dengan instruksi yang disampaikan Muhammad kepada para pengikutnya.
1. Muhammad memberikan otoritas kepada pengikutnya untuk melakukan perang, tetapi Yesus memberi perintah yang berbeda kepada murid-muridnya. Kitab Matius mengatakan:
“Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.”
-- Matius 10:1 --
Setelah memberikan mereka kuasa, Yesus memerintahkan para pengikutnya untuk:
“Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan.”
-- Matius 10:8 --
2. Muhammad memberikan perintah kepada pengikutnya tentang bagaimana membagi barang rampasan dari orang-orang kafir. Yesus melarang para muridnya untuk membawa uang atau menerima uang dari orang-orang..
“Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.”
--- Matius 10:8-9 –
Tetapi Yesus mengijinkan para pengikutnya untuk menumpang di rumah orang dan makan bersama mereka.
“Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.”
--- Lukas 10:7 –
3. Jika sebuah kota menolak Islam, Muhammad memerintahkan umat Islam untuk menyerangnya. Tetapi Yesus berkata:
“Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”
--- Matius 10:14-15 –
Dengan kata lain, Yesus berkata bahwa kota yang menolak pesannya akan dihukum oleh Tuhan pada hari Penghakiman, bukan oleh para murid di saat ini.
Sama seperti yang dilakukan dalam hidupnya, Yesus memberitahu para pengikutnya untuk menjauhi mereka yang menentang.
“Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain”
--- Matius 10:23 –
4. Muhammad memerintahkan orang-orangnya untuk memerangi orang-orang kafir. Yesus malah berkata kepada para pengikutnya untuk waspada terhadap orang-orang tidak percaya yang akan menganiaya mereka. Ia berkata, mereka akan dijual, ditangkap, dan dipenjarakan (Matius 10:16-19).
Para murid mengikuti perintah Yesus.
“Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.”
--- Markus 6:12-13 –
KONFLIK DENGAN ORANG-ORANG YAHUDI
Ada alur cerita utama dalam kehidupan Yesus dan Muhammad – yaitu konflik mereka dengan orang-orang atau pemuka-pemuka agama Yahudi. Kebanyakan interaksi Muhammad dengan orang-orang Yahudi terjadi ketika ia masih di Medinah, karena di Mekah hanya terdapat sedikit orang Yahudi. Sementara Yesus, yang adalah juga orang Yahudi, berinteraksi dengan orang-orang Yahudi seumur hidupnya. Meskpun ia mengalami konflik dengan pemuka-pemuka agama Yahudi. Mari kita lihat bersama apa yang terjadi dalam hidup Muhammad.
Konflik Muhammad dengan orang Yahudi
Komunitas Yahudi terbesar di Arab terdapat di Medinah. Setelah Muhammad pindah ke kota ini, ia berinteraksi dengan orang-orang Yahudi setiap hari. Ia berdagang dengan mereka, mengunjungi rumah mereka dan makan bersama mereka.
Muhammad berharap orang-orang Yahudi dapat menerima Islam karena ia mengajarkan hanya ada satu Tuhan, sama seperti yang diyakini oleh orang Yahudi. Namun orang-orang Yahudi tidak terkesan dengan ajaran Muhammad. Mereka meminta tanda kalau ia benar-benar seorang nabi. Al-Quran menulis:
“Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mujizat-mujizat dari tuhannya?”
--- Surat 29:50 –
Muhammad menjawab, bahwa ia hanya seorang manusia, seorang pemberi peringatan, dan Al-Quran itu sendirilah yang menjadi satu-satunya tanda yang dibutuhkan oleh orang-orang.
“Katakanlah, “Sesungguhnya tanda-tanda itu hanya dari Allah, dan aku hanyakah seorang pemberi peringatan yang nyata.” Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa kami telah menurunkan kepadamu Alkitab (Al Quran) yang dibacakan kepada mereka.”
--- Surat 29:50-51 –
Muhammad berdebat dengan orang-orang Yahudi selama tiga tahun. Kemudian yang mengejutkan mereka adalah ia memerintahkan untuk membunuh setiap orang Yahudi yang ketahuan mengritiknya dengan puisi (3 H). Seperti inilah peristiwa itu terjadi.
Dalam sebuah pertemuan dengan beberapa pengikutnya, Muhammad bertanya, “Siapakah yang akan membunuh orang itu bagiku?” Beberapa orang Islam bersedia. Pada suatu malam, mereka pergi ke rumah orang itu dan mengajaknya berjalan-jalan. Setelah mereka berjalan dan berbincang-bincang sebentar, seorang Islam memberikan sebuah tanda, dan mereka menyerang mereka dengan pedang dan pisau belati, menikamnya sampai mati.[7]
Perilaku Muhammad terhadap orang-orang Yahudi telah berubah. Ia memerintahkan pembunuhan yang lain, dan karena mereka menolak untuk menerima Islam dan itu menjadi ancaman baginya, ia secara sistematis berusaha mengusir mereka dari wilayah Arab.
Pertama, ia menyerang Bani Nadir (suku Nadir, pada 4 H). Ia mematahkan lengan mereka dan memaksa mereka untuk meninggalkan tempat itu. Dua tahun kemudian ia merampok kampung Bani Qurayzah (Kor-AY-zuh). Ia mengepung mereka. Setelah mereka menyerah, ia membunuh semua laki-laki (kurang lebih enam ratus orang) dan membawa wanita dan anak-anak menjadi budak (5 H).[8] Dan akhirnya ia membawa orang-orang Yahudi keluar dari Khaybar (7 H) kampung orang Yahudi di dekat Madinah.
Muhammad menghidupi diriya dan keluarganya dengan barang-barang yang ia rampas dari orang-orang Yahudi di Khaybar.
“Telah diceritakan atas nama Umar, yang berkata, “Barang-barang milik Bani Nadir adalah salah satu hadiah yang diberikan Allah kepada rasulnya, karena tidak ada perjalanan yang dilakukan, baik dengan menggunakan pasukan berkuda ataupun pasukan berunta. Barang-barang ini dikhususkan bagi Rasul Kudus. Ia akan memenuhi kebutuhan keluarganya dari penghasilan ini dan menggunakan sisanya untuk membeli kuda dan senjata yang dipersiapkan untuk jihad.”[9]
Muhammad tidak mentolerir kritikan dari orang-orang Yahudi dan dia tidak mengijinkan mereka hidup dalam damai karena takut mereka akan bergabung dengan musuh-musuhnya untuk berperang dengannya.
Pertemuan Yesus dengan pemuka agama Yahudi
Enam ratus tahun sebelum zaman Muhammad, orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, juga mengritik sebuah pesan baru. “ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal.” (Lukas 11:53).
Sama seperti yang mereka lakukan terhadap Muhammad, orang-orang Yahudi meminta tanda dari Yesus.
“Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.”
-- Matius 12:38-40 --
Yesus menggunakan “tanda Yunus” untuk mengatakan bahwa ia akan mati dan tinggal di dalam kubur selama tiga hari sebelum akhirnya ia bangkit hidup kembali.
Yesus juga menawarkan kuasa kesembuhan dan tanda-tanda mujizat sebagai tanda bahwa ia memiliki kuasa Ilahi. Ketika Yesus mengajar murid-muridnya, ia berkata, “Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.” (Yohanes 14:11; lihat juga Matius 9:2-7).
Yesus menunjukkan rasa kesal dan marah kepada pemuka-pemuka agama Yahudi. Injil mencatat, beberapa kali ia bersuara keras menentang mereka (Matius 23, Markus 7:1-23; Yohanes 8:42-59). Ia juga menggunakan perumpamaan untuk memprotes tindakan mereka (Matius 21:28-46; 22:1-14). Namun, ia tidak berusaha untuk melukai satupun di antara mereka secara fisik.
Kita telah melihat apa yang diperbuat oleh Yesus dan Muhammad dalam setengah putaran kedua pelayanan mereka, sekarang mari kita melihat kehidupan pribadi mereka.
KEHIDUPAN PRIBADI
Setelah Muhammad pindah ke Madinah, kehidupan pribadinya berubah secara signifikan. Ketika di Mekah, ia tetap menikah dengan satu orang isteri, Kadijah, yang meninggal setelah dua puluh lima tahun pernikahan. Selama tahun pertama di Madinah, Muhammad menandatangani kontrak kawin dengan anak perempuan salah satu pengikut setianya, Abu Bakar. Hal ini tidak tampak aneh, kecuali bahwa anak perempuan itu masih berusia enam tahun.[10]
Sejarah Islam mengatakan bahwa Muhammad tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan bernama Aisah itu, sampai ia berusia sembilan tahun, tetapi pengaturan ini sangatlah tidak biasa, bahkan dalam masyarakat Arab sekalipun. Ia tetap menikah dengan Muhammad sampai ia meninggal, dan pada saat itu Aisah baru berusia delapan belas tahun. Meski demikian, Aisah bukanlah satu-satunya isteri Muhammad. Muhammad menikahi sebelas perempuan lainnya selama ia berada di Madinah. Muhammad menghabiskan banyak tenaga untuk mengurusi isteri-isterinya. (Saya menjelaskan dampak dari isteri-isterinya ini secara rinci dalam bab 16)
Sebaliknya, kami tidak mempunyai catatan bahwa Yesus pernah menikah. Ia menghabiskan waktunya dengan para muridnya dan terutama dengan tiga orang yang terdekat di antara mereka, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes (Matius 17:1, Markus 5:37, 14:33). Ia memelihara hubungan baik dengan ibunya dan saudara-saudaranya dan ia juga memiliki hubungan akrab dengan Maria, Marta dan saudara mereka, Lazarus. Sekelompok kecil perempuan berjalan mengikuti Yesus dan membantunya. (Lihat bab 16 untuk informasi lebih jelas)
KESIMPULAN
Kita sekarang sudah mendekati akhir dari hidup baik Yesus maupun Muhammad. Bab berikutnya dari buku ini akan melihat tiga tahun terakhir dari kehidupan Muhammad (usia 61-63 tahun) dan beberapa bulan terakhir dalam kehidupan Yesus (usia sekitar 35 – 36 tahun).
[1] Ibn Kathir, The Beginning and the End, vol. 2, bagian 3, hal 215.
[2] Ibn Ishaq, hal. 324 ff.
[3] Ibid. hal 280.
[4] Ibid, hal 281 – 286.
[5] Ibid, hal 297.
