MUHAMMAD : TUJUH TAHUN PERTAMA DI MEDINA
USIA : 53-60 TAHUN
YESUS : AKHIR SATU SAMPAI DUA TAHUN PELAYANANNYA SAMPAI PERJALANAN AKHIR DI YERUSALEM
USIA : 34 – 35 TAHUN.
Cara Yesus menjalankan pelayanannya tetap sama mulai dari awal sampai pada akhirnya. Namun dalam kehidupan Muhammad, ada beberapa peristiwa yang menandai perubahan besar. Salah satunya adalah perjalanan dari Mekah ke Medinah yang dikenal dengan hijrah. Pada bab ini kita akan melihat apa yang terjadi setelah kepindahan Muhammad dan bagaimana ia bekerja dengan dua belas orang pemimpin yang menyebarkan Islam. Kita juga akan melihat bagaimana Yesus bekerja dengan keduabelas muridnya dalam menyebarluaskan pesannya.
Kita juga akan melihat sebuah alur cerita yang mempengaruhi kehidupan mereka – yaitu penentangan yang mereka terima dari masyarakat Yahudi atau kelompok agama pada saat itu.
TENTARA MUHAMMAD DALAM PENYEBARAN ISLAM
Pada bab sebelumnya, kita mengetahui kisah Muhammad yang membuat perjanjian dengan dua suku terkuat di Medina. Dalam bab ini, kita akan melihat bahwa ia mulai mengirimkan para pengikutnya dalam kelompok-kelompok kecil dari Mekah untuk tinggal di Medinah. Hal ini memakan waktu beberapa bulan.
Kesedihan Muhammad atas Mekah
Ketika Muhammad telah siap pindah dari Mekah ke Medinah, ia pergi ke puncak gunung yang dapat melihat Mekah dari atasnya, dan berkata, “Oh Mekah, aku bersumpah, kamu adalah kota yang paling dekat dengan hatiku, dan kalau bukan karena pendudukmu yang mengusir aku, aku tidak akan meninggalkanmu.”[1]
Dengan kata lain, Muhammad mengatakan betapa ia sangat mencintai Mekah. Ingatlah kata-kata Muhammad, karena kita akan kembali mengunjungi kota ini setelah ia kembali ke Mekah, delapan tahun kemudian.
Setelah itu, Muhammad dan salah seorang pengikutnya yang sejati, Abu Bakar, meninggalkan Mekah pada malam hari dan tiba di Medinah dengan selamat. Hal ini dikenal dengan hijrah kedua, atau naik haji.[2] Kalender Islam menandai tanggalannya dimulai dari tahun hijrah ini. Oleh karena itu, tahun 5 Hijrah, berarti lima tahun setelah setelah kepindahan Muhammad ke Medinah.
Setelah beberapa tahun mencari perlindungan, Muhammad sekarang berada dalam posisi yang aman. Lalu apa yang ia lakukan?
Ijin untuk berperang
Di Mekah, Muhammad menghabiskan waktu tiga belas tahun untuk bekerjasama dan bertoleransi, tanpa menggunakan kekerasan. Ia seringkali mengampuni orang-orang yang menyakitinya dan tidak mencoba untuk membalas dendam. Setelah ia pindah ke Medinah, anak domba yang lemah lembut ini berubah menjadi singa yang mengaum.
Sebelum berakhir satu tahun pertamanya di Medinah, Muhammad mengumumkan bahwa Allah telah memberikannya ijin untuk berperang. Sejarah Islam mencatat:
“Kemudian rasul Allah mempersiapkan diri untuk berperang dalam melaksanakan perintah Allah, memerangi musuh-musuhnya dan mereka yang menyembah banyak tuhan, yang berada di dekatnya dan yang Tuhan perintahkan untuk diperanginya. Ini adalah tahun ke tiga belas setelah panggilannya.”[3]
Selama tahun-tahun pertamanya di Medinah, Muhammad melakukan sendiri beberapa perampasan, tetapi ia juga mengirim kerabat atau pengikut setianya untuk melakukan perampasan. Ini termasuk juga mengirimkan pamannya, Hamzah, dengan tiga puluh tentara untuk melakukan serangan mendadak terhadap sebuah kereta dari Mekah dan mengirim sepupunya untuk menyerang beberapa orang suku Qurais, ketika mereka pergi keluar dari Mekah.[4]
Orang-orang Mekah tidak mengorganisir satupun serangan berskala besar terhadap Muhammad setelah ia meninggalkan Mekah. Namun, Muhammad memerintahkan sebuah serangan besar terhadap kereta dari Mekah yang akan pergi ke Siria atau kembali ke Mekah. Ini adalah sebuah titik balik besar dalam sejarah Islam.
Serangan ini lebih dari sekedar kepentingan ekonomi, ini adalah serangan terhadap pertahanan Mekah. Kereta-kereta ini hanya keluar dari Mekah dua kali dalam setahun. Mereka kembali dengan membawa makanan, gula, garam, dan pakaian yang dibutuhkan oleh orang-orang untuk bertahan hidup. Mekah adalah padang pasir yang tidak dapat menghasilkan cukup banyak makanan, jadi mereka benar-benar bergantung pada hasil perdagangan. Jika Muhammad berhasil melakukan penyerangan terhadap kereta-kereta dagang tersebut, maka Mekah akan mengalami penderitaan kelaparan.
Sampai suatu hari, pemimpin dari sebuah kereta, Abu Sufyan, mendengar tentang kisah Muhammad ini dan karenanya menghindari tempat di mana Muhammad sedang menunggu untuk merampok. (Ingatlah orang ini karena ia akan menjadi bagian dari kisah Muhammad lainnya nanti). Orang-orang dari Mekah kemudian memutuskan agar Muhammad diberikan hukuman atas maksudnya itu. Mereka ingin berperang dengannya, dan dua kelompok bertemu di lembah Badar. Muhammad hanya membawa sekitar tiga ratus orang bersamanya, tetapi mereka memenangkan peperangan dan membunuh banyak penduduk Mekah (Perang Badar, tahun 624 M, 2 H).[5] Hal ini menjadikan Muhammad sebagai pemimpin terbesar di Arab. (Walaupun ia telah mengalahkan musuh-musuh mereka, namun kota Mekah tetap berada di bawah kepemimpinan suku Qurais pada saat itu.)
Perang Badar dianggap sebagai perang suci oleh semua orang. Muhammad mengatakan bahwa malaikat Gabriel datang kepadanya dengan memberikan wahyu bagaimana mencapai kemenangan mereka. Ini adalah surat ke 8 dalam Al-Quran, yang dinamakan, “Rampasan Perang.” Bab ini berbicara tentang peperangan dan memberikan beberapa instruksi praktis. Mari kita lihat empat hal penting dalam hal ini:
1. Wahyu tersebut mengatakan kepada umat Islam bagaimana membagi barang-barang yang mereka rampas dari pasukan yang kalah perang.
“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan para pelancong.”
-- Surat 8:41 – Terjemahan Ali
Dengan kata lain, Muhammad memperoleh 20% (bagian yang akan ia distribusikan kepada orang-orang miskin) dan sisanya 80% dibagi di antara orang-orang yang ikut berperang dengannya. Ini kedengarannya sangat baik ketika tentara Anda hanya berjumlah tiga ratus orang, tetapi kemudian tentara Muhamad bertambah menjadi sepuluh ribu orang. Dengan jumlah tentara sebesar itu, maka setiap orang hanya mendapat 0,008% dibandingkan Muhammad yang 20%. Ini menyebabkan timbul keluhan di antara para tentara.
2. Wahyu kemudian memerintahkan umat Islam untuk terus memerangi siapapun yang menolak Islam.
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (orang-orang yang tidak percaya dan menyembah banyak tuhan, atau menyembah yang lain selain Allah), dan supaya agama itu (menyembah) semata-mata untuk Allah (di seluruh dunia).”
-- Surat 8:41 --
“Hai nabi (Muhammad), kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh .... karena mereka (orang-orang kafir) itu adalah kaum yang tidak mengerti.”
-- Surat 8:65 --
Jadi, cara paling aman dari serangan tentara Muhammad adalah dengan menerima Islam.
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, jika mereka berhenti (dari kekafirannya) niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku kepada mereka sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.”
-- Surat 8:65 --
3. Wahyu ini memberitahukan umat Islam untuk bersiap-siap menghadapi misi berikutnya.
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang ... untuk menggentarkan musuh Allah dan musuhmu. ”
-- Surat 8:60 --
4. Wahyu ini memerintahkan mereka untuk berperang dengan keras.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya (baik dengan lidah maupun dalam pikiran) agar kamu beruntung.”
-- Surat 8:45 --
Muhammad mengajarkan bahwa misinya untuk menyebarluaskan Islam adalah dengan menggunakan perang suci. Ia memberikan otoritas kepada para pengikutnya untuk menyerang orang-orang yang tidak percaya dan merampasi barang-barang mereka.
UPAYA PENDUDUK MEKAH MENGHENTIKAN MUHAMMAD
Seluruh tanah Arab merasa terancam oleh Muhammad. Di tahun 5 H, beberapa penyembah berhala dari Mekah kemudian bergabung dengan orang-orang Yahudi di Medinah untuk menyerang Muhammad. Umat Islam lalu menggali parit di sekitar kota Medinah dan berhasil menakut-nakuti orang-orang Mekah, yang kemudian menarik diri untuk mundur. Tidak terjadi perang pada saat itu. Dikenal sebagai Perang Parit, peristiwa ini sangat penting bagi sejarah Islam karena jika Muhammad menderita kekalahan, maka masa depan Islam akan terancam.
Demikianlah, Muhammad terus melanjutkan penyebaran Islam dengan cara militer. Ia sendiri ditemani oleh para pejuang dalam dua puluh tujuh perampokan, dan sembilan diantaranya ia lakukan sendiri. Umat Islam melakukan tiga puluh delapan perampokan dan perjalanan sementara Muhammad sendiri tinggal di Medinah.[6]
Muhammad terus menyampaikan wahyu dari malaikat Gabriel sepanjang waktu tersebut. Pesan-pesan ini dikumpulkan dan ditambahkan ke dalam Al Quran, seperti biasanya. Wahyu yang baru ini mengijinkan penyebaran Islam dengan cara kekerasan. Sekarang, mari kita lihat Yesus pada akhir perjalanan hidupnya dan bagaimana ia memerintahkan para murid untuk memberitakan pesannya.
YESUS MENGUTUS MURID-MURIDNYA UNTUK
MEMBERITAKAN INJIL
Tidak seperti Muhammad, yang berubah secara drastis setelah pindah ke Medinah, Yesus tidak merubah pesan maupun cara menyampaikan pesan tersebut. Ketika ia memasuki tahun ketiga pelayanannya, ia terus berkeliling, berkhotbah di sinagoga atau tempat-tempat umum, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan dan melakukan berbagai mujizat. Orang banyak tertarik kepadanya dan pemuka-pemuka agama merasa terancam dengan kehadirannya. Dalam keadaan seperti ini, ia memberikan perintah kepada keduabelas muridnya untuk pergi memberitakan Injil tanpanya. Ia kemudian memanggil kelompok yang lebih besar lagi yang terdiri dari tujuh puluh dua orang untuk melakukan hal yang sama. Mari kita lihat secara rinci apa yang ia katakan kepada mereka.
Perintah untuk berkeliling
Ketika saya menyampaikan pesan Yesus kepada murid-muridnya, saya akan membandingkannya dengan instruksi yang disampaikan Muhammad kepada para pengikutnya.
1. Muhammad memberikan otoritas kepada pengikutnya untuk melakukan perang, tetapi Yesus memberi perintah yang berbeda kepada murid-muridnya. Kitab Matius mengatakan:
“Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.”
-- Matius 10:1 --
Setelah memberikan mereka kuasa, Yesus memerintahkan para pengikutnya untuk:
“Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan.”
-- Matius 10:8 --
2. Muhammad memberikan perintah kepada pengikutnya tentang bagaimana membagi barang rampasan dari orang-orang kafir. Yesus melarang para muridnya untuk membawa uang atau menerima uang dari orang-orang..
“Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.”
--- Matius 10:8-9 –
Tetapi Yesus mengijinkan para pengikutnya untuk menumpang di rumah orang dan makan bersama mereka.
“Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.”
--- Lukas 10:7 –
3. Jika sebuah kota menolak Islam, Muhammad memerintahkan umat Islam untuk menyerangnya. Tetapi Yesus berkata:
“Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”
--- Matius 10:14-15 –
Dengan kata lain, Yesus berkata bahwa kota yang menolak pesannya akan dihukum oleh Tuhan pada hari Penghakiman, bukan oleh para murid di saat ini.
Sama seperti yang dilakukan dalam hidupnya, Yesus memberitahu para pengikutnya untuk menjauhi mereka yang menentang.
“Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain”
--- Matius 10:23 –
4. Muhammad memerintahkan orang-orangnya untuk memerangi orang-orang kafir. Yesus malah berkata kepada para pengikutnya untuk waspada terhadap orang-orang tidak percaya yang akan menganiaya mereka. Ia berkata, mereka akan dijual, ditangkap, dan dipenjarakan (Matius 10:16-19).
Para murid mengikuti perintah Yesus.
“Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.”
--- Markus 6:12-13 –
KONFLIK DENGAN ORANG-ORANG YAHUDI
Ada alur cerita utama dalam kehidupan Yesus dan Muhammad – yaitu konflik mereka dengan orang-orang atau pemuka-pemuka agama Yahudi. Kebanyakan interaksi Muhammad dengan orang-orang Yahudi terjadi ketika ia masih di Medinah, karena di Mekah hanya terdapat sedikit orang Yahudi. Sementara Yesus, yang adalah juga orang Yahudi, berinteraksi dengan orang-orang Yahudi seumur hidupnya. Meskpun ia mengalami konflik dengan pemuka-pemuka agama Yahudi. Mari kita lihat bersama apa yang terjadi dalam hidup Muhammad.
Konflik Muhammad dengan orang Yahudi
Komunitas Yahudi terbesar di Arab terdapat di Medinah. Setelah Muhammad pindah ke kota ini, ia berinteraksi dengan orang-orang Yahudi setiap hari. Ia berdagang dengan mereka, mengunjungi rumah mereka dan makan bersama mereka.
Muhammad berharap orang-orang Yahudi dapat menerima Islam karena ia mengajarkan hanya ada satu Tuhan, sama seperti yang diyakini oleh orang Yahudi. Namun orang-orang Yahudi tidak terkesan dengan ajaran Muhammad. Mereka meminta tanda kalau ia benar-benar seorang nabi. Al-Quran menulis:
“Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mujizat-mujizat dari tuhannya?”
--- Surat 29:50 –
Muhammad menjawab, bahwa ia hanya seorang manusia, seorang pemberi peringatan, dan Al-Quran itu sendirilah yang menjadi satu-satunya tanda yang dibutuhkan oleh orang-orang.
“Katakanlah, “Sesungguhnya tanda-tanda itu hanya dari Allah, dan aku hanyakah seorang pemberi peringatan yang nyata.” Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa kami telah menurunkan kepadamu Alkitab (Al Quran) yang dibacakan kepada mereka.”
--- Surat 29:50-51 –
Muhammad berdebat dengan orang-orang Yahudi selama tiga tahun. Kemudian yang mengejutkan mereka adalah ia memerintahkan untuk membunuh setiap orang Yahudi yang ketahuan mengritiknya dengan puisi (3 H). Seperti inilah peristiwa itu terjadi.
Dalam sebuah pertemuan dengan beberapa pengikutnya, Muhammad bertanya, “Siapakah yang akan membunuh orang itu bagiku?” Beberapa orang Islam bersedia. Pada suatu malam, mereka pergi ke rumah orang itu dan mengajaknya berjalan-jalan. Setelah mereka berjalan dan berbincang-bincang sebentar, seorang Islam memberikan sebuah tanda, dan mereka menyerang mereka dengan pedang dan pisau belati, menikamnya sampai mati.[7]
Perilaku Muhammad terhadap orang-orang Yahudi telah berubah. Ia memerintahkan pembunuhan yang lain, dan karena mereka menolak untuk menerima Islam dan itu menjadi ancaman baginya, ia secara sistematis berusaha mengusir mereka dari wilayah Arab.
Pertama, ia menyerang Bani Nadir (suku Nadir, pada 4 H). Ia mematahkan lengan mereka dan memaksa mereka untuk meninggalkan tempat itu. Dua tahun kemudian ia merampok kampung Bani Qurayzah (Kor-AY-zuh). Ia mengepung mereka. Setelah mereka menyerah, ia membunuh semua laki-laki (kurang lebih enam ratus orang) dan membawa wanita dan anak-anak menjadi budak (5 H).[8] Dan akhirnya ia membawa orang-orang Yahudi keluar dari Khaybar (7 H) kampung orang Yahudi di dekat Madinah.
Muhammad menghidupi diriya dan keluarganya dengan barang-barang yang ia rampas dari orang-orang Yahudi di Khaybar.
“Telah diceritakan atas nama Umar, yang berkata, “Barang-barang milik Bani Nadir adalah salah satu hadiah yang diberikan Allah kepada rasulnya, karena tidak ada perjalanan yang dilakukan, baik dengan menggunakan pasukan berkuda ataupun pasukan berunta. Barang-barang ini dikhususkan bagi Rasul Kudus. Ia akan memenuhi kebutuhan keluarganya dari penghasilan ini dan menggunakan sisanya untuk membeli kuda dan senjata yang dipersiapkan untuk jihad.”[9]
Muhammad tidak mentolerir kritikan dari orang-orang Yahudi dan dia tidak mengijinkan mereka hidup dalam damai karena takut mereka akan bergabung dengan musuh-musuhnya untuk berperang dengannya.
Pertemuan Yesus dengan pemuka agama Yahudi
Enam ratus tahun sebelum zaman Muhammad, orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, juga mengritik sebuah pesan baru. “ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal.” (Lukas 11:53).
Sama seperti yang mereka lakukan terhadap Muhammad, orang-orang Yahudi meminta tanda dari Yesus.
“Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.”
-- Matius 12:38-40 --
Yesus menggunakan “tanda Yunus” untuk mengatakan bahwa ia akan mati dan tinggal di dalam kubur selama tiga hari sebelum akhirnya ia bangkit hidup kembali.
Yesus juga menawarkan kuasa kesembuhan dan tanda-tanda mujizat sebagai tanda bahwa ia memiliki kuasa Ilahi. Ketika Yesus mengajar murid-muridnya, ia berkata, “Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.” (Yohanes 14:11; lihat juga Matius 9:2-7).
Yesus menunjukkan rasa kesal dan marah kepada pemuka-pemuka agama Yahudi. Injil mencatat, beberapa kali ia bersuara keras menentang mereka (Matius 23, Markus 7:1-23; Yohanes 8:42-59). Ia juga menggunakan perumpamaan untuk memprotes tindakan mereka (Matius 21:28-46; 22:1-14). Namun, ia tidak berusaha untuk melukai satupun di antara mereka secara fisik.
Kita telah melihat apa yang diperbuat oleh Yesus dan Muhammad dalam setengah putaran kedua pelayanan mereka, sekarang mari kita melihat kehidupan pribadi mereka.
KEHIDUPAN PRIBADI
Setelah Muhammad pindah ke Madinah, kehidupan pribadinya berubah secara signifikan. Ketika di Mekah, ia tetap menikah dengan satu orang isteri, Kadijah, yang meninggal setelah dua puluh lima tahun pernikahan. Selama tahun pertama di Madinah, Muhammad menandatangani kontrak kawin dengan anak perempuan salah satu pengikut setianya, Abu Bakar. Hal ini tidak tampak aneh, kecuali bahwa anak perempuan itu masih berusia enam tahun.[10]
Sejarah Islam mengatakan bahwa Muhammad tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan bernama Aisah itu, sampai ia berusia sembilan tahun, tetapi pengaturan ini sangatlah tidak biasa, bahkan dalam masyarakat Arab sekalipun. Ia tetap menikah dengan Muhammad sampai ia meninggal, dan pada saat itu Aisah baru berusia delapan belas tahun. Meski demikian, Aisah bukanlah satu-satunya isteri Muhammad. Muhammad menikahi sebelas perempuan lainnya selama ia berada di Madinah. Muhammad menghabiskan banyak tenaga untuk mengurusi isteri-isterinya. (Saya menjelaskan dampak dari isteri-isterinya ini secara rinci dalam bab 16)
Sebaliknya, kami tidak mempunyai catatan bahwa Yesus pernah menikah. Ia menghabiskan waktunya dengan para muridnya dan terutama dengan tiga orang yang terdekat di antara mereka, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes (Matius 17:1, Markus 5:37, 14:33). Ia memelihara hubungan baik dengan ibunya dan saudara-saudaranya dan ia juga memiliki hubungan akrab dengan Maria, Marta dan saudara mereka, Lazarus. Sekelompok kecil perempuan berjalan mengikuti Yesus dan membantunya. (Lihat bab 16 untuk informasi lebih jelas)
KESIMPULAN
Kita sekarang sudah mendekati akhir dari hidup baik Yesus maupun Muhammad. Bab berikutnya dari buku ini akan melihat tiga tahun terakhir dari kehidupan Muhammad (usia 61-63 tahun) dan beberapa bulan terakhir dalam kehidupan Yesus (usia sekitar 35 – 36 tahun).
[1] Ibn Kathir, The Beginning and the End, vol. 2, bagian 3, hal 215.
[2] Ibn Ishaq, hal. 324 ff.
[3] Ibid. hal 280.
[4] Ibid, hal 281 – 286.
[5] Ibid, hal 297.
[6] Ibid, hal 257
[7] Ibid, hal 659-660
[8] Ibid, hal 368.
[9] The Correct Books of Bukhari, vol. 5, buku 59, no. 447.
[10] The Correct Books of Muslim, buku 19, no. 4347.
Senin, 10 Agustus 2009
8. HARI-HARI TERAKHIR
MUHAMMAD : TIGA TAHUN TERAKHIR DALAM HIDUPNYA
USIA: 60 – 63 TAHUN
YESUS : BULAN-BULAN TERAKHIR DALAM HIDUPNYA
USIA : 35 – 36 TAHUN.
Ketika kehidupan baik Yesus maupun Muhammad akan berakhir, mereka berdua sesungguhnya sedang berada dalam puncak pengaruh mereka. Dalam bab ini, Anda akan melihat:
Kemenangan mereka atas kota-kota yang pernah menolak mereka
Perintah terakhir kepada para pengikut mereka
Bagaimana mereka masing-masing meninggal dunia
MUHAMMAD KEMBALI KE MEKAH
Delapan tahun setelah pindah ke Medinah, Muhammad telah mencapai tingkat kekuasaan baru yang tinggi. Ia memiliki sepuluh ribu tentara pada saat itu, yang dipimpin oleh empat orang kepala divisi dan dirinya sendiri.[1] Tahun-tahun sebelumnya, ketika orang-orang mengusiknya di pasar di Mekah, Muhammad telah memberi peringatan kepada mereka, “Hai orang-orang Mekah, aku bersumpah demi nama Allah, aku akan datang untuk membunuh kalian semua.”[2] Dan saat ini ia telah siap melakukan tindakan seperti yang telah dikatakan sebelumnya.
Ketika tentara Muhammad maju, gurun pasir menjadi hitam dengan kuda-kuda dan penunggannya. Kota Mekah mengirim mata-mata, termasuk Abu Sufyan, pemimpin kereta yang diserang oleh Muhammad ketika ia baru tiba di Mekah. Orang ini kemudian tertangkap, lalu ia berdiri di hadapan Muhammad, disuruh memilih untuk pindah agama demi keselamatan hidupnya. Demi membela kehormatan pemimpin tersebut, Muhammad berkata bahwa selama penyerangan, umat Islam akan melindungi setiap orang yang mengambil tempat perlindungan di rumah pria itu. Muhammad laklu mengembalikan pria itu ke Mekah dengan pesan, “Dia yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan selamat. Dan dia yang menutup pintu rumahnya sendiri dan yang masuk ke dalam mesjid akan selamat.” Ketika orang-orang mendengar berita ini, mereka menyebar masuk ke rumah mereka dan mesjid.[3]
Ketika Muhammad hendak masuk ke dalam kota, Muhammad memanggil pejuang-pejuang Ansar menghadapnya. Orang-orang Ansar adalah orang-orang Medinah, dan bukan orang Mekah, yang telah memeluk agama Islam. Ketika mereka mengelilinginya, Muhammad berkata, “Apakah engkau melihat tentara Qurais (dari Mekah)?” Ia lalu membuat gerakan dengan tangannya dan berkata, “Pergi dan bunuhlah mereka.” Kata bunuhlah dalam bahasa Arab menggambarkan seperti para petani yang memanen tuaian mereka dengan sebuah sabit. Dengan kata lain, Muhammad memerintahkan mereka untuk “Penggallah leher mereka dari tubuh mereka seperti kamu memotong buah dari ranting pohon.”[4]
Alasan Muhammad memilih Ansar untuk tugas ini mungkin karena orang-orang Islam yang dari Mekah akan memiliki pergumulan untuk membunuh orang-orang dari suku mereka dan tetangga mereka sendiri.
Sementara para tentara memasuki kota dengan menunggang kuda, beberapa perempuan lari keluar dan secara histeris menabrak bagian depan kuda dengan tangan mereka, memohon agar pasukan-pasukan itu tidak membunuh mereka dan anak-anak mereka. Mereka menjerit dan mencoba mendorong si penunggang kuda. Bayangkan peristiwa ini! Orang-orang ketakutan dan putus asa.[5] Mekah melakukan sedikit pertahanan, dan Muhammad dengan mudah mengambil alih kendali.
Divisi Muhammad membawa bendera khusus. Bendera itu berwarna hitam dengan sebuah kata tertulis dalam bahasa Arab: Penghukuman.[6]
Muhammad mengambil alih kendali atas Ka-abah
Muhammad mengendarai kudanya melalui jalan-jalan di Mekah sementara orang-orang di dalam kota itu tinggal diam di dalam rumah mereka. Ia memasuki Ka-abah, mencium Batu Hitam dan mulai berjalan mengelilinginya. Ketika ia sampai di sebuah patung yang berdekatan dengan Batu Hitam, ia menusuk matanya dengan busur panah yang ada di tangannya. Setelah sembahyang siang pada hari yang sama, Muhammad memerintahkan bahwa semua patung yang ada di sekitar Ka-abah dikumpulkan, dibakar dalam api dan dihancurkan.[7] Umat Islamlah yang kemudian memelihara Ka-abah (Surat 9:18)
Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi ketika Yesus kembali ke Yerusalem, rumah imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang berupaya untuk membunuhnya.
YESUS KEMBALI KE YERUSALEM
Selama bulan-bulan terakhir dari tahun ketiga pelayanannya, Yesus juga berada dalam puncak pengaruh dan popularitasnya. Pada saat yang bersaman, ia mengingatkan murid-muridnya bahwa ia akan dibunuh ketika ia kembali ke Yerusalem.
“Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
-- Matius 16:21; lihat juga Lukas 13:31-35 --
“Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali”
-- Matius 17:23 --
Meskipun murid-muridnya protes, namun Yesus tetap melanjutkan perjalanan ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ketika ia sampai di kota itu, ia membuat prosesi masuk dengan cara yang sangat mengejutkan.
Ia meminta murid-muridnya untuk mencari seekor keledai muda baginya, lalu Yesus menaiki keledai itu masuk ke dalam kota. Ketika ia berjalan, kerumunan orang banyak berbaris di sepanjang jalan. Beberapa orang melemparkan jubah mereka di depan jalannya, sementara yang lainnya memotong ranting-ranting pohon dan melemparkannya di depan jalannya. Mereka dengan suara keras memuji Tuhan, dan seluruh kota Yerusalem menjadi gempar (Lukas 19:28-44, Matius 21:1-11).
Yesus menangisi kota Yerusalem
Ketika Yesus sudah hampir dekat di kota Yerusalem dan melihat kota itu, ia menangis karena ia tahu masa depan kota Yerusalem itu. Ia berkata,
“Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Tuhan melawat engkau.”
-- Lukas 19:41-44; lihat juga Matius 23:37-39l Lukas 13:34-35 --
Nubuat Yesus digenapi tidak sampai empat puluh tahun kemudian. Di tahun 70 M, Jenderal Romawi Titus, menaklukan dan menghancurkan kota Yerusalem dan membakar bait Tuhan sampai rata dengan tanah.
Jadi sekarang kita telah mengetahui kisah Yesus dan Muhammad pada akhir hidup mereka ketika mereka kembali ke kota yang menjadi pusat kehidupan spiritual para pengikut mereka. Muhammad kembali sebagai seorang penakluk. Sedangkan, Yesus, seperti yang kita lihat, kembali sebagai korban persembahan. Pada bagian terakhir dari bab ini, mari kita lihat bagaimana kedua pemimpin ini meninggal dunia dan apa yang mereka berikan sebagai perintah terakhir kepada para pengikut mereka.
PENYERAHAN KOTA ARAB
Setelah menaklukkan Mekah, orang-orang dari seluruh Arab, yang belum diserang, mengirimkan penyampai pesan kepada Muhammad dengan berita, “Kami menyerah kepadamu.” Sejarah Islam mencatat ada empat puluh delapan kelompok yang berbeda, yang menyerahkan diri kepada Muhammad pada tahun itu (9 H). Hanya tinggal sedikit saja kelompok orang-orang di Arab yang ditundukkan oleh Muhammad.[8] Orang-orang yang ditaklukkan harus membayar zakat, yaitu pajak yang besarnya 2,5% dari penghasilan seseorang.
Muhammad mengirim surat kepada penguasa asing
Sekarang setelah Muhammad menaklukkan seluruh wilayah Arab, ia menghubungi para penguasa dari wilayah di luar Arab dan mengundang mereka untuk menerima Islam dan aturan Islam. Ia mengirim surat resmi dengan stempel pribadinya kepada (1) Kaisar Roma, (2) Raja Iran, (3) Raja Ethiopia, (4) Gubernur Roma di Mesir, (5) Raja Oman, (6) Raja Bahrain, (7) Raja Siria, (8) Raja Yaman.[9] Surat-surat ini memperingatkan para penguasa itu untuk menyerah kepada Islam, jika tidak mereka akan menderita. Sebuah contoh yag bagus adalah surat kepada Kaisar Roma, yang ditulis:
“Dari Muhammad, Rasul Allah,
Kepada Herocles, Kaisar Roma,
Peluklah agama Islam dan engkau akan diselamatkan. Tetapi jika engkau menolak tantanganku ini, engkau akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi terhadapmu dan terhadap orang-orangmu.”[10]
Muhammad menggunakan kata diselematkan untuk menunjukkan kata selamat dari tentaranya, dan bukan menunjuk pada selamat dari murka Tuhan pada hari Penghakiman.
Masih ingat dengan keduabelas pemimpin yang telah dipilih oleh Muhammad sebelumnya? Kebanyakan dari mereka sekarang memimpin perampasan terhadap mereka yang menolak untuk menyerahkan diri pada kekuasaan Islam.
Wahyu baru mengenai Jihad
Pada bagian ini, Muhammad melaporkan sebuah wahyu baru mengenai perlakuan terhadap orang-orang kafir. Hal ini ditulis dalam Surat 9. Sekarang mari kita pada dua ayat di bawah ini:
Terkait dengan Mushrikun, atau penyembah berhala, wahyu itu berbunyi:
“Bunuhlah orang-orang musrik itu, di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempai pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan memberi zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.”
--- Surat 9:5 –
Jadi wahyu ini memberitahukan umat Islam untuk memerangi para penyembah berhala sampai mereka memeluk Islam. Sebuah wahyu yang hampir sama diberikan terkait dengan orang-orang Yahudi dan Kristen, dengan satu perbedaan penting.
“Perangilah orang-orang yang (1) tidak beriman kepada Allah, (2) dan tidak pula kepada hari akhir, (3) dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasulnya (Muhammad) (4) dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (Islam) yang diberikan Alkitab kepada mereka (orang Yahudi dan Kristen) sampai mereka membayar jizsyah (pajak) dengan patuh dan dalam keadaan tunduk”
--- Surat 9:29 –
Umat Islam memberikan tiga pilihan bagi orang Yahudi dan Kristen:
menerima Islam
tetap memeluk agama Yahudi atau Kristen dengan membayar pajak khusus (jizyah) yang ditarik setahun sekali
siap-siap untuk diserang.
Muhammad kemudian mengangkat gubernur-gubernur (yang dipanggil dengan Amir) untuk mengatur seluruh penduduk, suku dan wilayah yang menerima kekuasaan Islam (tahun 9 H).