[6] Ibid, hal 257
[7] Ibid, hal 659-660
[8] Ibid, hal 368.
[9] The Correct Books of Bukhari, vol. 5, buku 59, no. 447.
[10] The Correct Books of Muslim, buku 19, no. 4347.
8. HARI-HARI TERAKHIR
MUHAMMAD : TIGA TAHUN TERAKHIR DALAM HIDUPNYA
USIA: 60 – 63 TAHUN
YESUS : BULAN-BULAN TERAKHIR DALAM HIDUPNYA
USIA : 35 – 36 TAHUN.
Ketika kehidupan baik Yesus maupun Muhammad akan berakhir, mereka berdua sesungguhnya sedang berada dalam puncak pengaruh mereka. Dalam bab ini, Anda akan melihat:
Kemenangan mereka atas kota-kota yang pernah menolak mereka
Perintah terakhir kepada para pengikut mereka
Bagaimana mereka masing-masing meninggal dunia
MUHAMMAD KEMBALI KE MEKAH
Delapan tahun setelah pindah ke Medinah, Muhammad telah mencapai tingkat kekuasaan baru yang tinggi. Ia memiliki sepuluh ribu tentara pada saat itu, yang dipimpin oleh empat orang kepala divisi dan dirinya sendiri.[1] Tahun-tahun sebelumnya, ketika orang-orang mengusiknya di pasar di Mekah, Muhammad telah memberi peringatan kepada mereka, “Hai orang-orang Mekah, aku bersumpah demi nama Allah, aku akan datang untuk membunuh kalian semua.”[2] Dan saat ini ia telah siap melakukan tindakan seperti yang telah dikatakan sebelumnya.
Ketika tentara Muhammad maju, gurun pasir menjadi hitam dengan kuda-kuda dan penunggannya. Kota Mekah mengirim mata-mata, termasuk Abu Sufyan, pemimpin kereta yang diserang oleh Muhammad ketika ia baru tiba di Mekah. Orang ini kemudian tertangkap, lalu ia berdiri di hadapan Muhammad, disuruh memilih untuk pindah agama demi keselamatan hidupnya. Demi membela kehormatan pemimpin tersebut, Muhammad berkata bahwa selama penyerangan, umat Islam akan melindungi setiap orang yang mengambil tempat perlindungan di rumah pria itu. Muhammad laklu mengembalikan pria itu ke Mekah dengan pesan, “Dia yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan selamat. Dan dia yang menutup pintu rumahnya sendiri dan yang masuk ke dalam mesjid akan selamat.” Ketika orang-orang mendengar berita ini, mereka menyebar masuk ke rumah mereka dan mesjid.[3]
Ketika Muhammad hendak masuk ke dalam kota, Muhammad memanggil pejuang-pejuang Ansar menghadapnya. Orang-orang Ansar adalah orang-orang Medinah, dan bukan orang Mekah, yang telah memeluk agama Islam. Ketika mereka mengelilinginya, Muhammad berkata, “Apakah engkau melihat tentara Qurais (dari Mekah)?” Ia lalu membuat gerakan dengan tangannya dan berkata, “Pergi dan bunuhlah mereka.” Kata bunuhlah dalam bahasa Arab menggambarkan seperti para petani yang memanen tuaian mereka dengan sebuah sabit. Dengan kata lain, Muhammad memerintahkan mereka untuk “Penggallah leher mereka dari tubuh mereka seperti kamu memotong buah dari ranting pohon.”[4]
Alasan Muhammad memilih Ansar untuk tugas ini mungkin karena orang-orang Islam yang dari Mekah akan memiliki pergumulan untuk membunuh orang-orang dari suku mereka dan tetangga mereka sendiri.
Sementara para tentara memasuki kota dengan menunggang kuda, beberapa perempuan lari keluar dan secara histeris menabrak bagian depan kuda dengan tangan mereka, memohon agar pasukan-pasukan itu tidak membunuh mereka dan anak-anak mereka. Mereka menjerit dan mencoba mendorong si penunggang kuda. Bayangkan peristiwa ini! Orang-orang ketakutan dan putus asa.[5] Mekah melakukan sedikit pertahanan, dan Muhammad dengan mudah mengambil alih kendali.
Divisi Muhammad membawa bendera khusus. Bendera itu berwarna hitam dengan sebuah kata tertulis dalam bahasa Arab: Penghukuman.[6]
Muhammad mengambil alih kendali atas Ka-abah
Muhammad mengendarai kudanya melalui jalan-jalan di Mekah sementara orang-orang di dalam kota itu tinggal diam di dalam rumah mereka. Ia memasuki Ka-abah, mencium Batu Hitam dan mulai berjalan mengelilinginya. Ketika ia sampai di sebuah patung yang berdekatan dengan Batu Hitam, ia menusuk matanya dengan busur panah yang ada di tangannya. Setelah sembahyang siang pada hari yang sama, Muhammad memerintahkan bahwa semua patung yang ada di sekitar Ka-abah dikumpulkan, dibakar dalam api dan dihancurkan.[7] Umat Islamlah yang kemudian memelihara Ka-abah (Surat 9:18)
Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi ketika Yesus kembali ke Yerusalem, rumah imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang berupaya untuk membunuhnya.
YESUS KEMBALI KE YERUSALEM
Selama bulan-bulan terakhir dari tahun ketiga pelayanannya, Yesus juga berada dalam puncak pengaruh dan popularitasnya. Pada saat yang bersaman, ia mengingatkan murid-muridnya bahwa ia akan dibunuh ketika ia kembali ke Yerusalem.
“Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
-- Matius 16:21; lihat juga Lukas 13:31-35 --
“Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali”
-- Matius 17:23 --
Meskipun murid-muridnya protes, namun Yesus tetap melanjutkan perjalanan ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ketika ia sampai di kota itu, ia membuat prosesi masuk dengan cara yang sangat mengejutkan.
Ia meminta murid-muridnya untuk mencari seekor keledai muda baginya, lalu Yesus menaiki keledai itu masuk ke dalam kota. Ketika ia berjalan, kerumunan orang banyak berbaris di sepanjang jalan. Beberapa orang melemparkan jubah mereka di depan jalannya, sementara yang lainnya memotong ranting-ranting pohon dan melemparkannya di depan jalannya. Mereka dengan suara keras memuji Tuhan, dan seluruh kota Yerusalem menjadi gempar (Lukas 19:28-44, Matius 21:1-11).
Yesus menangisi kota Yerusalem
Ketika Yesus sudah hampir dekat di kota Yerusalem dan melihat kota itu, ia menangis karena ia tahu masa depan kota Yerusalem itu. Ia berkata,
“Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Tuhan melawat engkau.”
-- Lukas 19:41-44; lihat juga Matius 23:37-39l Lukas 13:34-35 --
Nubuat Yesus digenapi tidak sampai empat puluh tahun kemudian. Di tahun 70 M, Jenderal Romawi Titus, menaklukan dan menghancurkan kota Yerusalem dan membakar bait Tuhan sampai rata dengan tanah.
Jadi sekarang kita telah mengetahui kisah Yesus dan Muhammad pada akhir hidup mereka ketika mereka kembali ke kota yang menjadi pusat kehidupan spiritual para pengikut mereka. Muhammad kembali sebagai seorang penakluk. Sedangkan, Yesus, seperti yang kita lihat, kembali sebagai korban persembahan. Pada bagian terakhir dari bab ini, mari kita lihat bagaimana kedua pemimpin ini meninggal dunia dan apa yang mereka berikan sebagai perintah terakhir kepada para pengikut mereka.
PENYERAHAN KOTA ARAB
Setelah menaklukkan Mekah, orang-orang dari seluruh Arab, yang belum diserang, mengirimkan penyampai pesan kepada Muhammad dengan berita, “Kami menyerah kepadamu.” Sejarah Islam mencatat ada empat puluh delapan kelompok yang berbeda, yang menyerahkan diri kepada Muhammad pada tahun itu (9 H). Hanya tinggal sedikit saja kelompok orang-orang di Arab yang ditundukkan oleh Muhammad.[8] Orang-orang yang ditaklukkan harus membayar zakat, yaitu pajak yang besarnya 2,5% dari penghasilan seseorang.
Muhammad mengirim surat kepada penguasa asing
Sekarang setelah Muhammad menaklukkan seluruh wilayah Arab, ia menghubungi para penguasa dari wilayah di luar Arab dan mengundang mereka untuk menerima Islam dan aturan Islam. Ia mengirim surat resmi dengan stempel pribadinya kepada (1) Kaisar Roma, (2) Raja Iran, (3) Raja Ethiopia, (4) Gubernur Roma di Mesir, (5) Raja Oman, (6) Raja Bahrain, (7) Raja Siria, (8) Raja Yaman.[9] Surat-surat ini memperingatkan para penguasa itu untuk menyerah kepada Islam, jika tidak mereka akan menderita. Sebuah contoh yag bagus adalah surat kepada Kaisar Roma, yang ditulis:
“Dari Muhammad, Rasul Allah,
Kepada Herocles, Kaisar Roma,
Peluklah agama Islam dan engkau akan diselamatkan. Tetapi jika engkau menolak tantanganku ini, engkau akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi terhadapmu dan terhadap orang-orangmu.”[10]
Muhammad menggunakan kata diselematkan untuk menunjukkan kata selamat dari tentaranya, dan bukan menunjuk pada selamat dari murka Tuhan pada hari Penghakiman.
Masih ingat dengan keduabelas pemimpin yang telah dipilih oleh Muhammad sebelumnya? Kebanyakan dari mereka sekarang memimpin perampasan terhadap mereka yang menolak untuk menyerahkan diri pada kekuasaan Islam.
Wahyu baru mengenai Jihad
Pada bagian ini, Muhammad melaporkan sebuah wahyu baru mengenai perlakuan terhadap orang-orang kafir. Hal ini ditulis dalam Surat 9. Sekarang mari kita pada dua ayat di bawah ini:
Terkait dengan Mushrikun, atau penyembah berhala, wahyu itu berbunyi:
“Bunuhlah orang-orang musrik itu, di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempai pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan memberi zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.”
--- Surat 9:5 –
Jadi wahyu ini memberitahukan umat Islam untuk memerangi para penyembah berhala sampai mereka memeluk Islam. Sebuah wahyu yang hampir sama diberikan terkait dengan orang-orang Yahudi dan Kristen, dengan satu perbedaan penting.