KHOTBAH TERAKHIR MUHAMMAD DI BUKIT ARAFAT
Sekarang, setelah Muhammad memegang kendali atas Mekah, Muhammad memanggil semua umat Islam untuk berpartisipasi dalam naik haji, sebuah bentuk ziarah tahunan ke Ka-abah untuk menyembah Allah (Surat 3:97). Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk membuat persiapan sebuah peristiwa akbar, dan mengirimkan pesan ke seluruh wilayah Arab, memberitahukan orang-orang untuk datang. Puncak dari pertemuan besar ini adalah ketika Muhammad berdiri di atas Bukit Arafat dan berkhotbah untuk terakhir kalinya, dikelilingi oleh lebih dari seratus ribu orang Islam.[11] Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Khotbah di Bukit Arafat.
Di bawah ini adalah apa yang dikatakan oleh Muhammad seperti yang dicatat dalam sejarah Islam.
“Hari ini, agamamu sudah lengkap, dan kemurahan Tuhan digenapi dalam hidupmu. Dan aku bersaksi bahwa Islam adalah agamamu. Wahai orang-orang Islam, engkau dilarang untuk menumpahkan darah sesamamu atau mencuri dan mengambil keuntungan satu sama lain atau merebut perempuan atau isteri dari sesama umat Islam.
Setelah hari ini, tidak akan ada agama lain yang hidup di wilayah Arab. Aku diutus Allah dengan pedang di tanganku dan kesejahteraanku datang dari bayangan pedangku. Dan orang-orang yang tidak setuju denganku akan dipermalukan dan disiksa.”[12]
Khotbah ini mempunyai dua bagian: Bagian pertama mengajarkan umat Islam bagaimana harus bersikap satu sama lain, sebagai contoh, tidak membunuh atau mencuri isteri satu sama lain. Bagian kedua mengajarkan bagaimana bersikap kepada orang-orang non Islam. Muhammad menyatakan bahwa Allah mengutusnya dengan pedang dan pendapatannya berasal dari pedang itu. Ia juga berjanji akan mempermalukan dan menganiaya orang-orang yang tidak sepakat dengannya (Khotbah ini sangat berbeda dengan Khotbah Yesus di Bukit, di mana Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44)
KEMATIAN MUHAMMAD
Pada tahun kesebelas setelah kepindahannya dari Mekah ke Medinah, Muhammad mengalami sakit demam yang kerap dialaminya setiap tahun. Namun kali ini, penyakitnya menjadi sangat serius.
Menurut sejarah Islam, Muhammad menganggap demamnya itu sebagai akibat dari racun yang ia makan setelah Muhammad menaklukkan sebuah kampung Yahudi di Khaybar empat tahun sebelumnya. Ia setuju untuk membiarkan mereka tetap hidup selama mereka memberikan harta milik mereka kepadanya. Pada saat itu, ada seorang perempuan bernama Zainab, menyediakan makan bagi Muhammad. (Ingat, orang Yahudi telah menjalin hubungan dengan Muhammad selama bertahun-tahun sebelum ia memutuskan untuk menaklukkan mereka)
Zainab mempersiapkan daging domba untuk dibakar. Ia tahu bahwa Muhammad menyukai daging bagian bahunya, jadi ia menaruh racun lebih banyak pada bagian itu, dan meracuni seluruh bagian domba itu. Ia membawa daging itu dan memberikannya kepada Muhammad dan salah seorang temannya. Muhammad mengambil beberapa bagian dari daging bahunya dan mulai memakannya, tetapi ia merasakan sesuatu yang berbeda daripada biasanya. Ia mengeluarkan dari mulutnya dan memuntahkannya. Tetapi temannya menyukai daging itu dan menyantapnya. Ia kemudian mati akibat racun itu.
Muhammad bertanya kepada Zainab apa yang telah ia lakukan. Ia menjawab, “Engkau tahu apa yang telah engkau lakukan terhadap orang-orangku. Aku berkata kepada diriku sendiri, Jika ia adalah raja aku akan menyerahkan diriku padanya, dan jika ia adalah nabi ia akan diberitahu (apa yang telah aku lakukan).” Untuk jawaban itu, Muhammad kemudian menaruh belas kasihan atas hidupnya.
Namun demikian, Muhammad percaya bahwa racun yang ia makan mengganggunya seumur hidupnya. Pada saat-saat terakhir sakitnya, sebelum ia meninggal dunia, saudara perempuan dari orang yang meninggal karena racun pada daging domba yang dimakannya, datang mengunjunginya. Muhammad berkata kepadanya, “Ya Umi Bishra, apa yang kau lihat pada diriku sekarang (penyakitku) adalah akibat dari memakan daging domba yang aku makan bersama kakakmu.”[13]
Selama sakitnya, Muhammad mengalami demam dan nyeri selama dua puluh hari dan dirawat di rumah oleh isterinya, Aisah, yang telah berusia delapan belas tahun pada saat itu. Ketika ia terlalu lemah untuk memimpin doa, ia memerintahkan salah seorang pengikutnya yang dipercayai untuk melakukan tugas itu. Ketika ia menarik nafat terakhir, ia menaruh kepalanya di pangkuan Aisah dan meninggal dunia.[14]
Muhammad dikuburkan di Medinah, para peziarah masih mengunjungi makamnya hingga hari ini.
KEMATIAN YESUS
Kisah kematian Yesus sangat berbeda dengan kematian Muhammad. Mari kita lihat apa yang terjadi.
Yesus telah pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari cara untuk menangkapnya, tetapi mereka takut untuk menangkapnya secara langsung karena orang-orang mencintainya. Kesempatan mereka datang melalui murid Yesus, Yudas, yang dengan sukarela mengantarkan mereka kepada Yesus hanya demi sejumlah uang.
Setelah memakan santapan Paskah bersama murid-muridnya, Yesus pergi ke Bukit Zaitun untuk berdoa, seperti biasanya. Yudas membawa sejumlah orang banyak ke bukit itu untuk menangkap Yesus. Mereka membawanya ke rumah imam kepala, dan saat menjelang fajar, para pemimpin agama menanyainya, “Apakah engkau Anak Tuhan?” tanya mereka.
“Engkaulah yang mengatakan aku demikian,” jawab Yesus. Itu jelas merupakan hujatan bagi hukum orang Yahudi. Mereka membawanya ke Pilatus, gubernur yang ditunjuk oleh kaisar Roma. Pilatus memutuskan bahwa Yesus tidak melakukan kejahatan yang membuatnya pantas dihukum mati, tetapi pemimpin-pemimpin agama itu menghasut orang banyak untuk menghukum mati Yesus. Jadi Pilatus menyerahkan Yesus kepada orang banyak itu. Mereka membawanya melalui jalan yang disebut Bukit Tengkorak. Di sanalah Yesus digantung di atas kayu salib. Paku ditancapkan di tangan dan kakinya untuk menggantungnya di salib. Kemudian salib itu ditegakkan di atas tanah pada sebuah lubang, dan orang-orang menunggu Yesus hingga mati. Banyak perempuan yang telah mengikut Yesus, berdiri di sana ikut menyaksikan.
Pada tengah hari, langit menjadi gelap untuk selama tiga jam. Kemudian Yesus berteriak dengan suara nyaring, ”Bapa, ke dalam tangan-Mu, kuserahkan nyawaku,” dan ia pun meninggal dunia (Lukas 23-24)
Yang menjadi dasar bagi iman Kristen adalah apa yang terjadi setelah kematian Yesus. Seorang anggota dari Dewan Yahudi yang menentang penyaliban Yesus menerima ijin untuk menurunkan tubuh Yesus. Ia membungkusnya dengan kain linen dan menempatkanya pada sebuah kubur yang baru. Para perempuan yang mengikuti Yesus melihat di sanalah tubuh Yesus dibaringkan. Mereka kemudian pergi mempersiapkan rempah-rempah dan minyak wangi untuk dituangkan pada tubuh Yesus, tetapi mereka tidak pergi keesokan harinya karena hari itu hari Sabat dan menurut hukum Yahudi, pada hari itu mereka beristirahat.
Setelah hari Sabat, pagi-pagi sekali, perempuan itu kembali ke kubur dan menemukan bahwa batu penutup kubur itu telah terguling dan tidak ada tubuh siapapun di dalamnya. Dua malaikat menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit.” (Lukas 24:5-6). Perempuan-perempuan itu lari kepada para murid untuk menceritakan apa yang telah mereka lihat.
Kitab injil menggambarkan beberapa penampakan Yesus kepada para murid dan pengikutnya setelah kebangkitannya.
PESAN TERAKHIR YESUS KEPADA PARA PENGIKUTNYA
Ajaran terakhir Yesus terfokus pada penjelasan mengenai kebangkitannya dan menguatkan murid-muridnya untuk mengabarkan Injil. Ia berkata kepada mereka:
“Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.”
-- Lukas 24:46-47 --
Kemudian Yesus berjanji untuk menolong para pengikutnya dengan mengirimkan Kuasa. Orang Kristen percaya bahwa ini adalah Roh Kudus, seperti yang dijelaskan dalam Kisah Para Rasul 2.
KESIMPULAN
Dalam lima bab, Anda telah mengetahui kehidupan Yesus dan Muhammad secara berdampingan. Anda telah melihat bagaimana mereka menggunakan waktu mereka dan meraih tujuan mereka. Hal ini memberikan kerangka kerja yang Anda butuhkan untuk memahami apa yang mereka ajarkan. Ajaran mereka inilah yang akan menjadi subyek pada bagian kedua buku ini.
Anda akan mendapatkan kesempatan uantuk memperbandingkan ajaran mereka terutama untuk topik-topik di bawah ini:
Pesan mereka bagi dunia
Ajaran mereka tentang sesama
Kesembuhan dan mujizat
Makna Perang Suci
Cinta kasih
Doa
Perempuan
Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan topik-topik di atas, saya telah menempatkan daftar kerangka waktu peristiwa-peristiwa besar dalam hidup Yesus dan Muhammad. Kerangka waktu ini akan membantu Anda untuk melihat biografi yang baru saja Anda baca dan memahami ajaran yang mengikutinya.
[1] Ibn Ishaq, hal 557.
[2] Ibn Kathir, The Beginning and the End, vol. 2, bagian 3, hal 53.
[3] Ibn Ishaq, hal 548.
[4] Ibn Kathir, The Beginning and the End, vol. 2, bagian 4, hal 302.
[5] Ibid, vol. 2, bagian 4, hal 289.
[6] Ibid, vol. 2, bagian 3, hal 288.
[7] The Correct Books of Muslim, buku 19, no. 4395
[8] Ibn Ishaq, hal 627-652. Lihat juga Al-Tijab al-Najar (The Biography of the Prophet) dalam bahasa Arab (Cairo, 1979).
[9] Ibn Hisham, vol. 3, bagian 6, hal 13-14. Lihat juga Ibn Ishaq, The Life of Muhammad, hal 652 ff.
[10] Ibn Hisham, vol. 3, bagian 6, hal 13-14, terjemahan penulis. Lihat juga The Correct Books of Muslim, buku 019, no. 4380. Cerita yang terdapat di dalam umat Islam agak berbeda dengan cerita dari Ibn Hisham.
[11] The Correct Books of Muslim, buku 7, no. 2802.
[12] Ibn Hisham, bagian 6, vol. 3, hal 8, terjemahan penulis.
[13] Ibn Ishaq, hal 516. Lihat juga Ibn Hisham, vol. 2, bagian 4, hal. 309.
[14] Ibn Ishaq, hal 679ff.
USIA: 60 – 63 TAHUN
YESUS : BULAN-BULAN TERAKHIR DALAM HIDUPNYA
USIA : 35 – 36 TAHUN.
Ketika kehidupan baik Yesus maupun Muhammad akan berakhir, mereka berdua sesungguhnya sedang berada dalam puncak pengaruh mereka. Dalam bab ini, Anda akan melihat:
Kemenangan mereka atas kota-kota yang pernah menolak mereka
Perintah terakhir kepada para pengikut mereka
Bagaimana mereka masing-masing meninggal dunia
MUHAMMAD KEMBALI KE MEKAH
Delapan tahun setelah pindah ke Medinah, Muhammad telah mencapai tingkat kekuasaan baru yang tinggi. Ia memiliki sepuluh ribu tentara pada saat itu, yang dipimpin oleh empat orang kepala divisi dan dirinya sendiri.[1] Tahun-tahun sebelumnya, ketika orang-orang mengusiknya di pasar di Mekah, Muhammad telah memberi peringatan kepada mereka, “Hai orang-orang Mekah, aku bersumpah demi nama Allah, aku akan datang untuk membunuh kalian semua.”[2] Dan saat ini ia telah siap melakukan tindakan seperti yang telah dikatakan sebelumnya.
Ketika tentara Muhammad maju, gurun pasir menjadi hitam dengan kuda-kuda dan penunggannya. Kota Mekah mengirim mata-mata, termasuk Abu Sufyan, pemimpin kereta yang diserang oleh Muhammad ketika ia baru tiba di Mekah. Orang ini kemudian tertangkap, lalu ia berdiri di hadapan Muhammad, disuruh memilih untuk pindah agama demi keselamatan hidupnya. Demi membela kehormatan pemimpin tersebut, Muhammad berkata bahwa selama penyerangan, umat Islam akan melindungi setiap orang yang mengambil tempat perlindungan di rumah pria itu. Muhammad laklu mengembalikan pria itu ke Mekah dengan pesan, “Dia yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan selamat. Dan dia yang menutup pintu rumahnya sendiri dan yang masuk ke dalam mesjid akan selamat.” Ketika orang-orang mendengar berita ini, mereka menyebar masuk ke rumah mereka dan mesjid.[3]
Ketika Muhammad hendak masuk ke dalam kota, Muhammad memanggil pejuang-pejuang Ansar menghadapnya. Orang-orang Ansar adalah orang-orang Medinah, dan bukan orang Mekah, yang telah memeluk agama Islam. Ketika mereka mengelilinginya, Muhammad berkata, “Apakah engkau melihat tentara Qurais (dari Mekah)?” Ia lalu membuat gerakan dengan tangannya dan berkata, “Pergi dan bunuhlah mereka.” Kata bunuhlah dalam bahasa Arab menggambarkan seperti para petani yang memanen tuaian mereka dengan sebuah sabit. Dengan kata lain, Muhammad memerintahkan mereka untuk “Penggallah leher mereka dari tubuh mereka seperti kamu memotong buah dari ranting pohon.”[4]
Alasan Muhammad memilih Ansar untuk tugas ini mungkin karena orang-orang Islam yang dari Mekah akan memiliki pergumulan untuk membunuh orang-orang dari suku mereka dan tetangga mereka sendiri.
Sementara para tentara memasuki kota dengan menunggang kuda, beberapa perempuan lari keluar dan secara histeris menabrak bagian depan kuda dengan tangan mereka, memohon agar pasukan-pasukan itu tidak membunuh mereka dan anak-anak mereka. Mereka menjerit dan mencoba mendorong si penunggang kuda. Bayangkan peristiwa ini! Orang-orang ketakutan dan putus asa.[5] Mekah melakukan sedikit pertahanan, dan Muhammad dengan mudah mengambil alih kendali.
Divisi Muhammad membawa bendera khusus. Bendera itu berwarna hitam dengan sebuah kata tertulis dalam bahasa Arab: Penghukuman.[6]
Muhammad mengambil alih kendali atas Ka-abah
Muhammad mengendarai kudanya melalui jalan-jalan di Mekah sementara orang-orang di dalam kota itu tinggal diam di dalam rumah mereka. Ia memasuki Ka-abah, mencium Batu Hitam dan mulai berjalan mengelilinginya. Ketika ia sampai di sebuah patung yang berdekatan dengan Batu Hitam, ia menusuk matanya dengan busur panah yang ada di tangannya. Setelah sembahyang siang pada hari yang sama, Muhammad memerintahkan bahwa semua patung yang ada di sekitar Ka-abah dikumpulkan, dibakar dalam api dan dihancurkan.[7] Umat Islamlah yang kemudian memelihara Ka-abah (Surat 9:18)
Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi ketika Yesus kembali ke Yerusalem, rumah imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang berupaya untuk membunuhnya.
YESUS KEMBALI KE YERUSALEM
Selama bulan-bulan terakhir dari tahun ketiga pelayanannya, Yesus juga berada dalam puncak pengaruh dan popularitasnya. Pada saat yang bersaman, ia mengingatkan murid-muridnya bahwa ia akan dibunuh ketika ia kembali ke Yerusalem.
“Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
-- Matius 16:21; lihat juga Lukas 13:31-35 --
“Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali”
-- Matius 17:23 --
Meskipun murid-muridnya protes, namun Yesus tetap melanjutkan perjalanan ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Ketika ia sampai di kota itu, ia membuat prosesi masuk dengan cara yang sangat mengejutkan.
Ia meminta murid-muridnya untuk mencari seekor keledai muda baginya, lalu Yesus menaiki keledai itu masuk ke dalam kota. Ketika ia berjalan, kerumunan orang banyak berbaris di sepanjang jalan. Beberapa orang melemparkan jubah mereka di depan jalannya, sementara yang lainnya memotong ranting-ranting pohon dan melemparkannya di depan jalannya. Mereka dengan suara keras memuji Tuhan, dan seluruh kota Yerusalem menjadi gempar (Lukas 19:28-44, Matius 21:1-11).
Yesus menangisi kota Yerusalem
Ketika Yesus sudah hampir dekat di kota Yerusalem dan melihat kota itu, ia menangis karena ia tahu masa depan kota Yerusalem itu. Ia berkata,
“Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Tuhan melawat engkau.”
-- Lukas 19:41-44; lihat juga Matius 23:37-39l Lukas 13:34-35 --
Nubuat Yesus digenapi tidak sampai empat puluh tahun kemudian. Di tahun 70 M, Jenderal Romawi Titus, menaklukan dan menghancurkan kota Yerusalem dan membakar bait Tuhan sampai rata dengan tanah.
Jadi sekarang kita telah mengetahui kisah Yesus dan Muhammad pada akhir hidup mereka ketika mereka kembali ke kota yang menjadi pusat kehidupan spiritual para pengikut mereka. Muhammad kembali sebagai seorang penakluk. Sedangkan, Yesus, seperti yang kita lihat, kembali sebagai korban persembahan. Pada bagian terakhir dari bab ini, mari kita lihat bagaimana kedua pemimpin ini meninggal dunia dan apa yang mereka berikan sebagai perintah terakhir kepada para pengikut mereka.
PENYERAHAN KOTA ARAB
Setelah menaklukkan Mekah, orang-orang dari seluruh Arab, yang belum diserang, mengirimkan penyampai pesan kepada Muhammad dengan berita, “Kami menyerah kepadamu.” Sejarah Islam mencatat ada empat puluh delapan kelompok yang berbeda, yang menyerahkan diri kepada Muhammad pada tahun itu (9 H). Hanya tinggal sedikit saja kelompok orang-orang di Arab yang ditundukkan oleh Muhammad.[8] Orang-orang yang ditaklukkan harus membayar zakat, yaitu pajak yang besarnya 2,5% dari penghasilan seseorang.
Muhammad mengirim surat kepada penguasa asing
Sekarang setelah Muhammad menaklukkan seluruh wilayah Arab, ia menghubungi para penguasa dari wilayah di luar Arab dan mengundang mereka untuk menerima Islam dan aturan Islam. Ia mengirim surat resmi dengan stempel pribadinya kepada (1) Kaisar Roma, (2) Raja Iran, (3) Raja Ethiopia, (4) Gubernur Roma di Mesir, (5) Raja Oman, (6) Raja Bahrain, (7) Raja Siria, (8) Raja Yaman.[9] Surat-surat ini memperingatkan para penguasa itu untuk menyerah kepada Islam, jika tidak mereka akan menderita. Sebuah contoh yag bagus adalah surat kepada Kaisar Roma, yang ditulis:
“Dari Muhammad, Rasul Allah,
Kepada Herocles, Kaisar Roma,
Peluklah agama Islam dan engkau akan diselamatkan. Tetapi jika engkau menolak tantanganku ini, engkau akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi terhadapmu dan terhadap orang-orangmu.”[10]
Muhammad menggunakan kata diselematkan untuk menunjukkan kata selamat dari tentaranya, dan bukan menunjuk pada selamat dari murka Tuhan pada hari Penghakiman.
Masih ingat dengan keduabelas pemimpin yang telah dipilih oleh Muhammad sebelumnya? Kebanyakan dari mereka sekarang memimpin perampasan terhadap mereka yang menolak untuk menyerahkan diri pada kekuasaan Islam.
Wahyu baru mengenai Jihad
Pada bagian ini, Muhammad melaporkan sebuah wahyu baru mengenai perlakuan terhadap orang-orang kafir. Hal ini ditulis dalam Surat 9. Sekarang mari kita pada dua ayat di bawah ini:
Terkait dengan Mushrikun, atau penyembah berhala, wahyu itu berbunyi:
“Bunuhlah orang-orang musrik itu, di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempai pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan memberi zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.”
--- Surat 9:5 –
Jadi wahyu ini memberitahukan umat Islam untuk memerangi para penyembah berhala sampai mereka memeluk Islam. Sebuah wahyu yang hampir sama diberikan terkait dengan orang-orang Yahudi dan Kristen, dengan satu perbedaan penting.
“Perangilah orang-orang yang (1) tidak beriman kepada Allah, (2) dan tidak pula kepada hari akhir, (3) dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasulnya (Muhammad) (4) dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (Islam) yang diberikan Alkitab kepada mereka (orang Yahudi dan Kristen) sampai mereka membayar jizsyah (pajak) dengan patuh dan dalam keadaan tunduk”
--- Surat 9:29 –
Umat Islam memberikan tiga pilihan bagi orang Yahudi dan Kristen:
menerima Islam
tetap memeluk agama Yahudi atau Kristen dengan membayar pajak khusus (jizyah) yang ditarik setahun sekali
siap-siap untuk diserang.
Muhammad kemudian mengangkat gubernur-gubernur (yang dipanggil dengan Amir) untuk mengatur seluruh penduduk, suku dan wilayah yang menerima kekuasaan Islam (tahun 9 H).
KHOTBAH TERAKHIR MUHAMMAD DI BUKIT ARAFAT
Sekarang, setelah Muhammad memegang kendali atas Mekah, Muhammad memanggil semua umat Islam untuk berpartisipasi dalam naik haji, sebuah bentuk ziarah tahunan ke Ka-abah untuk menyembah Allah (Surat 3:97). Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk membuat persiapan sebuah peristiwa akbar, dan mengirimkan pesan ke seluruh wilayah Arab, memberitahukan orang-orang untuk datang. Puncak dari pertemuan besar ini adalah ketika Muhammad berdiri di atas Bukit Arafat dan berkhotbah untuk terakhir kalinya, dikelilingi oleh lebih dari seratus ribu orang Islam.[11] Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Khotbah di Bukit Arafat.
Di bawah ini adalah apa yang dikatakan oleh Muhammad seperti yang dicatat dalam sejarah Islam.
“Hari ini, agamamu sudah lengkap, dan kemurahan Tuhan digenapi dalam hidupmu. Dan aku bersaksi bahwa Islam adalah agamamu. Wahai orang-orang Islam, engkau dilarang untuk menumpahkan darah sesamamu atau mencuri dan mengambil keuntungan satu sama lain atau merebut perempuan atau isteri dari sesama umat Islam.
Setelah hari ini, tidak akan ada agama lain yang hidup di wilayah Arab. Aku diutus Allah dengan pedang di tanganku dan kesejahteraanku datang dari bayangan pedangku. Dan orang-orang yang tidak setuju denganku akan dipermalukan dan disiksa.”[12]
Khotbah ini mempunyai dua bagian: Bagian pertama mengajarkan umat Islam bagaimana harus bersikap satu sama lain, sebagai contoh, tidak membunuh atau mencuri isteri satu sama lain. Bagian kedua mengajarkan bagaimana bersikap kepada orang-orang non Islam. Muhammad menyatakan bahwa Allah mengutusnya dengan pedang dan pendapatannya berasal dari pedang itu. Ia juga berjanji akan mempermalukan dan menganiaya orang-orang yang tidak sepakat dengannya (Khotbah ini sangat berbeda dengan Khotbah Yesus di Bukit, di mana Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44)
KEMATIAN MUHAMMAD
Pada tahun kesebelas setelah kepindahannya dari Mekah ke Medinah, Muhammad mengalami sakit demam yang kerap dialaminya setiap tahun. Namun kali ini, penyakitnya menjadi sangat serius.
Menurut sejarah Islam, Muhammad menganggap demamnya itu sebagai akibat dari racun yang ia makan setelah Muhammad menaklukkan sebuah kampung Yahudi di Khaybar empat tahun sebelumnya. Ia setuju untuk membiarkan mereka tetap hidup selama mereka memberikan harta milik mereka kepadanya. Pada saat itu, ada seorang perempuan bernama Zainab, menyediakan makan bagi Muhammad. (Ingat, orang Yahudi telah menjalin hubungan dengan Muhammad selama bertahun-tahun sebelum ia memutuskan untuk menaklukkan mereka)
Zainab mempersiapkan daging domba untuk dibakar. Ia tahu bahwa Muhammad menyukai daging bagian bahunya, jadi ia menaruh racun lebih banyak pada bagian itu, dan meracuni seluruh bagian domba itu. Ia membawa daging itu dan memberikannya kepada Muhammad dan salah seorang temannya. Muhammad mengambil beberapa bagian dari daging bahunya dan mulai memakannya, tetapi ia merasakan sesuatu yang berbeda daripada biasanya. Ia mengeluarkan dari mulutnya dan memuntahkannya. Tetapi temannya menyukai daging itu dan menyantapnya. Ia kemudian mati akibat racun itu.
Muhammad bertanya kepada Zainab apa yang telah ia lakukan. Ia menjawab, “Engkau tahu apa yang telah engkau lakukan terhadap orang-orangku. Aku berkata kepada diriku sendiri, Jika ia adalah raja aku akan menyerahkan diriku padanya, dan jika ia adalah nabi ia akan diberitahu (apa yang telah aku lakukan).” Untuk jawaban itu, Muhammad kemudian menaruh belas kasihan atas hidupnya.
Namun demikian, Muhammad percaya bahwa racun yang ia makan mengganggunya seumur hidupnya. Pada saat-saat terakhir sakitnya, sebelum ia meninggal dunia, saudara perempuan dari orang yang meninggal karena racun pada daging domba yang dimakannya, datang mengunjunginya. Muhammad berkata kepadanya, “Ya Umi Bishra, apa yang kau lihat pada diriku sekarang (penyakitku) adalah akibat dari memakan daging domba yang aku makan bersama kakakmu.”[13]
Selama sakitnya, Muhammad mengalami demam dan nyeri selama dua puluh hari dan dirawat di rumah oleh isterinya, Aisah, yang telah berusia delapan belas tahun pada saat itu. Ketika ia terlalu lemah untuk memimpin doa, ia memerintahkan salah seorang pengikutnya yang dipercayai untuk melakukan tugas itu. Ketika ia menarik nafat terakhir, ia menaruh kepalanya di pangkuan Aisah dan meninggal dunia.[14]
Muhammad dikuburkan di Medinah, para peziarah masih mengunjungi makamnya hingga hari ini.
KEMATIAN YESUS
Kisah kematian Yesus sangat berbeda dengan kematian Muhammad. Mari kita lihat apa yang terjadi.
Yesus telah pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari cara untuk menangkapnya, tetapi mereka takut untuk menangkapnya secara langsung karena orang-orang mencintainya. Kesempatan mereka datang melalui murid Yesus, Yudas, yang dengan sukarela mengantarkan mereka kepada Yesus hanya demi sejumlah uang.
Setelah memakan santapan Paskah bersama murid-muridnya, Yesus pergi ke Bukit Zaitun untuk berdoa, seperti biasanya. Yudas membawa sejumlah orang banyak ke bukit itu untuk menangkap Yesus. Mereka membawanya ke rumah imam kepala, dan saat menjelang fajar, para pemimpin agama menanyainya, “Apakah engkau Anak Tuhan?” tanya mereka.
“Engkaulah yang mengatakan aku demikian,” jawab Yesus. Itu jelas merupakan hujatan bagi hukum orang Yahudi. Mereka membawanya ke Pilatus, gubernur yang ditunjuk oleh kaisar Roma. Pilatus memutuskan bahwa Yesus tidak melakukan kejahatan yang membuatnya pantas dihukum mati, tetapi pemimpin-pemimpin agama itu menghasut orang banyak untuk menghukum mati Yesus. Jadi Pilatus menyerahkan Yesus kepada orang banyak itu. Mereka membawanya melalui jalan yang disebut Bukit Tengkorak. Di sanalah Yesus digantung di atas kayu salib. Paku ditancapkan di tangan dan kakinya untuk menggantungnya di salib. Kemudian salib itu ditegakkan di atas tanah pada sebuah lubang, dan orang-orang menunggu Yesus hingga mati. Banyak perempuan yang telah mengikut Yesus, berdiri di sana ikut menyaksikan.
Pada tengah hari, langit menjadi gelap untuk selama tiga jam. Kemudian Yesus berteriak dengan suara nyaring, ”Bapa, ke dalam tangan-Mu, kuserahkan nyawaku,” dan ia pun meninggal dunia (Lukas 23-24)
Yang menjadi dasar bagi iman Kristen adalah apa yang terjadi setelah kematian Yesus. Seorang anggota dari Dewan Yahudi yang menentang penyaliban Yesus menerima ijin untuk menurunkan tubuh Yesus. Ia membungkusnya dengan kain linen dan menempatkanya pada sebuah kubur yang baru. Para perempuan yang mengikuti Yesus melihat di sanalah tubuh Yesus dibaringkan. Mereka kemudian pergi mempersiapkan rempah-rempah dan minyak wangi untuk dituangkan pada tubuh Yesus, tetapi mereka tidak pergi keesokan harinya karena hari itu hari Sabat dan menurut hukum Yahudi, pada hari itu mereka beristirahat.
Setelah hari Sabat, pagi-pagi sekali, perempuan itu kembali ke kubur dan menemukan bahwa batu penutup kubur itu telah terguling dan tidak ada tubuh siapapun di dalamnya. Dua malaikat menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit.” (Lukas 24:5-6). Perempuan-perempuan itu lari kepada para murid untuk menceritakan apa yang telah mereka lihat.
Kitab injil menggambarkan beberapa penampakan Yesus kepada para murid dan pengikutnya setelah kebangkitannya.
PESAN TERAKHIR YESUS KEPADA PARA PENGIKUTNYA
Ajaran terakhir Yesus terfokus pada penjelasan mengenai kebangkitannya dan menguatkan murid-muridnya untuk mengabarkan Injil. Ia berkata kepada mereka:
“Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.”
-- Lukas 24:46-47 --
Kemudian Yesus berjanji untuk menolong para pengikutnya dengan mengirimkan Kuasa. Orang Kristen percaya bahwa ini adalah Roh Kudus, seperti yang dijelaskan dalam Kisah Para Rasul 2.
KESIMPULAN
Dalam lima bab, Anda telah mengetahui kehidupan Yesus dan Muhammad secara berdampingan. Anda telah melihat bagaimana mereka menggunakan waktu mereka dan meraih tujuan mereka. Hal ini memberikan kerangka kerja yang Anda butuhkan untuk memahami apa yang mereka ajarkan. Ajaran mereka inilah yang akan menjadi subyek pada bagian kedua buku ini.
Anda akan mendapatkan kesempatan uantuk memperbandingkan ajaran mereka terutama untuk topik-topik di bawah ini:
Pesan mereka bagi dunia
Ajaran mereka tentang sesama
Kesembuhan dan mujizat
Makna Perang Suci
Cinta kasih
Doa
Perempuan
Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan topik-topik di atas, saya telah menempatkan daftar kerangka waktu peristiwa-peristiwa besar dalam hidup Yesus dan Muhammad. Kerangka waktu ini akan membantu Anda untuk melihat biografi yang baru saja Anda baca dan memahami ajaran yang mengikutinya.
[1] Ibn Ishaq, hal 557.
[2] Ibn Kathir, The Beginning and the End, vol. 2, bagian 3, hal 53.
[3] Ibn Ishaq, hal 548.
[4] Ibn Kathir, The Beginning and the End, vol. 2, bagian 4, hal 302.
[5] Ibid, vol. 2, bagian 4, hal 289.
[6] Ibid, vol. 2, bagian 3, hal 288.