“Perangilah orang-orang yang (1) tidak beriman kepada Allah, (2) dan tidak pula kepada hari akhir, (3) dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasulnya (Muhammad) (4) dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (Islam) yang diberikan Alkitab kepada mereka (orang Yahudi dan Kristen) sampai mereka membayar jizsyah (pajak) dengan patuh dan dalam keadaan tunduk”
--- Surat 9:29 –
Umat Islam memberikan tiga pilihan bagi orang Yahudi dan Kristen:
menerima Islam
tetap memeluk agama Yahudi atau Kristen dengan membayar pajak khusus (jizyah) yang ditarik setahun sekali
siap-siap untuk diserang.
Muhammad kemudian mengangkat gubernur-gubernur (yang dipanggil dengan Amir) untuk mengatur seluruh penduduk, suku dan wilayah yang menerima kekuasaan Islam (tahun 9 H).
KHOTBAH TERAKHIR MUHAMMAD DI BUKIT ARAFAT
Sekarang, setelah Muhammad memegang kendali atas Mekah, Muhammad memanggil semua umat Islam untuk berpartisipasi dalam naik haji, sebuah bentuk ziarah tahunan ke Ka-abah untuk menyembah Allah (Surat 3:97). Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk membuat persiapan sebuah peristiwa akbar, dan mengirimkan pesan ke seluruh wilayah Arab, memberitahukan orang-orang untuk datang. Puncak dari pertemuan besar ini adalah ketika Muhammad berdiri di atas Bukit Arafat dan berkhotbah untuk terakhir kalinya, dikelilingi oleh lebih dari seratus ribu orang Islam.[11] Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Khotbah di Bukit Arafat.
Di bawah ini adalah apa yang dikatakan oleh Muhammad seperti yang dicatat dalam sejarah Islam.
“Hari ini, agamamu sudah lengkap, dan kemurahan Tuhan digenapi dalam hidupmu. Dan aku bersaksi bahwa Islam adalah agamamu. Wahai orang-orang Islam, engkau dilarang untuk menumpahkan darah sesamamu atau mencuri dan mengambil keuntungan satu sama lain atau merebut perempuan atau isteri dari sesama umat Islam.
Setelah hari ini, tidak akan ada agama lain yang hidup di wilayah Arab. Aku diutus Allah dengan pedang di tanganku dan kesejahteraanku datang dari bayangan pedangku. Dan orang-orang yang tidak setuju denganku akan dipermalukan dan disiksa.”[12]
Khotbah ini mempunyai dua bagian: Bagian pertama mengajarkan umat Islam bagaimana harus bersikap satu sama lain, sebagai contoh, tidak membunuh atau mencuri isteri satu sama lain. Bagian kedua mengajarkan bagaimana bersikap kepada orang-orang non Islam. Muhammad menyatakan bahwa Allah mengutusnya dengan pedang dan pendapatannya berasal dari pedang itu. Ia juga berjanji akan mempermalukan dan menganiaya orang-orang yang tidak sepakat dengannya (Khotbah ini sangat berbeda dengan Khotbah Yesus di Bukit, di mana Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44)
KEMATIAN MUHAMMAD
Pada tahun kesebelas setelah kepindahannya dari Mekah ke Medinah, Muhammad mengalami sakit demam yang kerap dialaminya setiap tahun. Namun kali ini, penyakitnya menjadi sangat serius.
Menurut sejarah Islam, Muhammad menganggap demamnya itu sebagai akibat dari racun yang ia makan setelah Muhammad menaklukkan sebuah kampung Yahudi di Khaybar empat tahun sebelumnya. Ia setuju untuk membiarkan mereka tetap hidup selama mereka memberikan harta milik mereka kepadanya. Pada saat itu, ada seorang perempuan bernama Zainab, menyediakan makan bagi Muhammad. (Ingat, orang Yahudi telah menjalin hubungan dengan Muhammad selama bertahun-tahun sebelum ia memutuskan untuk menaklukkan mereka)
Zainab mempersiapkan daging domba untuk dibakar. Ia tahu bahwa Muhammad menyukai daging bagian bahunya, jadi ia menaruh racun lebih banyak pada bagian itu, dan meracuni seluruh bagian domba itu. Ia membawa daging itu dan memberikannya kepada Muhammad dan salah seorang temannya. Muhammad mengambil beberapa bagian dari daging bahunya dan mulai memakannya, tetapi ia merasakan sesuatu yang berbeda daripada biasanya. Ia mengeluarkan dari mulutnya dan memuntahkannya. Tetapi temannya menyukai daging itu dan menyantapnya. Ia kemudian mati akibat racun itu.
Muhammad bertanya kepada Zainab apa yang telah ia lakukan. Ia menjawab, “Engkau tahu apa yang telah engkau lakukan terhadap orang-orangku. Aku berkata kepada diriku sendiri, Jika ia adalah raja aku akan menyerahkan diriku padanya, dan jika ia adalah nabi ia akan diberitahu (apa yang telah aku lakukan).” Untuk jawaban itu, Muhammad kemudian menaruh belas kasihan atas hidupnya.
Namun demikian, Muhammad percaya bahwa racun yang ia makan mengganggunya seumur hidupnya. Pada saat-saat terakhir sakitnya, sebelum ia meninggal dunia, saudara perempuan dari orang yang meninggal karena racun pada daging domba yang dimakannya, datang mengunjunginya. Muhammad berkata kepadanya, “Ya Umi Bishra, apa yang kau lihat pada diriku sekarang (penyakitku) adalah akibat dari memakan daging domba yang aku makan bersama kakakmu.”[13]
Selama sakitnya, Muhammad mengalami demam dan nyeri selama dua puluh hari dan dirawat di rumah oleh isterinya, Aisah, yang telah berusia delapan belas tahun pada saat itu. Ketika ia terlalu lemah untuk memimpin doa, ia memerintahkan salah seorang pengikutnya yang dipercayai untuk melakukan tugas itu. Ketika ia menarik nafat terakhir, ia menaruh kepalanya di pangkuan Aisah dan meninggal dunia.[14]
Muhammad dikuburkan di Medinah, para peziarah masih mengunjungi makamnya hingga hari ini.
KEMATIAN YESUS
Kisah kematian Yesus sangat berbeda dengan kematian Muhammad. Mari kita lihat apa yang terjadi.
Yesus telah pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari cara untuk menangkapnya, tetapi mereka takut untuk menangkapnya secara langsung karena orang-orang mencintainya. Kesempatan mereka datang melalui murid Yesus, Yudas, yang dengan sukarela mengantarkan mereka kepada Yesus hanya demi sejumlah uang.
Setelah memakan santapan Paskah bersama murid-muridnya, Yesus pergi ke Bukit Zaitun untuk berdoa, seperti biasanya. Yudas membawa sejumlah orang banyak ke bukit itu untuk menangkap Yesus. Mereka membawanya ke rumah imam kepala, dan saat menjelang fajar, para pemimpin agama menanyainya, “Apakah engkau Anak Tuhan?” tanya mereka.
“Engkaulah yang mengatakan aku demikian,” jawab Yesus. Itu jelas merupakan hujatan bagi hukum orang Yahudi. Mereka membawanya ke Pilatus, gubernur yang ditunjuk oleh kaisar Roma. Pilatus memutuskan bahwa Yesus tidak melakukan kejahatan yang membuatnya pantas dihukum mati, tetapi pemimpin-pemimpin agama itu menghasut orang banyak untuk menghukum mati Yesus. Jadi Pilatus menyerahkan Yesus kepada orang banyak itu. Mereka membawanya melalui jalan yang disebut Bukit Tengkorak. Di sanalah Yesus digantung di atas kayu salib. Paku ditancapkan di tangan dan kakinya untuk menggantungnya di salib. Kemudian salib itu ditegakkan di atas tanah pada sebuah lubang, dan orang-orang menunggu Yesus hingga mati. Banyak perempuan yang telah mengikut Yesus, berdiri di sana ikut menyaksikan.
Pada tengah hari, langit menjadi gelap untuk selama tiga jam. Kemudian Yesus berteriak dengan suara nyaring, ”Bapa, ke dalam tangan-Mu, kuserahkan nyawaku,” dan ia pun meninggal dunia (Lukas 23-24)
Yang menjadi dasar bagi iman Kristen adalah apa yang terjadi setelah kematian Yesus. Seorang anggota dari Dewan Yahudi yang menentang penyaliban Yesus menerima ijin untuk menurunkan tubuh Yesus. Ia membungkusnya dengan kain linen dan menempatkanya pada sebuah kubur yang baru. Para perempuan yang mengikuti Yesus melihat di sanalah tubuh Yesus dibaringkan. Mereka kemudian pergi mempersiapkan rempah-rempah dan minyak wangi untuk dituangkan pada tubuh Yesus, tetapi mereka tidak pergi keesokan harinya karena hari itu hari Sabat dan menurut hukum Yahudi, pada hari itu mereka beristirahat.
Setelah hari Sabat, pagi-pagi sekali, perempuan itu kembali ke kubur dan menemukan bahwa batu penutup kubur itu telah terguling dan tidak ada tubuh siapapun di dalamnya. Dua malaikat menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit.” (Lukas 24:5-6). Perempuan-perempuan itu lari kepada para murid untuk menceritakan apa yang telah mereka lihat.
Kitab injil menggambarkan beberapa penampakan Yesus kepada para murid dan pengikutnya setelah kebangkitannya.
PESAN TERAKHIR YESUS KEPADA PARA PENGIKUTNYA
Ajaran terakhir Yesus terfokus pada penjelasan mengenai kebangkitannya dan menguatkan murid-muridnya untuk mengabarkan Injil. Ia berkata kepada mereka:
“Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.”
-- Lukas 24:46-47 --
Kemudian Yesus berjanji untuk menolong para pengikutnya dengan mengirimkan Kuasa. Orang Kristen percaya bahwa ini adalah Roh Kudus, seperti yang dijelaskan dalam Kisah Para Rasul 2.
KESIMPULAN
Dalam lima bab, Anda telah mengetahui kehidupan Yesus dan Muhammad secara berdampingan. Anda telah melihat bagaimana mereka menggunakan waktu mereka dan meraih tujuan mereka. Hal ini memberikan kerangka kerja yang Anda butuhkan untuk memahami apa yang mereka ajarkan. Ajaran mereka inilah yang akan menjadi subyek pada bagian kedua buku ini.