[7] The Correct Books of Muslim, buku 19, no. 4395
[8] Ibn Ishaq, hal 627-652. Lihat juga Al-Tijab al-Najar (The Biography of the Prophet) dalam bahasa Arab (Cairo, 1979).
[9] Ibn Hisham, vol. 3, bagian 6, hal 13-14. Lihat juga Ibn Ishaq, The Life of Muhammad, hal 652 ff.
[10] Ibn Hisham, vol. 3, bagian 6, hal 13-14, terjemahan penulis. Lihat juga The Correct Books of Muslim, buku 019, no. 4380. Cerita yang terdapat di dalam umat Islam agak berbeda dengan cerita dari Ibn Hisham.
[11] The Correct Books of Muslim, buku 7, no. 2802.
[12] Ibn Hisham, bagian 6, vol. 3, hal 8, terjemahan penulis.
[13] Ibn Ishaq, hal 516. Lihat juga Ibn Hisham, vol. 2, bagian 4, hal. 309.
[14] Ibn Ishaq, hal 679ff.
9. KERANGKA WAKTU
KERANGKA WAKTU MUHAMMAD
Tahun 570 M, lahir
Muhammad lahir di Mekah. (Sejarah Islam mengatakan secara spesifik ia lahir pada hari Senin, tanggal 12, bulan pertama (Rabir). Pada kalender biasa, ini berarti tanggal 2 Agustus.
Tahun 576 M, usia 6 tahun
Ibu Muhammad meninggal dunia, kakek dari ayahnyalah yang kemudian merawatnya.
Tahun 578 M, usia 8 tahun
Kakek Muhammad meninggal dunia. Saudara ayahnya, Abu Talib yang kemudian memeliharanya.
Tahun 582 M, usia 12 tahun
Paman Muhammad, Abu Talib, membawanya ke Siria dimana Bahira, seorang rahib Kristen Nestoria, bernubuat atas Muhammad.
Tahun 595 M, usia 25 tahun
Menikah dengan isteri pertamanya, Kadijah, dalam sebuah upacara yang dipimpin oleh sepupunya Waraqa, seorang pendeta Kristen Ebionit.
Tahun 610 M, usia 40 tahun
Memperoleh wahyu pertama dari malaikat Gabriel.
Tahun 613 M, usia 43 tahun
Mulai berkhotbah secara terbuka di Mekah tentang wahyunya.
Tahun 615 M, usia 45 tahun
Muhammad mengirimkan sebelas orang Islam ke Abysinnia (Ethiopia sekarang) untuk meminta perlindungan atas penganiayaan yang mereka dapatkan di Mekah. Ini dikenal dengan Hijrah pertama (ziarah).
Pemimpin suku Qurais memboikot umat Islam dan kerabat Muhammad, menolak pernikahan di antara mereka ataupun menjual makanan kepada mereka. Mereka mencabut boikot itu dua atau tiga tahun kemudian.
Tahun 620 M, usia 50 tahun
Diceritakan tentang Malam Perjalanan dari Mekah ke Yerusalem. Pada tahun yang sama, isteri pertama dan paman sekaligus juga pelindungnya, Abu Talib meninggal dunia.
Tahun 623 M, 1 H, usia 53 tahun
Menandatangani perjanjian dengan dua suku terbesar di Medinah yang kemudian menjadi pelindungnya.
Pindah dari Mekah ke Medinah (hijrah kedua). Peristiwa ini menandai tahun pertama dalam kalender Islam.
Menikah dengan isteri keduanya, Aisah. (Dalam sepuluh tahun berikutnya, ia membawa sebelas perempuan lainnya untuk dijadikan isteri)
Menerima wahyu untuk melakukan jihad, atau perang suci, berperang melawan orang-orang kafir, untuk pertama kalinya.
Memerintahkan pamannya, Hamzah untuk pergi dengan tiga puluh orang tentara Islam untuk merampok kereta orang Qurais. Ini adalah untuk pertama kalinya ia memerintahkan penyerangan.
Mengutus salah satu sepupunya untuk menyerang penyembah berhala dari Mekah.
Mengirimkan sepupunya (Saad ibn Aby Waqqas) untuk menyerang penyembah berhala di Al-Kharrar.
Tahun 624 M,2 H, usia 54 tahun
Tahun ini adalah tahun yang penuh dengan jihad.
Banyak orang Yahudi di Madinah pindah agama Islam.
Serangan di Al-Abuwaa
Perang di Badar. Muhammad sendiri yang memimpin umat Islam dalam sebuah serangan terhadap pasukan Mekah di Lembah Badar. Umat Islam menang secara mengejutkan.
Serangan terhadap Bani Salib (penyembah berhala).
Serangan terhadap al-Sawiq (penyembah berhala).
Mengijinkan puterinya, Fatimah, menikah dengan sepupunya Ali ibn Abi Talib.
Mengirim tujuh pasukan lainnya untuk melakukan serangan (suriya) di kampung-kampung pada tahun ini. (Ini adalah serangan kecil yang hanya melibatkan tiga puluh sampai seratur tentara.)
Tahun 625 M, 3 H, usia 55 tahun
Perang Uhud. Umat Islam menderita kekalahan dari orang-orang Mekah. (Paman Muhammad, Hamzah, terbunuh.)
Membunuh seorang pemimpin Yahudi bernama Kaab Ibn al-Ashraf, karena telah menentang Muhammad secara terang-terangan. Peristiwa ini mengejutkan baik orang-orang Yahudi di Medinah maupun penyembah berhala di Mekah. Ini adalah pertama kalinya Muhammad melakukan tindakan membunuh.
Mengutus tiga serangan (suriya) lainnya pada tahun ini.
Tahun 626 M, 4 H, usia 56 tahun
Serangan terhadap Bani-Nadir (suku Yahudi).
Melakukan dua serangan (suriya) lainnya pada tahun ini.
Tahun 627 M, 5 H, usia 57 tahun
Perampokkan di Dumatu’l-Jandel
Perang Parit. Penduduk Mekah dan beberapa orang Yahudi dari Madinah berupaya untuk menyerang umat Islam di Medinah. Umat Islam menggali parit di sekeliling kota dan penduduk Mekah memilih untuk kembali pulang tanpa berperang.
Serangan terhadap Bani-Qurayzah, salah satu suku Yahudi, di mana Muhammad membunuh semua laki-lakinya dan membawa para perempuan dan anak-anak sebagai tawanan. Hal ini dilakukan sebagai hukuman atas keterlibatan mereka di dalam Perang Parit.
Pembunuhan terhadap seorang pemimpinYahudi lainnya, Abi-Rafa.
Serangan terhadap Bani-Lihyan (suku Arab)
Serangan terhadap Zi-kerd.
Serangan terhadap Bani al-Mustaliq (suku Yahudi). Isteri kedua Muhammad, Aisah, dituduh memiliki hubungan gelap dengan pria lain selama terjadinya serangan ini.
Tahun 628 M, 6 H, usia 58 tahun
Muhammad tidak memimpin satupun pertempuran pada tahun ini, tetapi ia mengirimkan beberapa serangan (suriya).
Tahun 629 M, 7 H, usia 59 tahun
Mengirimkan lima serangan (suriya) di tahun ini.
Serangan ke Khaybar (kampung orang Yahudi).
Tahun 630 M, 8 H, usia 60 tahun
Serangan di Mu’ta.
Pertempuran di Zat-al-Salasil
Penyerbuan dan penaklukkan kota Mekah,
Pertempuran di Hunan.
Serangan terhadap Utas
Serangan terhadap al-Ta-if
Tahun 631 M, 9 H, usia 61 tahun
Tahun ini dikenal sebagai tahun Penundukkan Diri. Orang-orang dari seluruh daerah Arab yang belum diserang akhirnya mengirimkan pesan kepada Muhammad dan berkata, “Kami menundukkan diri kepadamu.” Sejarah islam menyebutkan ada empat puluh delapan kelompok yang berbeda yang mengirimkan pesan ini kepada Muhammad. Muhammadpun mulai mengirimkan surat kepada para pemimimpin dan raja-raja kota di sekitarnya agar mereka menerima Islam.
Serangan di Ta-buk.
Tahun 632 M, 9 H, usia 62 tahun
Mengutus para gubernur (para amir) untuk menguasai wilayah-wilayah di mana orang-orang dan suku-sukunya setuju untuk menerima kenabiannya.
Tahun 633 M, 10 H, usia 63 tahun
Melaksanakan praktek naik haji.
Memberikan khotbah terakhirnya, dikenal juga dengan Khotbah di Bukit Arafat.
Tahun 634 M, 11 H, usia 64 tahun
Terkena demam.
Meninggal dunia.
KERANGKA WAKTU YESUS[1]
Tahun 6/5 SM
Lahir di Betlehem.
Tahun 5/4 SM
Maria danYusuf membawa Yesus ke Mesir untuk melarikan diri dari Herodes yang memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki yang berusia di bawah dua tahun.
Tahun 4/3 SM, usia 2 tahun
Maria danYusuf kembali ke rumah mereka di Nazaret
Tahun 6/7 M, usia 12 tahun
Tertinggal di Bait Tuhan di Yerusalem setelah keluarganya memutuskan untuk kembali ke rumah mereka.
Tahun 26 M, usia 32 tahun
Yohanes Pembaptis mulai mengajar secara terang-terangan.
Pelayanan dimulai
Tahun 26/27, usia 32 atau 33 tahun
Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dan mulai mengajar di depan orang banyak.
Melakukan mujizat yang pertama – mengubah air menjadi anggur.
Mengusir keluar para penukar uang dari Bait Tuhan di Yerusalem.
Berbicara dengan perempuan Samaria di tepi sumur.
Menyembuhkan anak lelaki seorang perwira.
Berkhotbah di sinagoga di kampung halamannya di Nazaret, tetapi ditolak.
Tahun kedua pelayanan
Menyembuhkan orang yang kerasukan setan di sinagoga di Kapernaum.
Menyembuhkan orang yang sakit kusta.
Menyembuhkan orang yang lumpuh.
Menyembuhkan orang timpang di Kolam Bethesda.
Menyembuhkan tangan orang yang lumpuh.
Memilih kedua belas muridnya dan berkhotbah Ucapan Nasehat di Bukit.
Menyembuhkan pegawai dari tentara Romawi.
Membangkitkan anak laki-laki dari seorang janda yang telah meninggal.
Meredakan badai di Danau Galilea.
Menyembuhkan orang kerasukan setan yang tinggal di kuburan.
Membangkitkan anak perempuan yang telah mati dan menyembuhkan seorang perempuan yang mengalami pendarahan.
Tahun ketiga pelayanan
Mengutus duabelas murid untuk menyampaikan pesannya.
Memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan.
Menyembuhkan anak perempuan seorang perempuan bukan Yahudi.
Menyembuhkan seorang yang bisu-tuli.
Memberi makan empat ribu orang.
Menyembuhkan orang buta.
Menyembuhkan seorang anak lelaki yang memiliki gejala epilepsi.
Menyembuhkan sepuluh orang penderita kusta.
Mengampuni perempuan yang kedapatan sedang berzinah.
Menyembuhkan orang buta.
Membangkitkan Lazarus dari kematian.
Perjalanan akhir menuju ke Yerusalem
Tahun 30, usia 35 atau 36 tahun
Menyembuhkan satu atau dua orang buta diYerikho.
Makan malam bersama Lazarus, Maria dan Marta.
Masuk ke Yerusalem diiringi dengan sorak sorai orang banyak (Hari Minggu, sebelum kematiannya)
Makan malam terakhir bersama murid-muridnya (Hari Kamis, sebelum kematiannya)
Ditahan, diajukan ke pengadilan, dan disalibkan (Hari Jumat)
Bangkit dari kematian dan menampakkan diri kepada para pengikutnya (Hari Minggu, setelah kematiannya)
[1] Tanggalan dalam kerangka waktu ini berasal dari Life Application Bible (Netherlands: Tyndale House Publishers, 1999). Tahun kelahiran Yesus yang sebenarnya masih menjadi perdebatan di antara para sarjana Kristen. Beberapa dekade lalu diyakini bahwa Yesus lahir antara tahun 2 atau 3 SM dan karena itu disalibkan dan bangkit pada usia sekitar 33 tahun. Para ahli Perjanjian Baru mengatakan bahwa ia lahir tahun 4 SM (Ben Witherington III, New Testament History) atau tahun 6 atau 5 SM (Life Application Bible). Urutan dalam daftar kerangka waktu berasal dari “Summary of the Travel and Acts of Jesus” oleh Gordon Smith dari Plenarth, United Kingdom. Bahan ini belum diterbitkan, tetapi dapat diakses dalam internet di Christian Classics Ethereal Library pada www.ccel.org/bible/phillips/JBPhillips.htm. Website ini dikelola oleh Calvin College, Grand Rapids, Michigan. Para pembaca perlu berhati-hati terhadap metodologi yang digunakan oleh Gordon untuk menjelaskan kerangka waktunya. Ia menulis
Berbagai kisah perjalanan dan penginjilan Yesus telah dikumpulkan bersama-sama dan diatur untuk mengikuti apa yang dinamakan, “keserasian Injil.” Usaha ini dilakukan untuk mengurutkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus secara kronologis.
Karena Injil tertulis bukan secara biografi sejarah melainkan sebagai kumpulan ajaran yang ditujukan untuk orang-orang yang berbeda – Yahudi, Roma, Yunani dan seluruh dunia – maka tidak akan pernah ada persetujuan secara menyeluruh mengenai keserasian tersebut.
Dengan menyusun Injil secara demikian, berbagai perbedaan tersebut dapat disesuaikan, dengan membuat asumsi umum seperti:
Injil Markus disusun berdasarkan urutan waktu;
Injil Lukas umumnya disusun berdasarkan urutan waktu, tetapi ada beberapa perbedaan. Hal ini mungkin disebabkan karena ia harus menyesuaikan dengan berbagai saksi mata dan tulisan yang ada;
Matius mengelompokkan beberapa materi untuk memperoleh maksud dari pengajaran Yesus. Oleh karena itu, urutannya tidak selalu kronologis;
Hubungan antara Injil Yohanes dengan ketiga Injil lainnya telah dikembangkan oleh beberapa penelitian para ahli selama lebih dari dua abad. Meskipun mereka masih belum bersepakat, namun hubungan itu diasumsikan dapat dipertanggung-jawabkan.
Gordon Smith, seorang pensiunan insinyur, dan sekarang menjadi sejarawan mengenai angkatan laut, penulis sekaligus juga dosen yang mengajar tentang kapal laut, menghabiskan waktu tiga tahun untuk menguji Injil dan menyusun informasi ini.
Tahun 570 M, lahir
Muhammad lahir di Mekah. (Sejarah Islam mengatakan secara spesifik ia lahir pada hari Senin, tanggal 12, bulan pertama (Rabir). Pada kalender biasa, ini berarti tanggal 2 Agustus.
Tahun 576 M, usia 6 tahun
Ibu Muhammad meninggal dunia, kakek dari ayahnyalah yang kemudian merawatnya.
Tahun 578 M, usia 8 tahun
Kakek Muhammad meninggal dunia. Saudara ayahnya, Abu Talib yang kemudian memeliharanya.
Tahun 582 M, usia 12 tahun
Paman Muhammad, Abu Talib, membawanya ke Siria dimana Bahira, seorang rahib Kristen Nestoria, bernubuat atas Muhammad.
Tahun 595 M, usia 25 tahun
Menikah dengan isteri pertamanya, Kadijah, dalam sebuah upacara yang dipimpin oleh sepupunya Waraqa, seorang pendeta Kristen Ebionit.
Tahun 610 M, usia 40 tahun
Memperoleh wahyu pertama dari malaikat Gabriel.
Tahun 613 M, usia 43 tahun
Mulai berkhotbah secara terbuka di Mekah tentang wahyunya.
Tahun 615 M, usia 45 tahun
Muhammad mengirimkan sebelas orang Islam ke Abysinnia (Ethiopia sekarang) untuk meminta perlindungan atas penganiayaan yang mereka dapatkan di Mekah. Ini dikenal dengan Hijrah pertama (ziarah).
Pemimpin suku Qurais memboikot umat Islam dan kerabat Muhammad, menolak pernikahan di antara mereka ataupun menjual makanan kepada mereka. Mereka mencabut boikot itu dua atau tiga tahun kemudian.
Tahun 620 M, usia 50 tahun
Diceritakan tentang Malam Perjalanan dari Mekah ke Yerusalem. Pada tahun yang sama, isteri pertama dan paman sekaligus juga pelindungnya, Abu Talib meninggal dunia.
Tahun 623 M, 1 H, usia 53 tahun
Menandatangani perjanjian dengan dua suku terbesar di Medinah yang kemudian menjadi pelindungnya.
Pindah dari Mekah ke Medinah (hijrah kedua). Peristiwa ini menandai tahun pertama dalam kalender Islam.
Menikah dengan isteri keduanya, Aisah. (Dalam sepuluh tahun berikutnya, ia membawa sebelas perempuan lainnya untuk dijadikan isteri)
Menerima wahyu untuk melakukan jihad, atau perang suci, berperang melawan orang-orang kafir, untuk pertama kalinya.
Memerintahkan pamannya, Hamzah untuk pergi dengan tiga puluh orang tentara Islam untuk merampok kereta orang Qurais. Ini adalah untuk pertama kalinya ia memerintahkan penyerangan.
Mengutus salah satu sepupunya untuk menyerang penyembah berhala dari Mekah.
Mengirimkan sepupunya (Saad ibn Aby Waqqas) untuk menyerang penyembah berhala di Al-Kharrar.
Tahun 624 M,2 H, usia 54 tahun
Tahun ini adalah tahun yang penuh dengan jihad.
Banyak orang Yahudi di Madinah pindah agama Islam.
Serangan di Al-Abuwaa
Perang di Badar. Muhammad sendiri yang memimpin umat Islam dalam sebuah serangan terhadap pasukan Mekah di Lembah Badar. Umat Islam menang secara mengejutkan.
Serangan terhadap Bani Salib (penyembah berhala).
Serangan terhadap al-Sawiq (penyembah berhala).
Mengijinkan puterinya, Fatimah, menikah dengan sepupunya Ali ibn Abi Talib.
Mengirim tujuh pasukan lainnya untuk melakukan serangan (suriya) di kampung-kampung pada tahun ini. (Ini adalah serangan kecil yang hanya melibatkan tiga puluh sampai seratur tentara.)
Tahun 625 M, 3 H, usia 55 tahun
Perang Uhud. Umat Islam menderita kekalahan dari orang-orang Mekah. (Paman Muhammad, Hamzah, terbunuh.)
Membunuh seorang pemimpin Yahudi bernama Kaab Ibn al-Ashraf, karena telah menentang Muhammad secara terang-terangan. Peristiwa ini mengejutkan baik orang-orang Yahudi di Medinah maupun penyembah berhala di Mekah. Ini adalah pertama kalinya Muhammad melakukan tindakan membunuh.
Mengutus tiga serangan (suriya) lainnya pada tahun ini.
Tahun 626 M, 4 H, usia 56 tahun
Serangan terhadap Bani-Nadir (suku Yahudi).
Melakukan dua serangan (suriya) lainnya pada tahun ini.
Tahun 627 M, 5 H, usia 57 tahun
Perampokkan di Dumatu’l-Jandel
Perang Parit. Penduduk Mekah dan beberapa orang Yahudi dari Madinah berupaya untuk menyerang umat Islam di Medinah. Umat Islam menggali parit di sekeliling kota dan penduduk Mekah memilih untuk kembali pulang tanpa berperang.
Serangan terhadap Bani-Qurayzah, salah satu suku Yahudi, di mana Muhammad membunuh semua laki-lakinya dan membawa para perempuan dan anak-anak sebagai tawanan. Hal ini dilakukan sebagai hukuman atas keterlibatan mereka di dalam Perang Parit.
Pembunuhan terhadap seorang pemimpinYahudi lainnya, Abi-Rafa.
Serangan terhadap Bani-Lihyan (suku Arab)
Serangan terhadap Zi-kerd.
Serangan terhadap Bani al-Mustaliq (suku Yahudi). Isteri kedua Muhammad, Aisah, dituduh memiliki hubungan gelap dengan pria lain selama terjadinya serangan ini.
Tahun 628 M, 6 H, usia 58 tahun
Muhammad tidak memimpin satupun pertempuran pada tahun ini, tetapi ia mengirimkan beberapa serangan (suriya).
Tahun 629 M, 7 H, usia 59 tahun
Mengirimkan lima serangan (suriya) di tahun ini.
Serangan ke Khaybar (kampung orang Yahudi).
Tahun 630 M, 8 H, usia 60 tahun
Serangan di Mu’ta.
Pertempuran di Zat-al-Salasil
Penyerbuan dan penaklukkan kota Mekah,
Pertempuran di Hunan.
Serangan terhadap Utas
Serangan terhadap al-Ta-if
Tahun 631 M, 9 H, usia 61 tahun
Tahun ini dikenal sebagai tahun Penundukkan Diri. Orang-orang dari seluruh daerah Arab yang belum diserang akhirnya mengirimkan pesan kepada Muhammad dan berkata, “Kami menundukkan diri kepadamu.” Sejarah islam menyebutkan ada empat puluh delapan kelompok yang berbeda yang mengirimkan pesan ini kepada Muhammad. Muhammadpun mulai mengirimkan surat kepada para pemimimpin dan raja-raja kota di sekitarnya agar mereka menerima Islam.
Serangan di Ta-buk.
Tahun 632 M, 9 H, usia 62 tahun
Mengutus para gubernur (para amir) untuk menguasai wilayah-wilayah di mana orang-orang dan suku-sukunya setuju untuk menerima kenabiannya.
Tahun 633 M, 10 H, usia 63 tahun
Melaksanakan praktek naik haji.
Memberikan khotbah terakhirnya, dikenal juga dengan Khotbah di Bukit Arafat.
Tahun 634 M, 11 H, usia 64 tahun
Terkena demam.
Meninggal dunia.
KERANGKA WAKTU YESUS[1]
Tahun 6/5 SM
Lahir di Betlehem.
Tahun 5/4 SM
Maria danYusuf membawa Yesus ke Mesir untuk melarikan diri dari Herodes yang memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki yang berusia di bawah dua tahun.
Tahun 4/3 SM, usia 2 tahun
Maria danYusuf kembali ke rumah mereka di Nazaret
Tahun 6/7 M, usia 12 tahun
Tertinggal di Bait Tuhan di Yerusalem setelah keluarganya memutuskan untuk kembali ke rumah mereka.
Tahun 26 M, usia 32 tahun
Yohanes Pembaptis mulai mengajar secara terang-terangan.
Pelayanan dimulai
Tahun 26/27, usia 32 atau 33 tahun
Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dan mulai mengajar di depan orang banyak.
Melakukan mujizat yang pertama – mengubah air menjadi anggur.
Mengusir keluar para penukar uang dari Bait Tuhan di Yerusalem.
Berbicara dengan perempuan Samaria di tepi sumur.
Menyembuhkan anak lelaki seorang perwira.
Berkhotbah di sinagoga di kampung halamannya di Nazaret, tetapi ditolak.
Tahun kedua pelayanan
Menyembuhkan orang yang kerasukan setan di sinagoga di Kapernaum.
Menyembuhkan orang yang sakit kusta.
Menyembuhkan orang yang lumpuh.
Menyembuhkan orang timpang di Kolam Bethesda.
Menyembuhkan tangan orang yang lumpuh.
Memilih kedua belas muridnya dan berkhotbah Ucapan Nasehat di Bukit.
Menyembuhkan pegawai dari tentara Romawi.
Membangkitkan anak laki-laki dari seorang janda yang telah meninggal.
Meredakan badai di Danau Galilea.
Menyembuhkan orang kerasukan setan yang tinggal di kuburan.
Membangkitkan anak perempuan yang telah mati dan menyembuhkan seorang perempuan yang mengalami pendarahan.
Tahun ketiga pelayanan
Mengutus duabelas murid untuk menyampaikan pesannya.
Memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan.
Menyembuhkan anak perempuan seorang perempuan bukan Yahudi.
Menyembuhkan seorang yang bisu-tuli.
Memberi makan empat ribu orang.
Menyembuhkan orang buta.
Menyembuhkan seorang anak lelaki yang memiliki gejala epilepsi.
Menyembuhkan sepuluh orang penderita kusta.
Mengampuni perempuan yang kedapatan sedang berzinah.
Menyembuhkan orang buta.
Membangkitkan Lazarus dari kematian.
Perjalanan akhir menuju ke Yerusalem
Tahun 30, usia 35 atau 36 tahun
Menyembuhkan satu atau dua orang buta diYerikho.
Makan malam bersama Lazarus, Maria dan Marta.
Masuk ke Yerusalem diiringi dengan sorak sorai orang banyak (Hari Minggu, sebelum kematiannya)
Makan malam terakhir bersama murid-muridnya (Hari Kamis, sebelum kematiannya)
Ditahan, diajukan ke pengadilan, dan disalibkan (Hari Jumat)
Bangkit dari kematian dan menampakkan diri kepada para pengikutnya (Hari Minggu, setelah kematiannya)
[1] Tanggalan dalam kerangka waktu ini berasal dari Life Application Bible (Netherlands: Tyndale House Publishers, 1999). Tahun kelahiran Yesus yang sebenarnya masih menjadi perdebatan di antara para sarjana Kristen. Beberapa dekade lalu diyakini bahwa Yesus lahir antara tahun 2 atau 3 SM dan karena itu disalibkan dan bangkit pada usia sekitar 33 tahun. Para ahli Perjanjian Baru mengatakan bahwa ia lahir tahun 4 SM (Ben Witherington III, New Testament History) atau tahun 6 atau 5 SM (Life Application Bible). Urutan dalam daftar kerangka waktu berasal dari “Summary of the Travel and Acts of Jesus” oleh Gordon Smith dari Plenarth, United Kingdom. Bahan ini belum diterbitkan, tetapi dapat diakses dalam internet di Christian Classics Ethereal Library pada www.ccel.org/bible/phillips/JBPhillips.htm. Website ini dikelola oleh Calvin College, Grand Rapids, Michigan. Para pembaca perlu berhati-hati terhadap metodologi yang digunakan oleh Gordon untuk menjelaskan kerangka waktunya. Ia menulis
Berbagai kisah perjalanan dan penginjilan Yesus telah dikumpulkan bersama-sama dan diatur untuk mengikuti apa yang dinamakan, “keserasian Injil.” Usaha ini dilakukan untuk mengurutkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus secara kronologis.
Karena Injil tertulis bukan secara biografi sejarah melainkan sebagai kumpulan ajaran yang ditujukan untuk orang-orang yang berbeda – Yahudi, Roma, Yunani dan seluruh dunia – maka tidak akan pernah ada persetujuan secara menyeluruh mengenai keserasian tersebut.
Dengan menyusun Injil secara demikian, berbagai perbedaan tersebut dapat disesuaikan, dengan membuat asumsi umum seperti:
Injil Markus disusun berdasarkan urutan waktu;
Injil Lukas umumnya disusun berdasarkan urutan waktu, tetapi ada beberapa perbedaan. Hal ini mungkin disebabkan karena ia harus menyesuaikan dengan berbagai saksi mata dan tulisan yang ada;
Matius mengelompokkan beberapa materi untuk memperoleh maksud dari pengajaran Yesus. Oleh karena itu, urutannya tidak selalu kronologis;
Hubungan antara Injil Yohanes dengan ketiga Injil lainnya telah dikembangkan oleh beberapa penelitian para ahli selama lebih dari dua abad. Meskipun mereka masih belum bersepakat, namun hubungan itu diasumsikan dapat dipertanggung-jawabkan.
Gordon Smith, seorang pensiunan insinyur, dan sekarang menjadi sejarawan mengenai angkatan laut, penulis sekaligus juga dosen yang mengajar tentang kapal laut, menghabiskan waktu tiga tahun untuk menguji Injil dan menyusun informasi ini.
10. PESAN MEREKA KEPADA DUNIA
Kita telah melihat bagaimana Yesus dan Muhammad menyampaikan pesan mereka. Sekarang kita akan melihat secara jelas pesan apa yang disampaikan itu. Dalam bab ini, Anda akan mengetahui:
Apa yang mereka ajarkan mengenai identitas dan tujuan mereka
Bagaimana mereka memberitahu orang-orang untuk menyenangkan Tuhan
Bagaimana orang-orang dapat diampuni karena telah melawan Tuhan
Apa yang mereka ajarkan tentang hidup setelah kematian
SIAPAKAH MEREKA
MUHAMMAD : NABI TERAKHIR
Identitas diri
Muhammad menyatakan dirinya bahwa ia adalah nabi terakhir yang diutus Allah ke dunia. Ia menjelaskan:
“Persamaanku jika dibandingkan dengan nabi-nabi lain sebelum aku adalah bahwa aku telah mendirikan rumah yang sangat indah dan bagus, kecuali sebuah bangunan dengan sebuah batu bata di sudut. Orang-orang mengelilinginya dan kagum pada keindahannya, tetapi mereka berkata, “Apakah batu bata itu akan ditaruh pada tempatnya!” Jadi akulah batu bata itu, dan akulah nabi terakhir dari antara nabi-nabi.”[1]
Muhammad berkata bahwa ia adalah penggenapan dari nubuatan baik itu Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengenai seorang nabi yang akan datang. Dengan kata lain, ia menyatakan dirinya adalah nabi yang ditunggu oleh orang-orang Yahudi dan Kristen.
“Beberapa teman dari rasul Allah bertanya kepadanya, “Wahai rasul Allah, ceritakanlah kepada kami, tentang dirimu.
Ia menjawab, “Ya, aku adalah pesan dari ayahku Abraham dan kabar baik dari saudaraku Yesus.”[2]
Muhammad juga mengajarkan bahwa orang Yahudi dan orang Kristen telah menyelewengkan Kitab Suci sehingga petunjuk tentang kedatangan Muhammad telah dihilangkan. Para ahli agama Islam modern telah menyatakan bahwa mereka menemukan petunjuk tentang Muhammad yang ada di dalam Alkitab. Anda dapat membaca mengenai topik ini dalam Apendix B.
Meskipun ia mengatakan bahwa ia adalah nabi terakhir dan nabi terbesar, Muhammad juga mengatakan dengan jelas bahwa ia adalah manusia biasa, dan tidak suci. Muhammad berkata kepada orang banyak, “Aku hanyalah manusia biasa sama sepertimu.” (Surat 18:110). Ia akan meninggal dunia sama seperti manusia lainnya. Al Quran mengatakan, “Sesungguhnya kamu (wahai Muhammad) akan mati, dan sesungguhnya mereka (juga) akan mati.” (Surat 39:30).
Mengenai hubungannya dengan Allah, Al Quran menggambarkan Muhammad sebagai “Hamba” Allah (Surat 2:23). Orang yang memeluk Islam pun digambarkan sebagai “Hamba” Allah (Surat 50:8).
Tujuan
Pada awalnya Muhammad mengatakan bahwa tujuan Allah baginya adalah untuk menjadi “pemberi peringatan” (Surat 71:2)
“Tetapi (kamu diutus) sebagai rahmat dari Tuhanmu, supaya kamu memberi peringatan kepada kaum yang kepadanya belum datang peringatan sebelum kamu, supaya mereka mengingatnya atau menerima peringatan.”
--- Surat 28:46 ---
Tetapi, setelah Muhammad pindah ke Medinah, ia menjadi lebih dari sekedar pemberi peringatan, ia menjadi seorang penakluk. Dalam ceramah terakhirnya di Bukit Arafat, ia berkata:
“Setelah hari ini, tidak lama lagi akan ada dua agama di Arab. Aku diturunkan oleh Allah dengan pedang di tanganku, dan kesejahteraanku akan berasal dari bayangan pedangku. Dan ia yang tidak setuju kepadaku akan dipermalukan dan dianiaya.”[3]
Muhammad mengajak para penyembah berhala untuk meninggalkan berhala mereka dan kepada orang-orang Yahudi juga Kristen untuk meninggalkan iman mereka yang telah diselewengkan, dan menerima Islam.
YESUS: ANAK TUHAN
Identitas diri
Dalam banyak kitab Injil, Yesus menyatakan bahwa dirinya adalah anak Tuhan atau Tuhan adalah Bapanya. Sebagai contoh:
“Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Tuhan yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”
--- Matius 16:15-17 ---
“(Yesus berkata) masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Tuhan! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Tuhan? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
--- Yohanes 10:36-38 ---
“Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Tuhan yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Tuhan, atau tidak." Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya.”