Anda akan mendapatkan kesempatan uantuk memperbandingkan ajaran mereka terutama untuk topik-topik di bawah ini:
Pesan mereka bagi dunia
Ajaran mereka tentang sesama
Kesembuhan dan mujizat
Makna Perang Suci
Cinta kasih
Doa
Perempuan
Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan topik-topik di atas, saya telah menempatkan daftar kerangka waktu peristiwa-peristiwa besar dalam hidup Yesus dan Muhammad. Kerangka waktu ini akan membantu Anda untuk melihat biografi yang baru saja Anda baca dan memahami ajaran yang mengikutinya.
[1] Ibn Ishaq, hal 557.
[2] Ibn Kathir, The Beginning and the End, vol. 2, bagian 3, hal 53.
[3] Ibn Ishaq, hal 548.
[4] Ibn Kathir, The Beginning and the End, vol. 2, bagian 4, hal 302.
[5] Ibid, vol. 2, bagian 4, hal 289.
[6] Ibid, vol. 2, bagian 3, hal 288.
[7] The Correct Books of Muslim, buku 19, no. 4395
[8] Ibn Ishaq, hal 627-652. Lihat juga Al-Tijab al-Najar (The Biography of the Prophet) dalam bahasa Arab (Cairo, 1979).
[9] Ibn Hisham, vol. 3, bagian 6, hal 13-14. Lihat juga Ibn Ishaq, The Life of Muhammad, hal 652 ff.
[10] Ibn Hisham, vol. 3, bagian 6, hal 13-14, terjemahan penulis. Lihat juga The Correct Books of Muslim, buku 019, no. 4380. Cerita yang terdapat di dalam umat Islam agak berbeda dengan cerita dari Ibn Hisham.
[11] The Correct Books of Muslim, buku 7, no. 2802.
[12] Ibn Hisham, bagian 6, vol. 3, hal 8, terjemahan penulis.
[13] Ibn Ishaq, hal 516. Lihat juga Ibn Hisham, vol. 2, bagian 4, hal. 309.
[14] Ibn Ishaq, hal 679ff.
USIA: 60 – 63 TAHUN
YESUS : BULAN-BULAN TERAKHIR DALAM HIDUPNYA
USIA : 35 – 36 TAHUN.
Ketika kehidupan baik Yesus maupun Muhammad akan berakhir, mereka berdua sesungguhnya sedang berada dalam puncak pengaruh mereka. Dalam bab ini, Anda akan melihat:
Kemenangan mereka atas kota-kota yang pernah menolak mereka
Perintah terakhir kepada para pengikut mereka
Bagaimana mereka masing-masing meninggal dunia
MUHAMMAD KEMBALI KE MEKAH
Delapan tahun setelah pindah ke Medinah, Muhammad telah mencapai tingkat kekuasaan baru yang tinggi. Ia memiliki sepuluh ribu tentara pada saat itu, yang dipimpin oleh empat orang kepala divisi dan dirinya sendiri.[1] Tahun-tahun sebelumnya, ketika orang-orang mengusiknya di pasar di Mekah, Muhammad telah memberi peringatan kepada mereka, “Hai orang-orang Mekah, aku bersumpah demi nama Allah, aku akan datang untuk membunuh kalian semua.”[2] Dan saat ini ia telah siap melakukan tindakan seperti yang telah dikatakan sebelumnya.
Ketika tentara Muhammad maju, gurun pasir menjadi hitam dengan kuda-kuda dan penunggannya. Kota Mekah mengirim mata-mata, termasuk Abu Sufyan, pemimpin kereta yang diserang oleh Muhammad ketika ia baru tiba di Mekah. Orang ini kemudian tertangkap, lalu ia berdiri di hadapan Muhammad, disuruh memilih untuk pindah agama demi keselamatan hidupnya. Demi membela kehormatan pemimpin tersebut, Muhammad berkata bahwa selama penyerangan, umat Islam akan melindungi setiap orang yang mengambil tempat perlindungan di rumah pria itu. Muhammad laklu mengembalikan pria itu ke Mekah dengan pesan, “Dia yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan selamat. Dan dia yang menutup pintu rumahnya sendiri dan yang masuk ke dalam mesjid akan selamat.” Ketika orang-orang mendengar berita ini, mereka menyebar masuk ke rumah mereka dan mesjid.[3]
Ketika Muhammad hendak masuk ke dalam kota, Muhammad memanggil pejuang-pejuang Ansar menghadapnya. Orang-orang Ansar adalah orang-orang Medinah, dan bukan orang Mekah, yang telah memeluk agama Islam. Ketika mereka mengelilinginya, Muhammad berkata, “Apakah engkau melihat tentara Qurais (dari Mekah)?” Ia lalu membuat gerakan dengan tangannya dan berkata, “Pergi dan bunuhlah mereka.” Kata bunuhlah dalam bahasa Arab menggambarkan seperti para petani yang memanen tuaian mereka dengan sebuah sabit. Dengan kata lain, Muhammad memerintahkan mereka untuk “Penggallah leher mereka dari tubuh mereka seperti kamu memotong buah dari ranting pohon.”[4]
Alasan Muhammad memilih Ansar untuk tugas ini mungkin karena orang-orang Islam yang dari Mekah akan memiliki pergumulan untuk membunuh orang-orang dari suku mereka dan tetangga mereka sendiri.
Sementara para tentara memasuki kota dengan menunggang kuda, beberapa perempuan lari keluar dan secara histeris menabrak bagian depan kuda dengan tangan mereka, memohon agar pasukan-pasukan itu tidak membunuh mereka dan anak-anak mereka. Mereka menjerit dan mencoba mendorong si penunggang kuda. Bayangkan peristiwa ini! Orang-orang ketakutan dan putus asa.[5] Mekah melakukan sedikit pertahanan, dan Muhammad dengan mudah mengambil alih kendali.
Divisi Muhammad membawa bendera khusus. Bendera itu berwarna hitam dengan sebuah kata tertulis dalam bahasa Arab: Penghukuman.[6]
Muhammad mengambil alih kendali atas Ka-abah
Muhammad mengendarai kudanya melalui jalan-jalan di Mekah sementara orang-orang di dalam kota itu tinggal diam di dalam rumah mereka. Ia memasuki Ka-abah, mencium Batu Hitam dan mulai berjalan mengelilinginya. Ketika ia sampai di sebuah patung yang berdekatan dengan Batu Hitam, ia menusuk matanya dengan busur panah yang ada di tangannya. Setelah sembahyang siang pada hari yang sama, Muhammad memerintahkan bahwa semua patung yang ada di sekitar Ka-abah dikumpulkan, dibakar dalam api dan dihancurkan.[7] Umat Islamlah yang kemudian memelihara Ka-abah (Surat 9:18)
Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi ketika Yesus kembali ke Yerusalem, rumah imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang berupaya untuk membunuhnya.
YESUS KEMBALI KE YERUSALEM
Selama bulan-bulan terakhir dari tahun ketiga pelayanannya, Yesus juga berada dalam puncak pengaruh dan popularitasnya. Pada saat yang bersaman, ia mengingatkan murid-muridnya bahwa ia akan dibunuh ketika ia kembali ke Yerusalem.
“Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
-- Matius 16:21; lihat juga Lukas 13:31-35 --
“Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali”
-- Matius 17:23 --
Meskipun murid-muridnya protes, namun Yesus tetap melanjutkan perjalanan ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ketika ia sampai di kota itu, ia membuat prosesi masuk dengan cara yang sangat mengejutkan.
Ia meminta murid-muridnya untuk mencari seekor keledai muda baginya, lalu Yesus menaiki keledai itu masuk ke dalam kota. Ketika ia berjalan, kerumunan orang banyak berbaris di sepanjang jalan. Beberapa orang melemparkan jubah mereka di depan jalannya, sementara yang lainnya memotong ranting-ranting pohon dan melemparkannya di depan jalannya. Mereka dengan suara keras memuji Tuhan, dan seluruh kota Yerusalem menjadi gempar (Lukas 19:28-44, Matius 21:1-11).
Yesus menangisi kota Yerusalem
Ketika Yesus sudah hampir dekat di kota Yerusalem dan melihat kota itu, ia menangis karena ia tahu masa depan kota Yerusalem itu. Ia berkata,
“Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Tuhan melawat engkau.”
-- Lukas 19:41-44; lihat juga Matius 23:37-39l Lukas 13:34-35 --
Nubuat Yesus digenapi tidak sampai empat puluh tahun kemudian. Di tahun 70 M, Jenderal Romawi Titus, menaklukan dan menghancurkan kota Yerusalem dan membakar bait Tuhan sampai rata dengan tanah.
Jadi sekarang kita telah mengetahui kisah Yesus dan Muhammad pada akhir hidup mereka ketika mereka kembali ke kota yang menjadi pusat kehidupan spiritual para pengikut mereka. Muhammad kembali sebagai seorang penakluk. Sedangkan, Yesus, seperti yang kita lihat, kembali sebagai korban persembahan. Pada bagian terakhir dari bab ini, mari kita lihat bagaimana kedua pemimpin ini meninggal dunia dan apa yang mereka berikan sebagai perintah terakhir kepada para pengikut mereka.
PENYERAHAN KOTA ARAB
Setelah menaklukkan Mekah, orang-orang dari seluruh Arab, yang belum diserang, mengirimkan penyampai pesan kepada Muhammad dengan berita, “Kami menyerah kepadamu.” Sejarah Islam mencatat ada empat puluh delapan kelompok yang berbeda, yang menyerahkan diri kepada Muhammad pada tahun itu (9 H). Hanya tinggal sedikit saja kelompok orang-orang di Arab yang ditundukkan oleh Muhammad.[8] Orang-orang yang ditaklukkan harus membayar zakat, yaitu pajak yang besarnya 2,5% dari penghasilan seseorang.