--- Matius 26:63-64 ---
(Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Yesus menyatakan dirinya sebagai Anak Tuhan mencakup Matius 4:6; 8:29; 10:32; 11:27; 16:15-17, 27; 27:43; 28:29; Markus 1:11; Lukas 2:49; 10:22; Yohanes 3:16-18; 5:17-18, 25; 10:36; 11:4)
Yesus mengatakan bahwa dirinya adalah penggenapan terhadap nubuat bagi bangsa Yahudi mengenai Mesias yang akan datang.
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”
--- Matius 5:17 ---
“Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”
--- Lukas 24:44 ---
Perkataan Yesus didukung oleh banyak nubuat nabi dalam Perjanjian Lama yang digenapi dalam hidupnya, seperti dilahirkan di Betlehem, tinggal di Nazaret, menghabiskan waktu di Mesir dan rincian mengenai hari-hari terakhir hidupnya. Silahkan lihat Apendiks C untuk daftar yang lebih lengkap, termasuk referensi.
Tujuan
Kitab Perjanjian Lama mengajarkan bahwa Tuhan meminta korban binatang untuk persembahan penebusan dosa. Yesus berkata bahwa tujuan kedatangannya adalah untuk mempersembahkan dirinya sebagai korban terakhir untuk penebusan dosa setiap manusia.
“Karena Anak Manusia juga datang ... untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
--- Markus 10:44 (lihat juga dalam Yohanes 3:14) ---
Yesus meminta orang-orang untuk mempercayai pesan yang disampaikan olehnya agar mereka memiliki hidup yang kekal.
“Karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
--- Yohanes 3:16-17 ---
CARA MENYENANGKAN TUHAN
Inti dari agama manapun adalah bagaimana manusia dapat memiliki hubungan dengan Tuhan. Ajaran Yesus dan Muhammad sangat berbeda dalam hal ini.
Persyaratan untuk menjadi seorang Muslim
Pesan yang disampaikan oleh Muhammad dibangun dan menjadi jelas bersamaan dengan berjalannya waktu. Dengan kata lain, kewajiban yang dituntut kepada umat Islam pada awal pewahyuan tidaklah sama dengan dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian. Sebagai contoh, di Mekah, pada awalnya, umat Islam tidak dituntut untuk bersembahyang dengan jumlah tertentu. Setelah perjalanan Muhammad di Malam Hari, yang terjadi sepuluh tahun setelah pewahyuannya yang pertama, sembahyang diwajibkan menjadi lima kali sehari. Contoh lainnya adalah tentang naik haji ke Mekah, yang tidak diwajibkan sampai tahun kesembilan Muhammad tinggal di Madinah.
Kita akan melihat pesan yang disampaikan oleh Muhammad pada akhir perkembangan agama Islam. Persyaratan untuk menjadi seorang pemeluk agama Islam, adalah:
Menyembah hanya kepada Allah, kepada Muhammad sebagai nabi, dan percaya kepada Al Quran.
Berdoa dengan ritual Islam sebanyak lima kali sehari seperti yang telah ditentukan waktunya. (Pada bab 15, saya akan menggambarkan sembahyang secara Islam dengan rinci.)
Membayar zakat (amal) ke “Rumah Uang,” yang dikelola oleh Muhammad. Setiap orang diminta untuk memberikan 2 persen dari seluruh pendapatannya. Zakat bukanlah pilihan. Muhammad menggunakan uang tersebut untuk membiayai pasukan umat Islam, membantu orang miskin dan membangun gedung-gedung. Pada saat itu belum dikenal istilah “pajak”, tetapi seperti itulah uang tersebut digunakan. Tidak ada pemerintahan sekuler, jadi negara Islam pada saat itu adalah satu-satunya negara yang mengumpulkan pajak. Saat ini, umat Islam tinggal di bawah pemerintahan sekuler dan harus membayar pajak kepada pemerintah. Jadi zakat adalah tambahan kepada pajak sekuler mereka. Karena tidak ada pusat negara Islam, maka setiap orang harus memilih kemana mereka akan memberikan uang mereka.
Puasa antara sembahyang pertama sampai ke empat, selama bulan Ramadan.
Melakukan ziarah (naik haji) ke Ka’abah di Mekah (surat 22:27)
Sebagai tambahan, Muhammad di Medinah menasehati orang-orang bahwa Allah “mencintai” mereka yang mau berperang baginya dalam perampokan dan dalam pertempuran umat Islam dengan orang-orang yang tidak percaya di wilayah Arab (Surat 8 dan 9).
Persyaratan untuk menyenangkan Tuhan
Pesan Yesus tetaplah sama sejak awal sampai pada akhirnya. Ia mengatakan bahwa ia adalah jalan untuk memperoleh hubungan yang benar dengan Tuhan. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
Yesus tidak mempunyai daftar persyaratan bagi para pengikutnya. Sebagai gantinya, ia mengundang mereka:
“Mari, ikutlah Aku.”
--- Markus 1:17 ---
Dan mereka mengikutinya.
“Dan orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia.”
--- Yohanes 6:2 ---
Yesus tidak pernah mengatakan bahwa mengikuti Dia akan mudah. Ia malah mengingatkan bahwa hidup mereka berada dalam bahaya.
“Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.”
--- Markus 8:34-35 ---
Tetapi Yesus juga menjanjikan bahwa ia tidak akan membebani para pengikutnya.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”
--- Matius 11:28-30 ---
Ia meminta mereka untuk mematuhi dua hukum “terbesar” dalam perintah Tuhan:
“Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
--- Lukas 10:25-28 ---
Singkatnya, persyaratan untuk menjadi seorang Kristen adalah mengikut Yesus, mencintai Tuhan, dan mencintai sesama. Berbeda dengan Muhammad, Yesus tidak pernah meminta murid-muridnya untuk mengikuti hukum tentang kapan harus berdoa, berapa banyak uang yang harus diberikan, berapa sering berpuasa atau kapan harus melakukan ziarah.
PENGAMPUNAN DOSA
Jika Anda belajar tentang bagaimana menyenangkan Tuhan, maka Anda harus menjelaskan apa yang akan terjadi jika terjadi suatu kesalahan yang tidak dapat dihindari. Dengan kata lain, apakah persyaratan Tuhan untuk memperoleh pengampunan? Marilah kita lihat apa yang dikatakan oleh Yesus dan Muhammad.
Allah memutuskan dosa-dosa siapa yang akan diampuni
Ada sebuah cerita yang sangat terkenal dalam sejarah Islam mengenai kematian paman Muhammad, Abu talib, yang telah melindungi Muhammad dari musuh-musuhnya di Mekah selama bertahun-tahun. Ketika pamannya sekarat, Muhammad memohon agar ia menerima Islam, tetapi ia menolak. Setelah itu Muhammad menerima pewahyuan dari Allah, yang mengatakan:
“Kamu mohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (para pemberontak, tidak taat kepada Allah).”
--- Surat 9:80 ---
Dengan kata lain, Muhammad berkata bahwa ia tidak mempunyai kemampuan untuk mengampuni seseorang dari kesalahnnya atau meyakinkan Allah untuk mengampuni. Muhammad hanya berkata bahwa ia hanya bisa mengurangi hukuman bagi pamannya, sebagai berikut:
“Di antara para penduduk api Abu Talib adalah yang paling kecil penderitaannya, dan ia akan memakai dua sepatu (dari api), yang akan mendidihkan otaknya.[4]”
Dalam kejadian yang lain, Muhammad berkata bahwa ia meminta Allah untuk mengampuni ibunya, yang meninggal dunia ketika Muhammad masih berusia enam tahun. Salah seorang pembantu Muhammad menceritakan kisah itu demikian:
“Abu Harriara mengisahkan, “Nabi Muhammad mengunjungi makam ibunya dan menangis, dan menangis hingga membuat semua orang yang berada di sekitarnya ikut menangis. Lalu Muhammad berkata, “Aku meminta Allah apakah aku boleh memohonkan ampun bagi ibuku, dan ia berkata tidak, tetapi ia hanya memberikanku ijin untuk mengunjungi makamnya.[5]”
Sekali lagi Muhammad menyatakan bahwa ia tidak dapat mempengaruhi Allah untuk mengampuni dosa. Melalui Al Quran dan Hadits, Muhammad berpikir bahwa hanya Allah yang memiliki wewenang untuk mengampuni dosa.
Semua pengampunan dosa tidaklah sama di dalam teologia Islam. Ada dosa besar dan ada dosa kecil. Contoh dosa besar adalah menyembah tuhan lain selain Allah; menyangkal dasar-dasar dalam agama Islam, terutama lima pilar; menghina Muhammad; membunuh orang di luar kerangka hukum Islam dan memfitnah orang ketika orang tersebut tidak ada. Si pembuat dosa harus bertobat di hadapan Allah, tetapi Allah yang memutuskan apakah orang tersebut akan diampuni atau tidak. Pada hari penghakiman, orang tersebut akan mengetahui apakan Allah akan mengampuninya atau tidak.
Sebaliknya, dosa kecil dapat dihapuskan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik, seperti melakukan sembahyang tambahan, berpuasa lebih banyak atau berbuat amal lebih banyak. Sebagai contoh dosa kecil adalah melewatkan waktu bersembahyang dalam satu hari, berbohong, makan ketika puasa di bulan Ramadan, atau menolak untuk membantu tetangga yang membutuhkan.
Singkatnya, Allah sendirilah yang memutuskan apakah seseorang akan diampuni. Jika ia melakukan dosa bear, ia bergantung pada belas kasihan Allah. Jika ia melakukan dosa kecil, ia dapat memohon pengampunan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik atau pergi naik haji (berziarah ke Mekah).
Pengampunan Allah bagi mereka yang ikut berperang
Setelah Muhammad mulai melakukan perjalanan militer dari Medinah, ia menerima pewahyuan mengenai cara khusus bagaiamana umat Islam dapat memperoleh pengampunan dari Allah – yaitu dengan berperang dan mati demi Islam. Salah satu wahyu menjelaskan tentang berperang untuk Allah seperti “berdagang”. Jika engkau memberikan “kemakmuran dan hidupmu” maka ia akan mengampuni dosa-dosamu, memasukkanmu ke dalam sorga, dan membantu kamu dalam peperanganmu. Berikut ini adalah ayat dari Al Quran:
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, (jika kamu melakukannya) niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ’Adn (Eden). Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah (terhadap musuh-mushmu) dan kemenangan yang dekat (waktunya).”
--- Surat 6:10-13 (penekanan ditambahkan) ---
Umat Islam lebih jauh mengartikan ayat ini bahwa orang yang mati dalam jihad akan langsung masuk sorga dan tidak perlu menunggu di dalam kuburnya sampai hari Penghakiman.
Yang Yesus ajarkan tentang pengampunan
Sementara Muhammad berkata bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk mengampuni dosa, Yesus secara terang-terangan mengakui bahwa ia memiliki kuasa penuh untuk mengampuni dosa.
“Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Tuhan." Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itu pun bangun lalu pulang.”
--- Matius 9:2-7; lihat juga Lukas 7:36-50 ---
Ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus berjalan ke arahnya, ia mengatakan, “Lihatlah Anak domba Tuhan, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Ketika Yesus membicarakan kematiannya melalui peristiwa penyaliban, ia berkata, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Matius 26:28).
Dengan kata lain, Yesus tidak hanya menyatakan bahwa dirinya sanggup mengampuni dosa atas nama Tuhan selama ia ada di bumi, tetapi ia juga menyatakan bahwa kematiannya akan berfungsi sebagai korban pengganti, memberikan pengampunan dosa bagi semua manusia di sepanjang masa. Salah satu pernyataan terakhir Yesus kepada murid-muridnya, adalah:
“Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.”
--- Lukas 24:46-47 (penekanan ditambahkan) ---
KEADAAN SETELAH KEMATIAN
Kita tahu bahwa Yesus dan Muhammad telah mengajarkan tentang diri mereka dan apa yang mereka minta untuk dilakukan oleh para pengikut mereka. Sekarang mari kita bandingkan ajara mereka tentang Tuhan atau bagaimana Allah memperlakukan orang-orang ketika mereka meninggal dunia.
Keadaan seorang muslim setelah meninggal
Muhammad mengajarkan bahwa setelah meninggal dunia, seseorang akan tetap tinggal di dalam kuburnya sampai pada Hari Penghakiman. Jika orang itu berbuat baik maka kuburnya akan seperti surga kecil. Tetapi jika perbuatan orang itu buruk, maka kuburnya akan menjadi tempat penderitaan (Surat 55:46-60). Namun demikian, Muhammad tidak dapat memberitahukan seseorang secara pasti apakah ia akan mendapatkan kegembiraan ataukah penderitaan di dalam kuburnya.
Sebagai seorang Muslim, saya sendiri frustasi dengan tidak jelasnya informasi mengenai ini. Saya heran, “Mengapa tuhan di dalam Al Quran memberikan begitu banyak pedoman tentang kehidupan di dunia, seperti apa yang harus dilakukan ketika seorang perempuan sedang mendapatkan haid, tetapi tidak dapat memberitahukan apakah aku akan disiksa atau memperoleh kenyamanan ketika aku meninggal dunia?”
Muhammad sendiri menyatakan kekhawatirannya tentang apa yang akan terjadi padanya di dalam kubur. Istrinya, Aisah mengatakan:
“Dua orang wanita tua Yahudi mengunjungiku di rumahku dan berkata kepadaku, “Orang mati di dalam kubur mereka akan dihukum.” Aku tidak percaya kepada mereka. Setelah mereka pergi, aku pergi kepada Nabi Muhammad dan menceritakan hal itu kepadanya, lalu ia berkata, “Ya, mereka mengatakan hal yang benar kepadamu; yaitu bahwa sebagian orang yang telah meninggal dunia akan dihukum, bahkan binatang pun dapat mendengar teriakan mereka di dalam kubur.” Sejak saat itu, setiap kali aku melihat Nabi Muhammad sembahyang, ia meminta Allah untuk membebaskannya dari penghakiman di dalam kubur.”[6]
Muhammad berpikir bahwa Hari Penghakiman akan dinyatakan dengan bunyi terompet. Kemudian semua yang mati dan yang hidup akan berkumpul bersama, digiring oleh para malaikat untuk masuk ke dalam kotak, untuk kemudian dihakimi oleh Allah sendiri. Allah akan menimbang perbuatan baik dan buruk mereka dan memutuskan siapa yang akan pergi ke sorga dan siapa yang akan ke neraka. Sampai Hari Penghakiman, seseorang tidak tahu apakah ia telah menyenangkan Allah. (Lihat Surat 6:73, 18:99, 20:102, 23:101, 27:87, 36:48, 39:68, 78:18.)
Muhammad sendiri berkata bahwa ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya di Hari Penghakiman. Mari kita lihat saat di mana ia membuat pernyataan ini. Muhammad sedang berkunjung ke suatu rumah di mana seorang pria Muslim meninggal dunia dan jenazahnya masih di sana. Seorang perempuan berkata kepada jenazah trersebut, “Kiranya belas kasihan Allah ada atasmu. Aku bersaksi bahwa Allah telah menghargaimu.”
Muhammad berkata kepada perempuan itu, “Bagaimana kau tahu hal itu (Allah menghargai pria tersebut)?”
Ia menjawab, “Aku tidak tahu, demi Allah.”
Muhammad menjawab, “Baginya, kematian telah mendatanginya dan aku berharap semua yang baik dari Allah untuknya. Demi Allah, meskipun aku adalah rasul Allah, aku sendiri tidak tahu apakah yang akan terjadi kepadaku, tidak juga dirimu.”[7]
Pengikut setia Muhammad, Abu Bakar juga berbicara tentang kengerian akan penghukuman Allah. Ia berkata, “Jika salah satu kakiku berada di sorga, dan yang satunya lagi berada di luar, aku tidak akan mempercayai kelicikan Allah.”[8] Maksud Bakar di sini yaitu bahwa hidup kekalnya adalah sebuah misteri sampai kedua kakinya benar-benar berada di dalam surga.
Nama kecil Abu Bakar adalah “Lelaki yang Menangis” karena ia bisa menangis terus menerus sementara ia sembahyang.[9] Ketika ditanya mengenai hal ini, jawabnnya adalah, “Setiap saat aku berdoa, aku membayangkan Allah berdiri di hadapanku dan raja kematian di belakangku, surga di sebelah kananku dan neraka di sebelah kiriku, dan aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Tuhanku kepadaku.”[10]
Ajaran Muhammad memberikan umat Islam sedikit kenyamanan ketika orang yang dicintai meninggal dunia.