Muhammad mengirim surat kepada penguasa asing
Sekarang setelah Muhammad menaklukkan seluruh wilayah Arab, ia menghubungi para penguasa dari wilayah di luar Arab dan mengundang mereka untuk menerima Islam dan aturan Islam. Ia mengirim surat resmi dengan stempel pribadinya kepada (1) Kaisar Roma, (2) Raja Iran, (3) Raja Ethiopia, (4) Gubernur Roma di Mesir, (5) Raja Oman, (6) Raja Bahrain, (7) Raja Siria, (8) Raja Yaman.[9] Surat-surat ini memperingatkan para penguasa itu untuk menyerah kepada Islam, jika tidak mereka akan menderita. Sebuah contoh yag bagus adalah surat kepada Kaisar Roma, yang ditulis:
“Dari Muhammad, Rasul Allah,
Kepada Herocles, Kaisar Roma,
Peluklah agama Islam dan engkau akan diselamatkan. Tetapi jika engkau menolak tantanganku ini, engkau akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi terhadapmu dan terhadap orang-orangmu.”[10]
Muhammad menggunakan kata diselematkan untuk menunjukkan kata selamat dari tentaranya, dan bukan menunjuk pada selamat dari murka Tuhan pada hari Penghakiman.
Masih ingat dengan keduabelas pemimpin yang telah dipilih oleh Muhammad sebelumnya? Kebanyakan dari mereka sekarang memimpin perampasan terhadap mereka yang menolak untuk menyerahkan diri pada kekuasaan Islam.
Wahyu baru mengenai Jihad
Pada bagian ini, Muhammad melaporkan sebuah wahyu baru mengenai perlakuan terhadap orang-orang kafir. Hal ini ditulis dalam Surat 9. Sekarang mari kita pada dua ayat di bawah ini:
Terkait dengan Mushrikun, atau penyembah berhala, wahyu itu berbunyi:
“Bunuhlah orang-orang musrik itu, di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempai pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan memberi zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.”
--- Surat 9:5 –
Jadi wahyu ini memberitahukan umat Islam untuk memerangi para penyembah berhala sampai mereka memeluk Islam. Sebuah wahyu yang hampir sama diberikan terkait dengan orang-orang Yahudi dan Kristen, dengan satu perbedaan penting.
“Perangilah orang-orang yang (1) tidak beriman kepada Allah, (2) dan tidak pula kepada hari akhir, (3) dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasulnya (Muhammad) (4) dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (Islam) yang diberikan Alkitab kepada mereka (orang Yahudi dan Kristen) sampai mereka membayar jizsyah (pajak) dengan patuh dan dalam keadaan tunduk”
--- Surat 9:29 –
Umat Islam memberikan tiga pilihan bagi orang Yahudi dan Kristen:
menerima Islam
tetap memeluk agama Yahudi atau Kristen dengan membayar pajak khusus (jizyah) yang ditarik setahun sekali
siap-siap untuk diserang.
Muhammad kemudian mengangkat gubernur-gubernur (yang dipanggil dengan Amir) untuk mengatur seluruh penduduk, suku dan wilayah yang menerima kekuasaan Islam (tahun 9 H).
KHOTBAH TERAKHIR MUHAMMAD DI BUKIT ARAFAT
Sekarang, setelah Muhammad memegang kendali atas Mekah, Muhammad memanggil semua umat Islam untuk berpartisipasi dalam naik haji, sebuah bentuk ziarah tahunan ke Ka-abah untuk menyembah Allah (Surat 3:97). Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk membuat persiapan sebuah peristiwa akbar, dan mengirimkan pesan ke seluruh wilayah Arab, memberitahukan orang-orang untuk datang. Puncak dari pertemuan besar ini adalah ketika Muhammad berdiri di atas Bukit Arafat dan berkhotbah untuk terakhir kalinya, dikelilingi oleh lebih dari seratus ribu orang Islam.[11] Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Khotbah di Bukit Arafat.
Di bawah ini adalah apa yang dikatakan oleh Muhammad seperti yang dicatat dalam sejarah Islam.
“Hari ini, agamamu sudah lengkap, dan kemurahan Tuhan digenapi dalam hidupmu. Dan aku bersaksi bahwa Islam adalah agamamu. Wahai orang-orang Islam, engkau dilarang untuk menumpahkan darah sesamamu atau mencuri dan mengambil keuntungan satu sama lain atau merebut perempuan atau isteri dari sesama umat Islam.
Setelah hari ini, tidak akan ada agama lain yang hidup di wilayah Arab. Aku diutus Allah dengan pedang di tanganku dan kesejahteraanku datang dari bayangan pedangku. Dan orang-orang yang tidak setuju denganku akan dipermalukan dan disiksa.”[12]
Khotbah ini mempunyai dua bagian: Bagian pertama mengajarkan umat Islam bagaimana harus bersikap satu sama lain, sebagai contoh, tidak membunuh atau mencuri isteri satu sama lain. Bagian kedua mengajarkan bagaimana bersikap kepada orang-orang non Islam. Muhammad menyatakan bahwa Allah mengutusnya dengan pedang dan pendapatannya berasal dari pedang itu. Ia juga berjanji akan mempermalukan dan menganiaya orang-orang yang tidak sepakat dengannya (Khotbah ini sangat berbeda dengan Khotbah Yesus di Bukit, di mana Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44)
KEMATIAN MUHAMMAD
Pada tahun kesebelas setelah kepindahannya dari Mekah ke Medinah, Muhammad mengalami sakit demam yang kerap dialaminya setiap tahun. Namun kali ini, penyakitnya menjadi sangat serius.
Menurut sejarah Islam, Muhammad menganggap demamnya itu sebagai akibat dari racun yang ia makan setelah Muhammad menaklukkan sebuah kampung Yahudi di Khaybar empat tahun sebelumnya. Ia setuju untuk membiarkan mereka tetap hidup selama mereka memberikan harta milik mereka kepadanya. Pada saat itu, ada seorang perempuan bernama Zainab, menyediakan makan bagi Muhammad. (Ingat, orang Yahudi telah menjalin hubungan dengan Muhammad selama bertahun-tahun sebelum ia memutuskan untuk menaklukkan mereka)
Zainab mempersiapkan daging domba untuk dibakar. Ia tahu bahwa Muhammad menyukai daging bagian bahunya, jadi ia menaruh racun lebih banyak pada bagian itu, dan meracuni seluruh bagian domba itu. Ia membawa daging itu dan memberikannya kepada Muhammad dan salah seorang temannya. Muhammad mengambil beberapa bagian dari daging bahunya dan mulai memakannya, tetapi ia merasakan sesuatu yang berbeda daripada biasanya. Ia mengeluarkan dari mulutnya dan memuntahkannya. Tetapi temannya menyukai daging itu dan menyantapnya. Ia kemudian mati akibat racun itu.
Muhammad bertanya kepada Zainab apa yang telah ia lakukan. Ia menjawab, “Engkau tahu apa yang telah engkau lakukan terhadap orang-orangku. Aku berkata kepada diriku sendiri, Jika ia adalah raja aku akan menyerahkan diriku padanya, dan jika ia adalah nabi ia akan diberitahu (apa yang telah aku lakukan).” Untuk jawaban itu, Muhammad kemudian menaruh belas kasihan atas hidupnya.
Namun demikian, Muhammad percaya bahwa racun yang ia makan mengganggunya seumur hidupnya. Pada saat-saat terakhir sakitnya, sebelum ia meninggal dunia, saudara perempuan dari orang yang meninggal karena racun pada daging domba yang dimakannya, datang mengunjunginya. Muhammad berkata kepadanya, “Ya Umi Bishra, apa yang kau lihat pada diriku sekarang (penyakitku) adalah akibat dari memakan daging domba yang aku makan bersama kakakmu.”[13]
Selama sakitnya, Muhammad mengalami demam dan nyeri selama dua puluh hari dan dirawat di rumah oleh isterinya, Aisah, yang telah berusia delapan belas tahun pada saat itu. Ketika ia terlalu lemah untuk memimpin doa, ia memerintahkan salah seorang pengikutnya yang dipercayai untuk melakukan tugas itu. Ketika ia menarik nafat terakhir, ia menaruh kepalanya di pangkuan Aisah dan meninggal dunia.[14]
Muhammad dikuburkan di Medinah, para peziarah masih mengunjungi makamnya hingga hari ini.
KEMATIAN YESUS
Kisah kematian Yesus sangat berbeda dengan kematian Muhammad. Mari kita lihat apa yang terjadi.
Yesus telah pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari cara untuk menangkapnya, tetapi mereka takut untuk menangkapnya secara langsung karena orang-orang mencintainya. Kesempatan mereka datang melalui murid Yesus, Yudas, yang dengan sukarela mengantarkan mereka kepada Yesus hanya demi sejumlah uang.
Setelah memakan santapan Paskah bersama murid-muridnya, Yesus pergi ke Bukit Zaitun untuk berdoa, seperti biasanya. Yudas membawa sejumlah orang banyak ke bukit itu untuk menangkap Yesus. Mereka membawanya ke rumah imam kepala, dan saat menjelang fajar, para pemimpin agama menanyainya, “Apakah engkau Anak Tuhan?” tanya mereka.
“Engkaulah yang mengatakan aku demikian,” jawab Yesus. Itu jelas merupakan hujatan bagi hukum orang Yahudi. Mereka membawanya ke Pilatus, gubernur yang ditunjuk oleh kaisar Roma. Pilatus memutuskan bahwa Yesus tidak melakukan kejahatan yang membuatnya pantas dihukum mati, tetapi pemimpin-pemimpin agama itu menghasut orang banyak untuk menghukum mati Yesus. Jadi Pilatus menyerahkan Yesus kepada orang banyak itu. Mereka membawanya melalui jalan yang disebut Bukit Tengkorak. Di sanalah Yesus digantung di atas kayu salib. Paku ditancapkan di tangan dan kakinya untuk menggantungnya di salib. Kemudian salib itu ditegakkan di atas tanah pada sebuah lubang, dan orang-orang menunggu Yesus hingga mati. Banyak perempuan yang telah mengikut Yesus, berdiri di sana ikut menyaksikan.
Pada tengah hari, langit menjadi gelap untuk selama tiga jam. Kemudian Yesus berteriak dengan suara nyaring, ”Bapa, ke dalam tangan-Mu, kuserahkan nyawaku,” dan ia pun meninggal dunia (Lukas 23-24)
Yang menjadi dasar bagi iman Kristen adalah apa yang terjadi setelah kematian Yesus. Seorang anggota dari Dewan Yahudi yang menentang penyaliban Yesus menerima ijin untuk menurunkan tubuh Yesus. Ia membungkusnya dengan kain linen dan menempatkanya pada sebuah kubur yang baru. Para perempuan yang mengikuti Yesus melihat di sanalah tubuh Yesus dibaringkan. Mereka kemudian pergi mempersiapkan rempah-rempah dan minyak wangi untuk dituangkan pada tubuh Yesus, tetapi mereka tidak pergi keesokan harinya karena hari itu hari Sabat dan menurut hukum Yahudi, pada hari itu mereka beristirahat.
Setelah hari Sabat, pagi-pagi sekali, perempuan itu kembali ke kubur dan menemukan bahwa batu penutup kubur itu telah terguling dan tidak ada tubuh siapapun di dalamnya. Dua malaikat menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit.” (Lukas 24:5-6). Perempuan-perempuan itu lari kepada para murid untuk menceritakan apa yang telah mereka lihat.
Kitab injil menggambarkan beberapa penampakan Yesus kepada para murid dan pengikutnya setelah kebangkitannya.
PESAN TERAKHIR YESUS KEPADA PARA PENGIKUTNYA
Ajaran terakhir Yesus terfokus pada penjelasan mengenai kebangkitannya dan menguatkan murid-muridnya untuk mengabarkan Injil. Ia berkata kepada mereka:
“Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.”
-- Lukas 24:46-47 --
Kemudian Yesus berjanji untuk menolong para pengikutnya dengan mengirimkan Kuasa. Orang Kristen percaya bahwa ini adalah Roh Kudus, seperti yang dijelaskan dalam Kisah Para Rasul 2.
KESIMPULAN
Dalam lima bab, Anda telah mengetahui kehidupan Yesus dan Muhammad secara berdampingan. Anda telah melihat bagaimana mereka menggunakan waktu mereka dan meraih tujuan mereka. Hal ini memberikan kerangka kerja yang Anda butuhkan untuk memahami apa yang mereka ajarkan. Ajaran mereka inilah yang akan menjadi subyek pada bagian kedua buku ini.
Anda akan mendapatkan kesempatan uantuk memperbandingkan ajaran mereka terutama untuk topik-topik di bawah ini:
Pesan mereka bagi dunia
Ajaran mereka tentang sesama
Kesembuhan dan mujizat
Makna Perang Suci
Cinta kasih
Doa
Perempuan
Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan topik-topik di atas, saya telah menempatkan daftar kerangka waktu peristiwa-peristiwa besar dalam hidup Yesus dan Muhammad. Kerangka waktu ini akan membantu Anda untuk melihat biografi yang baru saja Anda baca dan memahami ajaran yang mengikutinya.
[1] Ibn Ishaq, hal 557.
[2] Ibn Kathir, The Beginning and the End, vol. 2, bagian 3, hal 53.
[3] Ibn Ishaq, hal 548.
[4] Ibn Kathir, The Beginning and the End, vol. 2, bagian 4, hal 302.
[5] Ibid, vol. 2, bagian 4, hal 289.
[6] Ibid, vol. 2, bagian 3, hal 288.
[7] The Correct Books of Muslim, buku 19, no. 4395
[8] Ibn Ishaq, hal 627-652. Lihat juga Al-Tijab al-Najar (The Biography of the Prophet) dalam bahasa Arab (Cairo, 1979).
[9] Ibn Hisham, vol. 3, bagian 6, hal 13-14. Lihat juga Ibn Ishaq, The Life of Muhammad, hal 652 ff.
[10] Ibn Hisham, vol. 3, bagian 6, hal 13-14, terjemahan penulis. Lihat juga The Correct Books of Muslim, buku 019, no. 4380. Cerita yang terdapat di dalam umat Islam agak berbeda dengan cerita dari Ibn Hisham.
[11] The Correct Books of Muslim, buku 7, no. 2802.
[12] Ibn Hisham, bagian 6, vol. 3, hal 8, terjemahan penulis.
[13] Ibn Ishaq, hal 516. Lihat juga Ibn Hisham, vol. 2, bagian 4, hal. 309.
[14] Ibn Ishaq, hal 679ff.
9. KERANGKA WAKTU
KERANGKA WAKTU MUHAMMAD
Tahun 570 M, lahir
Muhammad lahir di Mekah. (Sejarah Islam mengatakan secara spesifik ia lahir pada hari Senin, tanggal 12, bulan pertama (Rabir). Pada kalender biasa, ini berarti tanggal 2 Agustus.
Tahun 576 M, usia 6 tahun
Ibu Muhammad meninggal dunia, kakek dari ayahnyalah yang kemudian merawatnya.
Tahun 578 M, usia 8 tahun
Kakek Muhammad meninggal dunia. Saudara ayahnya, Abu Talib yang kemudian memeliharanya.
Tahun 582 M, usia 12 tahun
Paman Muhammad, Abu Talib, membawanya ke Siria dimana Bahira, seorang rahib Kristen Nestoria, bernubuat atas Muhammad.
Tahun 595 M, usia 25 tahun
Menikah dengan isteri pertamanya, Kadijah, dalam sebuah upacara yang dipimpin oleh sepupunya Waraqa, seorang pendeta Kristen Ebionit.
Tahun 610 M, usia 40 tahun
Memperoleh wahyu pertama dari malaikat Gabriel.
Tahun 613 M, usia 43 tahun
Mulai berkhotbah secara terbuka di Mekah tentang wahyunya.
Tahun 615 M, usia 45 tahun
Muhammad mengirimkan sebelas orang Islam ke Abysinnia (Ethiopia sekarang) untuk meminta perlindungan atas penganiayaan yang mereka dapatkan di Mekah. Ini dikenal dengan Hijrah pertama (ziarah).
Pemimpin suku Qurais memboikot umat Islam dan kerabat Muhammad, menolak pernikahan di antara mereka ataupun menjual makanan kepada mereka. Mereka mencabut boikot itu dua atau tiga tahun kemudian.
Tahun 620 M, usia 50 tahun
Diceritakan tentang Malam Perjalanan dari Mekah ke Yerusalem. Pada tahun yang sama, isteri pertama dan paman sekaligus juga pelindungnya, Abu Talib meninggal dunia.
Tahun 623 M, 1 H, usia 53 tahun
Menandatangani perjanjian dengan dua suku terbesar di Medinah yang kemudian menjadi pelindungnya.
Pindah dari Mekah ke Medinah (hijrah kedua). Peristiwa ini menandai tahun pertama dalam kalender Islam.
Menikah dengan isteri keduanya, Aisah. (Dalam sepuluh tahun berikutnya, ia membawa sebelas perempuan lainnya untuk dijadikan isteri)
Menerima wahyu untuk melakukan jihad, atau perang suci, berperang melawan orang-orang kafir, untuk pertama kalinya.
Memerintahkan pamannya, Hamzah untuk pergi dengan tiga puluh orang tentara Islam untuk merampok kereta orang Qurais. Ini adalah untuk pertama kalinya ia memerintahkan penyerangan.
Mengutus salah satu sepupunya untuk menyerang penyembah berhala dari Mekah.
Mengirimkan sepupunya (Saad ibn Aby Waqqas) untuk menyerang penyembah berhala di Al-Kharrar.
Tahun 624 M,2 H, usia 54 tahun
Tahun ini adalah tahun yang penuh dengan jihad.
Banyak orang Yahudi di Madinah pindah agama Islam.
Serangan di Al-Abuwaa
Perang di Badar. Muhammad sendiri yang memimpin umat Islam dalam sebuah serangan terhadap pasukan Mekah di Lembah Badar. Umat Islam menang secara mengejutkan.
Serangan terhadap Bani Salib (penyembah berhala).
Serangan terhadap al-Sawiq (penyembah berhala).
Mengijinkan puterinya, Fatimah, menikah dengan sepupunya Ali ibn Abi Talib.
Mengirim tujuh pasukan lainnya untuk melakukan serangan (suriya) di kampung-kampung pada tahun ini. (Ini adalah serangan kecil yang hanya melibatkan tiga puluh sampai seratur tentara.)
Tahun 625 M, 3 H, usia 55 tahun
Perang Uhud. Umat Islam menderita kekalahan dari orang-orang Mekah. (Paman Muhammad, Hamzah, terbunuh.)
Membunuh seorang pemimpin Yahudi bernama Kaab Ibn al-Ashraf, karena telah menentang Muhammad secara terang-terangan. Peristiwa ini mengejutkan baik orang-orang Yahudi di Medinah maupun penyembah berhala di Mekah. Ini adalah pertama kalinya Muhammad melakukan tindakan membunuh.
Mengutus tiga serangan (suriya) lainnya pada tahun ini.
Tahun 626 M, 4 H, usia 56 tahun
Serangan terhadap Bani-Nadir (suku Yahudi).
Melakukan dua serangan (suriya) lainnya pada tahun ini.
Tahun 627 M, 5 H, usia 57 tahun
Perampokkan di Dumatu’l-Jandel
Perang Parit. Penduduk Mekah dan beberapa orang Yahudi dari Madinah berupaya untuk menyerang umat Islam di Medinah. Umat Islam menggali parit di sekeliling kota dan penduduk Mekah memilih untuk kembali pulang tanpa berperang.
Serangan terhadap Bani-Qurayzah, salah satu suku Yahudi, di mana Muhammad membunuh semua laki-lakinya dan membawa para perempuan dan anak-anak sebagai tawanan. Hal ini dilakukan sebagai hukuman atas keterlibatan mereka di dalam Perang Parit.
Pembunuhan terhadap seorang pemimpinYahudi lainnya, Abi-Rafa.
Serangan terhadap Bani-Lihyan (suku Arab)
Serangan terhadap Zi-kerd.
Serangan terhadap Bani al-Mustaliq (suku Yahudi). Isteri kedua Muhammad, Aisah, dituduh memiliki hubungan gelap dengan pria lain selama terjadinya serangan ini.
Tahun 628 M, 6 H, usia 58 tahun
Muhammad tidak memimpin satupun pertempuran pada tahun ini, tetapi ia mengirimkan beberapa serangan (suriya).
Tahun 629 M, 7 H, usia 59 tahun
Mengirimkan lima serangan (suriya) di tahun ini.
Serangan ke Khaybar (kampung orang Yahudi).
Tahun 630 M, 8 H, usia 60 tahun
Serangan di Mu’ta.
Pertempuran di Zat-al-Salasil
Penyerbuan dan penaklukkan kota Mekah,
Pertempuran di Hunan.
Serangan terhadap Utas
Serangan terhadap al-Ta-if
Tahun 631 M, 9 H, usia 61 tahun
Tahun ini dikenal sebagai tahun Penundukkan Diri. Orang-orang dari seluruh daerah Arab yang belum diserang akhirnya mengirimkan pesan kepada Muhammad dan berkata, “Kami menundukkan diri kepadamu.” Sejarah islam menyebutkan ada empat puluh delapan kelompok yang berbeda yang mengirimkan pesan ini kepada Muhammad. Muhammadpun mulai mengirimkan surat kepada para pemimimpin dan raja-raja kota di sekitarnya agar mereka menerima Islam.
Serangan di Ta-buk.
Tahun 632 M, 9 H, usia 62 tahun
Mengutus para gubernur (para amir) untuk menguasai wilayah-wilayah di mana orang-orang dan suku-sukunya setuju untuk menerima kenabiannya.
Tahun 633 M, 10 H, usia 63 tahun
Melaksanakan praktek naik haji.
Memberikan khotbah terakhirnya, dikenal juga dengan Khotbah di Bukit Arafat.
Tahun 634 M, 11 H, usia 64 tahun
Terkena demam.
Meninggal dunia.
KERANGKA WAKTU YESUS[1]
Tahun 6/5 SM
Lahir di Betlehem.
Tahun 5/4 SM
Maria danYusuf membawa Yesus ke Mesir untuk melarikan diri dari Herodes yang memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki yang berusia di bawah dua tahun.
Tahun 4/3 SM, usia 2 tahun
Maria danYusuf kembali ke rumah mereka di Nazaret
Tahun 6/7 M, usia 12 tahun
Tertinggal di Bait Tuhan di Yerusalem setelah keluarganya memutuskan untuk kembali ke rumah mereka.
Tahun 26 M, usia 32 tahun
Yohanes Pembaptis mulai mengajar secara terang-terangan.
Pelayanan dimulai
Tahun 26/27, usia 32 atau 33 tahun
Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dan mulai mengajar di depan orang banyak.
Melakukan mujizat yang pertama – mengubah air menjadi anggur.
Mengusir keluar para penukar uang dari Bait Tuhan di Yerusalem.
Berbicara dengan perempuan Samaria di tepi sumur.
Menyembuhkan anak lelaki seorang perwira.
Berkhotbah di sinagoga di kampung halamannya di Nazaret, tetapi ditolak.
Tahun kedua pelayanan
Menyembuhkan orang yang kerasukan setan di sinagoga di Kapernaum.
Menyembuhkan orang yang sakit kusta.
Menyembuhkan orang yang lumpuh.
Menyembuhkan orang timpang di Kolam Bethesda.
Menyembuhkan tangan orang yang lumpuh.
Memilih kedua belas muridnya dan berkhotbah Ucapan Nasehat di Bukit.
Menyembuhkan pegawai dari tentara Romawi.
Membangkitkan anak laki-laki dari seorang janda yang telah meninggal.
Meredakan badai di Danau Galilea.
Menyembuhkan orang kerasukan setan yang tinggal di kuburan.
Membangkitkan anak perempuan yang telah mati dan menyembuhkan seorang perempuan yang mengalami pendarahan.
Tahun ketiga pelayanan
Mengutus duabelas murid untuk menyampaikan pesannya.
Memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan.
Menyembuhkan anak perempuan seorang perempuan bukan Yahudi.
Menyembuhkan seorang yang bisu-tuli.
Memberi makan empat ribu orang.
Menyembuhkan orang buta.
Menyembuhkan seorang anak lelaki yang memiliki gejala epilepsi.
Menyembuhkan sepuluh orang penderita kusta.
Mengampuni perempuan yang kedapatan sedang berzinah.
Menyembuhkan orang buta.
Membangkitkan Lazarus dari kematian.
Perjalanan akhir menuju ke Yerusalem
Tahun 30, usia 35 atau 36 tahun
Menyembuhkan satu atau dua orang buta diYerikho.
Makan malam bersama Lazarus, Maria dan Marta.
Masuk ke Yerusalem diiringi dengan sorak sorai orang banyak (Hari Minggu, sebelum kematiannya)
Makan malam terakhir bersama murid-muridnya (Hari Kamis, sebelum kematiannya)
Ditahan, diajukan ke pengadilan, dan disalibkan (Hari Jumat)
Bangkit dari kematian dan menampakkan diri kepada para pengikutnya (Hari Minggu, setelah kematiannya)
[1] Tanggalan dalam kerangka waktu ini berasal dari Life Application Bible (Netherlands: Tyndale House Publishers, 1999). Tahun kelahiran Yesus yang sebenarnya masih menjadi perdebatan di antara para sarjana Kristen. Beberapa dekade lalu diyakini bahwa Yesus lahir antara tahun 2 atau 3 SM dan karena itu disalibkan dan bangkit pada usia sekitar 33 tahun. Para ahli Perjanjian Baru mengatakan bahwa ia lahir tahun 4 SM (Ben Witherington III, New Testament History) atau tahun 6 atau 5 SM (Life Application Bible). Urutan dalam daftar kerangka waktu berasal dari “Summary of the Travel and Acts of Jesus” oleh Gordon Smith dari Plenarth, United Kingdom. Bahan ini belum diterbitkan, tetapi dapat diakses dalam internet di Christian Classics Ethereal Library pada www.ccel.org/bible/phillips/JBPhillips.htm. Website ini dikelola oleh Calvin College, Grand Rapids, Michigan. Para pembaca perlu berhati-hati terhadap metodologi yang digunakan oleh Gordon untuk menjelaskan kerangka waktunya. Ia menulis
Berbagai kisah perjalanan dan penginjilan Yesus telah dikumpulkan bersama-sama dan diatur untuk mengikuti apa yang dinamakan, “keserasian Injil.” Usaha ini dilakukan untuk mengurutkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus secara kronologis.
Karena Injil tertulis bukan secara biografi sejarah melainkan sebagai kumpulan ajaran yang ditujukan untuk orang-orang yang berbeda – Yahudi, Roma, Yunani dan seluruh dunia – maka tidak akan pernah ada persetujuan secara menyeluruh mengenai keserasian tersebut.
Dengan menyusun Injil secara demikian, berbagai perbedaan tersebut dapat disesuaikan, dengan membuat asumsi umum seperti:
Injil Markus disusun berdasarkan urutan waktu;
Injil Lukas umumnya disusun berdasarkan urutan waktu, tetapi ada beberapa perbedaan. Hal ini mungkin disebabkan karena ia harus menyesuaikan dengan berbagai saksi mata dan tulisan yang ada;
Matius mengelompokkan beberapa materi untuk memperoleh maksud dari pengajaran Yesus. Oleh karena itu, urutannya tidak selalu kronologis;
Hubungan antara Injil Yohanes dengan ketiga Injil lainnya telah dikembangkan oleh beberapa penelitian para ahli selama lebih dari dua abad. Meskipun mereka masih belum bersepakat, namun hubungan itu diasumsikan dapat dipertanggung-jawabkan.
Gordon Smith, seorang pensiunan insinyur, dan sekarang menjadi sejarawan mengenai angkatan laut, penulis sekaligus juga dosen yang mengajar tentang kapal laut, menghabiskan waktu tiga tahun untuk menguji Injil dan menyusun informasi ini.
Tahun 570 M, lahir
Muhammad lahir di Mekah. (Sejarah Islam mengatakan secara spesifik ia lahir pada hari Senin, tanggal 12, bulan pertama (Rabir). Pada kalender biasa, ini berarti tanggal 2 Agustus.
Tahun 576 M, usia 6 tahun
Ibu Muhammad meninggal dunia, kakek dari ayahnyalah yang kemudian merawatnya.
Tahun 578 M, usia 8 tahun
Kakek Muhammad meninggal dunia. Saudara ayahnya, Abu Talib yang kemudian memeliharanya.
Tahun 582 M, usia 12 tahun
Paman Muhammad, Abu Talib, membawanya ke Siria dimana Bahira, seorang rahib Kristen Nestoria, bernubuat atas Muhammad.
Tahun 595 M, usia 25 tahun
Menikah dengan isteri pertamanya, Kadijah, dalam sebuah upacara yang dipimpin oleh sepupunya Waraqa, seorang pendeta Kristen Ebionit.
Tahun 610 M, usia 40 tahun
Memperoleh wahyu pertama dari malaikat Gabriel.
Tahun 613 M, usia 43 tahun
Mulai berkhotbah secara terbuka di Mekah tentang wahyunya.
Tahun 615 M, usia 45 tahun
Muhammad mengirimkan sebelas orang Islam ke Abysinnia (Ethiopia sekarang) untuk meminta perlindungan atas penganiayaan yang mereka dapatkan di Mekah. Ini dikenal dengan Hijrah pertama (ziarah).
Pemimpin suku Qurais memboikot umat Islam dan kerabat Muhammad, menolak pernikahan di antara mereka ataupun menjual makanan kepada mereka. Mereka mencabut boikot itu dua atau tiga tahun kemudian.
Tahun 620 M, usia 50 tahun
Diceritakan tentang Malam Perjalanan dari Mekah ke Yerusalem. Pada tahun yang sama, isteri pertama dan paman sekaligus juga pelindungnya, Abu Talib meninggal dunia.
Tahun 623 M, 1 H, usia 53 tahun
Menandatangani perjanjian dengan dua suku terbesar di Medinah yang kemudian menjadi pelindungnya.
Pindah dari Mekah ke Medinah (hijrah kedua). Peristiwa ini menandai tahun pertama dalam kalender Islam.
Menikah dengan isteri keduanya, Aisah. (Dalam sepuluh tahun berikutnya, ia membawa sebelas perempuan lainnya untuk dijadikan isteri)
Menerima wahyu untuk melakukan jihad, atau perang suci, berperang melawan orang-orang kafir, untuk pertama kalinya.
Memerintahkan pamannya, Hamzah untuk pergi dengan tiga puluh orang tentara Islam untuk merampok kereta orang Qurais. Ini adalah untuk pertama kalinya ia memerintahkan penyerangan.
Mengutus salah satu sepupunya untuk menyerang penyembah berhala dari Mekah.
Mengirimkan sepupunya (Saad ibn Aby Waqqas) untuk menyerang penyembah berhala di Al-Kharrar.
Tahun 624 M,2 H, usia 54 tahun
Tahun ini adalah tahun yang penuh dengan jihad.
Banyak orang Yahudi di Madinah pindah agama Islam.
Serangan di Al-Abuwaa
Perang di Badar. Muhammad sendiri yang memimpin umat Islam dalam sebuah serangan terhadap pasukan Mekah di Lembah Badar. Umat Islam menang secara mengejutkan.
Serangan terhadap Bani Salib (penyembah berhala).
Serangan terhadap al-Sawiq (penyembah berhala).
Mengijinkan puterinya, Fatimah, menikah dengan sepupunya Ali ibn Abi Talib.
Mengirim tujuh pasukan lainnya untuk melakukan serangan (suriya) di kampung-kampung pada tahun ini. (Ini adalah serangan kecil yang hanya melibatkan tiga puluh sampai seratur tentara.)
Tahun 625 M, 3 H, usia 55 tahun
Perang Uhud. Umat Islam menderita kekalahan dari orang-orang Mekah. (Paman Muhammad, Hamzah, terbunuh.)
Membunuh seorang pemimpin Yahudi bernama Kaab Ibn al-Ashraf, karena telah menentang Muhammad secara terang-terangan. Peristiwa ini mengejutkan baik orang-orang Yahudi di Medinah maupun penyembah berhala di Mekah. Ini adalah pertama kalinya Muhammad melakukan tindakan membunuh.
Mengutus tiga serangan (suriya) lainnya pada tahun ini.
Tahun 626 M, 4 H, usia 56 tahun
Serangan terhadap Bani-Nadir (suku Yahudi).
Melakukan dua serangan (suriya) lainnya pada tahun ini.
Tahun 627 M, 5 H, usia 57 tahun
Perampokkan di Dumatu’l-Jandel
Perang Parit. Penduduk Mekah dan beberapa orang Yahudi dari Madinah berupaya untuk menyerang umat Islam di Medinah. Umat Islam menggali parit di sekeliling kota dan penduduk Mekah memilih untuk kembali pulang tanpa berperang.
Serangan terhadap Bani-Qurayzah, salah satu suku Yahudi, di mana Muhammad membunuh semua laki-lakinya dan membawa para perempuan dan anak-anak sebagai tawanan. Hal ini dilakukan sebagai hukuman atas keterlibatan mereka di dalam Perang Parit.
Pembunuhan terhadap seorang pemimpinYahudi lainnya, Abi-Rafa.
Serangan terhadap Bani-Lihyan (suku Arab)
Serangan terhadap Zi-kerd.
Serangan terhadap Bani al-Mustaliq (suku Yahudi). Isteri kedua Muhammad, Aisah, dituduh memiliki hubungan gelap dengan pria lain selama terjadinya serangan ini.
Tahun 628 M, 6 H, usia 58 tahun
Muhammad tidak memimpin satupun pertempuran pada tahun ini, tetapi ia mengirimkan beberapa serangan (suriya).
Tahun 629 M, 7 H, usia 59 tahun
Mengirimkan lima serangan (suriya) di tahun ini.
Serangan ke Khaybar (kampung orang Yahudi).
Tahun 630 M, 8 H, usia 60 tahun
Serangan di Mu’ta.
Pertempuran di Zat-al-Salasil
Penyerbuan dan penaklukkan kota Mekah,
Pertempuran di Hunan.
Serangan terhadap Utas
Serangan terhadap al-Ta-if
Tahun 631 M, 9 H, usia 61 tahun
Tahun ini dikenal sebagai tahun Penundukkan Diri. Orang-orang dari seluruh daerah Arab yang belum diserang akhirnya mengirimkan pesan kepada Muhammad dan berkata, “Kami menundukkan diri kepadamu.” Sejarah islam menyebutkan ada empat puluh delapan kelompok yang berbeda yang mengirimkan pesan ini kepada Muhammad. Muhammadpun mulai mengirimkan surat kepada para pemimimpin dan raja-raja kota di sekitarnya agar mereka menerima Islam.
Serangan di Ta-buk.
Tahun 632 M, 9 H, usia 62 tahun
Mengutus para gubernur (para amir) untuk menguasai wilayah-wilayah di mana orang-orang dan suku-sukunya setuju untuk menerima kenabiannya.
Tahun 633 M, 10 H, usia 63 tahun
Melaksanakan praktek naik haji.
Memberikan khotbah terakhirnya, dikenal juga dengan Khotbah di Bukit Arafat.
Tahun 634 M, 11 H, usia 64 tahun
Terkena demam.
Meninggal dunia.
KERANGKA WAKTU YESUS[1]
Tahun 6/5 SM
Lahir di Betlehem.
Tahun 5/4 SM
Maria danYusuf membawa Yesus ke Mesir untuk melarikan diri dari Herodes yang memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki yang berusia di bawah dua tahun.
Tahun 4/3 SM, usia 2 tahun
Maria danYusuf kembali ke rumah mereka di Nazaret
Tahun 6/7 M, usia 12 tahun
Tertinggal di Bait Tuhan di Yerusalem setelah keluarganya memutuskan untuk kembali ke rumah mereka.
Tahun 26 M, usia 32 tahun
Yohanes Pembaptis mulai mengajar secara terang-terangan.
Pelayanan dimulai
Tahun 26/27, usia 32 atau 33 tahun
Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dan mulai mengajar di depan orang banyak.
Melakukan mujizat yang pertama – mengubah air menjadi anggur.
Mengusir keluar para penukar uang dari Bait Tuhan di Yerusalem.
Berbicara dengan perempuan Samaria di tepi sumur.
Menyembuhkan anak lelaki seorang perwira.
Berkhotbah di sinagoga di kampung halamannya di Nazaret, tetapi ditolak.
Tahun kedua pelayanan
Menyembuhkan orang yang kerasukan setan di sinagoga di Kapernaum.
Menyembuhkan orang yang sakit kusta.
Menyembuhkan orang yang lumpuh.
Menyembuhkan orang timpang di Kolam Bethesda.
Menyembuhkan tangan orang yang lumpuh.
Memilih kedua belas muridnya dan berkhotbah Ucapan Nasehat di Bukit.
Menyembuhkan pegawai dari tentara Romawi.
Membangkitkan anak laki-laki dari seorang janda yang telah meninggal.
Meredakan badai di Danau Galilea.
Menyembuhkan orang kerasukan setan yang tinggal di kuburan.
Membangkitkan anak perempuan yang telah mati dan menyembuhkan seorang perempuan yang mengalami pendarahan.
Tahun ketiga pelayanan
Mengutus duabelas murid untuk menyampaikan pesannya.
Memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan.
Menyembuhkan anak perempuan seorang perempuan bukan Yahudi.
Menyembuhkan seorang yang bisu-tuli.
Memberi makan empat ribu orang.
Menyembuhkan orang buta.
Menyembuhkan seorang anak lelaki yang memiliki gejala epilepsi.
Menyembuhkan sepuluh orang penderita kusta.
Mengampuni perempuan yang kedapatan sedang berzinah.
Menyembuhkan orang buta.
Membangkitkan Lazarus dari kematian.
Perjalanan akhir menuju ke Yerusalem
Tahun 30, usia 35 atau 36 tahun
Menyembuhkan satu atau dua orang buta diYerikho.
Makan malam bersama Lazarus, Maria dan Marta.
Masuk ke Yerusalem diiringi dengan sorak sorai orang banyak (Hari Minggu, sebelum kematiannya)
Makan malam terakhir bersama murid-muridnya (Hari Kamis, sebelum kematiannya)
Ditahan, diajukan ke pengadilan, dan disalibkan (Hari Jumat)
Bangkit dari kematian dan menampakkan diri kepada para pengikutnya (Hari Minggu, setelah kematiannya)
[1] Tanggalan dalam kerangka waktu ini berasal dari Life Application Bible (Netherlands: Tyndale House Publishers, 1999). Tahun kelahiran Yesus yang sebenarnya masih menjadi perdebatan di antara para sarjana Kristen. Beberapa dekade lalu diyakini bahwa Yesus lahir antara tahun 2 atau 3 SM dan karena itu disalibkan dan bangkit pada usia sekitar 33 tahun. Para ahli Perjanjian Baru mengatakan bahwa ia lahir tahun 4 SM (Ben Witherington III, New Testament History) atau tahun 6 atau 5 SM (Life Application Bible). Urutan dalam daftar kerangka waktu berasal dari “Summary of the Travel and Acts of Jesus” oleh Gordon Smith dari Plenarth, United Kingdom. Bahan ini belum diterbitkan, tetapi dapat diakses dalam internet di Christian Classics Ethereal Library pada www.ccel.org/bible/phillips/JBPhillips.htm. Website ini dikelola oleh Calvin College, Grand Rapids, Michigan. Para pembaca perlu berhati-hati terhadap metodologi yang digunakan oleh Gordon untuk menjelaskan kerangka waktunya. Ia menulis
Berbagai kisah perjalanan dan penginjilan Yesus telah dikumpulkan bersama-sama dan diatur untuk mengikuti apa yang dinamakan, “keserasian Injil.” Usaha ini dilakukan untuk mengurutkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus secara kronologis.
Karena Injil tertulis bukan secara biografi sejarah melainkan sebagai kumpulan ajaran yang ditujukan untuk orang-orang yang berbeda – Yahudi, Roma, Yunani dan seluruh dunia – maka tidak akan pernah ada persetujuan secara menyeluruh mengenai keserasian tersebut.
Dengan menyusun Injil secara demikian, berbagai perbedaan tersebut dapat disesuaikan, dengan membuat asumsi umum seperti:
Injil Markus disusun berdasarkan urutan waktu;
Injil Lukas umumnya disusun berdasarkan urutan waktu, tetapi ada beberapa perbedaan. Hal ini mungkin disebabkan karena ia harus menyesuaikan dengan berbagai saksi mata dan tulisan yang ada;
Matius mengelompokkan beberapa materi untuk memperoleh maksud dari pengajaran Yesus. Oleh karena itu, urutannya tidak selalu kronologis;
Hubungan antara Injil Yohanes dengan ketiga Injil lainnya telah dikembangkan oleh beberapa penelitian para ahli selama lebih dari dua abad. Meskipun mereka masih belum bersepakat, namun hubungan itu diasumsikan dapat dipertanggung-jawabkan.
Gordon Smith, seorang pensiunan insinyur, dan sekarang menjadi sejarawan mengenai angkatan laut, penulis sekaligus juga dosen yang mengajar tentang kapal laut, menghabiskan waktu tiga tahun untuk menguji Injil dan menyusun informasi ini.
Langganan:
Postingan (Atom)