“Muhammad melihat seorang perempuan menangis di makam anak lelakinya. Lalu ia berkata, “Jadilah orang yang bertakwa dengan baik dan bersabarlah.” Perempuan itu kemudian menjawabnya, “Pergilah, karena bukan engkau yang kehilangan orang yang dikasihi, melainkan aku. Perempuan itu tidak mengenal Muhammad.”[11]
Mari kita uji perkataan Muhammad yang menentramkan perempuan di atas. Ia menyuruhnya untuk menjadi seorang Muslim yang baik dan bersabar. Dalam ajaran agama Islam, apa yang terjadi pada anak laki-laki perempuan itu merupakan kehendak Allah. Tidak seorangpun tahu apakah ia akan pergi ke neraka atau ke sorga; Allah yang memutuskan. Jadi Muhammad mengatakan kepada perempuan itu untuk menerima keputusan Allah, apapun itu. Namun, hal ini tidak menentramkan hatinya.
Takdir
Ajaran Muhammad tentang Hari Penghakiman merupakan kombinasi dengan ajarannya mengenai takdir. Hasilnya adalah ketidakpastian besar dalam pikiran umat Islam tentang keadaan setelah meninggal dunia:
“Rasul Allah, satu-satu dan yang benar-benar memperoleh ilham berkata, (sebagai ciptaan Allah), setiap orang dari kamu dikumpulkan dalam rahim ibumu selama empat puluh hari pertama dan kemudian menjadi gumpalan pada empat puluh hari yang kedua, dan menjadi sepotong daging pada empat puluh hari berikutnya. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk menuliskan empat kata, “Ia menulis perbuatan-perbuatannya, waktu kematiannya, cara hidupnya dan apakah ia akan dikutuki atau diberkati (dalam agama). Baru kemudian jiwanya dihembuskan ke dalam tubuhnya. Jadi seseorang bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang dicirikan oleh orang-orang neraka. Api, begitu banyak sehingga jarak antara mereka dengan api itu hanya sedikit, maka apapun yang telah tertulis (oleh malaikat) akan berlaku, dan demikianlah ia memulai perbuatan ciri-ciri dari orang-orang yang berada di dalam dan akan masuk surga. Hampir sama dengan itu, seseorang bisa saja melakukan perbuatan seperti orang-orang sorga sebanyak mungkin sehingga hanya sedikit saja jaraknya dengan sorga, dan kemudian apa yang telah dituliskan (oleh malaikat) akan berlaku, dan ia yang melakukan perbuatan dari orang-orang (api) neraka akan masuk (api) neraka.”[12]
Ijinkan saya membuat ringkasan tentang apa yang dikatakan hadits supaya Anda memahaminya dengan mudah. Muhammad pikir bahwa ketika seseorang masih berada di dalam rahim ibunya, Allah mengutus malaikat untuk menulis tentang hidup orang tersebut mengenai: (1) perbuatan-perbuatannya, (2) waktu kematiannya, (3) cara hidupnya dan (4) apakah ia akan dikuti atau diberkati (artinya apakah ia akan masuk neraka atau masuk sorga).
Oleh karena itu, seseorang bisa saja melakukan perbuatan jahat seumur hidupnya, tetapi jika di dalam rahim ibunya, malaikat telah menulis bahwa ia akan “diberkati” maka pada akhir hidupnya takdir ini yang akan mengambil alih dan ia akan melakukan perbuatan baik lalu berakhir di sorga. Sebaliknya, seseorang yang melakukan perbuatan baik seumur hidupnya, tetapi jika malaikat telah menulis bahwa ia akan “dikutuk” maka pada akhir hidupnya, takdir ini jugalah yang akan mengambil alih dan orang tersebut akan mulai berbuat jahat dan berakhir di neraka.
Bagaimana hal ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Jika Anda adalah seorang Muslim, Anda akan berharap bahwa Allah akan menerima semua perbuatan baik dan mengijinkan Anda masuk sorga. Tetapi karena Anda berpikir bahwa takdir terakhir Anda didasarkan pada perkataan yang telah ditulis oleh malaikat sebelum Anda lahir, maka harapan Anda itu bisa dibayangi dengan keragu-raguan. Bagaimana jika aku termasuk dalam salah seorang yang ditakdirkan untuk melakukan perbuatan baik seumur hidupku tetapi pada akhirnya diputuskan masuk neraka?
Ajaran Yesus tentang keadaan setelah meninggal
Hari Penghakiman juga menjadi bagian dari ajaran Yesus (Matius 10:15, 11:22-24, 12:36, 41-42, 24:31; Lukas 10:14, 11:31-32). Mengenai Hari Penghakiman, Yesus berkata:
Tidak ada yang tahu tentang harinya kecuali Tuhan (Matius 24:36).
Suara sangkakala berbunyi (Matius 24:31).
Para Malaikat akan mengumpulkan orang-orang (Matius 13:41).
Seperti yang baru saja Anda baca, Muhammad menjelaskan semua keterangan yang sama enam ratus tahun kemudian. (Lihat Surat 6:73, 18:99, 20:10, 23:101, 27:87, 36:48, 50:20, 78:18). Meski demikian ajaran Yesus tentang Hari Penghakiman sangat berbeda dengan ajaran Muhammad. Sebagai contoh, Yesus mengatakan bahwa ia akan kembali dan melakukan penghakiman (Matius 13:24-30, 36-41, 47-50; 25:31-33; Yohanes 5:22). Sedangkan Muhammad mengatakan Allahlah yang akan menghakimi.
Yesus menceritakan empat perumpamaan dalam Matius 24 dan 25 tentang Hari Penghakiman, untuk menggambarkan kriteria orang-orang yang mana yang akan dihakimi. Setiap perumpamaan mengajak orang-orang untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama mereka untuk mendapatkan hidup yang kekal.
Apakah ini berarti bahwa Yesus menuntut perbuatan baik agar seseorang masuk sorga? Ini adalah pertanyaan penting yang dapat kita jawab melalui ajaran Yesus itu sendiri. Yesus berkata bahwa iman kepadanya diperlukan untuk memperoleh hidup kekal, “Ia (Tuhan) telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Dan Yesus sendiri berakta, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15). Ini berarti bahwa jika Anda benar-benar mempercayai bahwa Yesus adalah Anak Tuhan, Anda akan menaati perintahnya. Jika Anda tidak menaati perintahnya, itu berarti Anda tidak mempercayainya.
Pemahaman ni didukung oleh tulisan para pengikut Yesus. Yakobus, salah seorang murid Yesus yang sangat dekat dengannya menulis, “Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). Ia melukiskan perbuatan baik sebagai bukti dari iman, “Aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku” (Yakobus 2:18). Kitab Efesus menyatakan dengan sederhana, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9).
Oleh karena itu, pada Hari Penghakiman, Yesus akan mencari perbuatan baik yang merupakan bentuk iman kepadanya.
Untuk mengetahui apa yang terjadi pada orang-orang mati sementara mereka menantikan Hari Penghakiman, Yesus memberikan sebuah ajaran. Ia bercerita tentang sebuah kisah di mana seorang yang kaya meninggal dunia lalu masuk neraka, dan seorang miskin yang juga meninggal dunia namun duduk di pangkuan Abraham, yang merupakan tempat yang nyaman (Lukas 16:19-31). Hal ini memberikan sebuah indikasi tempat di mana orang-orang yang telah meninggal dunia menunggu sampai tiba Hari Penghakiman. Keterangan lainnya mengenai penghakiman bagi orang percaya dan bukan orang percaya digambarkan dalam bagian lain di kitab Perjanjian Baru, terutama kitab Wahyu.
KESIMPULAN
Yesus dan Muhammad telah menjelaskan gagasan yang sangat mendalam tentang bagaimana menyenangkan Tuhan, pengampunan dan Hari Penghakiman. Mereka melihat peran mereka sebagai utusan Tuhan dengan cara yang berbeda pula. Dalam bab berikutnya, kita akan melihat apa yang dikatakan oleh Muhammad tentang Yesus dan apa yang mungkin saja dikatakan oleh Yesus tentang Muhammad.
[1] The Correct Books of Bukhari, vol. 4, buku 56, no 735.
[2] Ibn Hisham, vol. 1, bagian 1, hal. 302.
[3] Ibn Hisham, vol. 3, bagian 6, hal 8.
[4] The Correct Books of Muslim, buku 1, no. 413.
[5] Sahih Muslim, no. 2259.
[6] Sahih Muslim, no. 1321. Lihat juga The Correct Books of Muslim, buku 4, hal 1214.
[7] The Correct Books of Bukhari, vol. 9, buku 87, no. 145. Narasi oleh Kharija bin Zaid bin Thabit.
[8] Dr. Haykyl, Men Around the Messenger (Cairo, Mesir: Dar Al-Nahadah Publishers, 1972)
[9] The Correct Books of Bukhari, vol. 5, buku 58, no. 245.
[10] Haykyl, Men Around the Messenger.
[11] Sahih al-Bukhari, no. 372, vol. 2, hal 208. Lihat juga The Correct Books of Bukhari, vol. 2, buku 23, no. 372.
[12] The Correct Books of Bukhari, vol. 4, buku 55, no. 549. Narasi oleh Abdullah.
Apa yang mereka ajarkan mengenai identitas dan tujuan mereka
Bagaimana mereka memberitahu orang-orang untuk menyenangkan Tuhan
Bagaimana orang-orang dapat diampuni karena telah melawan Tuhan
Apa yang mereka ajarkan tentang hidup setelah kematian
SIAPAKAH MEREKA
MUHAMMAD : NABI TERAKHIR
Identitas diri
Muhammad menyatakan dirinya bahwa ia adalah nabi terakhir yang diutus Allah ke dunia. Ia menjelaskan:
“Persamaanku jika dibandingkan dengan nabi-nabi lain sebelum aku adalah bahwa aku telah mendirikan rumah yang sangat indah dan bagus, kecuali sebuah bangunan dengan sebuah batu bata di sudut. Orang-orang mengelilinginya dan kagum pada keindahannya, tetapi mereka berkata, “Apakah batu bata itu akan ditaruh pada tempatnya!” Jadi akulah batu bata itu, dan akulah nabi terakhir dari antara nabi-nabi.”[1]
Muhammad berkata bahwa ia adalah penggenapan dari nubuatan baik itu Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengenai seorang nabi yang akan datang. Dengan kata lain, ia menyatakan dirinya adalah nabi yang ditunggu oleh orang-orang Yahudi dan Kristen.
“Beberapa teman dari rasul Allah bertanya kepadanya, “Wahai rasul Allah, ceritakanlah kepada kami, tentang dirimu.
Ia menjawab, “Ya, aku adalah pesan dari ayahku Abraham dan kabar baik dari saudaraku Yesus.”[2]
Muhammad juga mengajarkan bahwa orang Yahudi dan orang Kristen telah menyelewengkan Kitab Suci sehingga petunjuk tentang kedatangan Muhammad telah dihilangkan. Para ahli agama Islam modern telah menyatakan bahwa mereka menemukan petunjuk tentang Muhammad yang ada di dalam Alkitab. Anda dapat membaca mengenai topik ini dalam Apendix B.
Meskipun ia mengatakan bahwa ia adalah nabi terakhir dan nabi terbesar, Muhammad juga mengatakan dengan jelas bahwa ia adalah manusia biasa, dan tidak suci. Muhammad berkata kepada orang banyak, “Aku hanyalah manusia biasa sama sepertimu.” (Surat 18:110). Ia akan meninggal dunia sama seperti manusia lainnya. Al Quran mengatakan, “Sesungguhnya kamu (wahai Muhammad) akan mati, dan sesungguhnya mereka (juga) akan mati.” (Surat 39:30).
Mengenai hubungannya dengan Allah, Al Quran menggambarkan Muhammad sebagai “Hamba” Allah (Surat 2:23). Orang yang memeluk Islam pun digambarkan sebagai “Hamba” Allah (Surat 50:8).
Tujuan
Pada awalnya Muhammad mengatakan bahwa tujuan Allah baginya adalah untuk menjadi “pemberi peringatan” (Surat 71:2)
“Tetapi (kamu diutus) sebagai rahmat dari Tuhanmu, supaya kamu memberi peringatan kepada kaum yang kepadanya belum datang peringatan sebelum kamu, supaya mereka mengingatnya atau menerima peringatan.”
--- Surat 28:46 ---
Tetapi, setelah Muhammad pindah ke Medinah, ia menjadi lebih dari sekedar pemberi peringatan, ia menjadi seorang penakluk. Dalam ceramah terakhirnya di Bukit Arafat, ia berkata:
“Setelah hari ini, tidak lama lagi akan ada dua agama di Arab. Aku diturunkan oleh Allah dengan pedang di tanganku, dan kesejahteraanku akan berasal dari bayangan pedangku. Dan ia yang tidak setuju kepadaku akan dipermalukan dan dianiaya.”[3]
Muhammad mengajak para penyembah berhala untuk meninggalkan berhala mereka dan kepada orang-orang Yahudi juga Kristen untuk meninggalkan iman mereka yang telah diselewengkan, dan menerima Islam.
YESUS: ANAK TUHAN
Identitas diri
Dalam banyak kitab Injil, Yesus menyatakan bahwa dirinya adalah anak Tuhan atau Tuhan adalah Bapanya. Sebagai contoh:
“Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Tuhan yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”
--- Matius 16:15-17 ---
“(Yesus berkata) masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Tuhan! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Tuhan? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
--- Yohanes 10:36-38 ---
“Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Tuhan yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Tuhan, atau tidak." Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya.”
--- Matius 26:63-64 ---
(Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Yesus menyatakan dirinya sebagai Anak Tuhan mencakup Matius 4:6; 8:29; 10:32; 11:27; 16:15-17, 27; 27:43; 28:29; Markus 1:11; Lukas 2:49; 10:22; Yohanes 3:16-18; 5:17-18, 25; 10:36; 11:4)
Yesus mengatakan bahwa dirinya adalah penggenapan terhadap nubuat bagi bangsa Yahudi mengenai Mesias yang akan datang.
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”
--- Matius 5:17 ---
“Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”
--- Lukas 24:44 ---
Perkataan Yesus didukung oleh banyak nubuat nabi dalam Perjanjian Lama yang digenapi dalam hidupnya, seperti dilahirkan di Betlehem, tinggal di Nazaret, menghabiskan waktu di Mesir dan rincian mengenai hari-hari terakhir hidupnya. Silahkan lihat Apendiks C untuk daftar yang lebih lengkap, termasuk referensi.
Tujuan
Kitab Perjanjian Lama mengajarkan bahwa Tuhan meminta korban binatang untuk persembahan penebusan dosa. Yesus berkata bahwa tujuan kedatangannya adalah untuk mempersembahkan dirinya sebagai korban terakhir untuk penebusan dosa setiap manusia.
“Karena Anak Manusia juga datang ... untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
--- Markus 10:44 (lihat juga dalam Yohanes 3:14) ---
Yesus meminta orang-orang untuk mempercayai pesan yang disampaikan olehnya agar mereka memiliki hidup yang kekal.
“Karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”
--- Yohanes 3:16-17 ---
CARA MENYENANGKAN TUHAN
Inti dari agama manapun adalah bagaimana manusia dapat memiliki hubungan dengan Tuhan. Ajaran Yesus dan Muhammad sangat berbeda dalam hal ini.
Persyaratan untuk menjadi seorang Muslim
Pesan yang disampaikan oleh Muhammad dibangun dan menjadi jelas bersamaan dengan berjalannya waktu. Dengan kata lain, kewajiban yang dituntut kepada umat Islam pada awal pewahyuan tidaklah sama dengan dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian. Sebagai contoh, di Mekah, pada awalnya, umat Islam tidak dituntut untuk bersembahyang dengan jumlah tertentu. Setelah perjalanan Muhammad di Malam Hari, yang terjadi sepuluh tahun setelah pewahyuannya yang pertama, sembahyang diwajibkan menjadi lima kali sehari. Contoh lainnya adalah tentang naik haji ke Mekah, yang tidak diwajibkan sampai tahun kesembilan Muhammad tinggal di Madinah.
Kita akan melihat pesan yang disampaikan oleh Muhammad pada akhir perkembangan agama Islam. Persyaratan untuk menjadi seorang pemeluk agama Islam, adalah:
Menyembah hanya kepada Allah, kepada Muhammad sebagai nabi, dan percaya kepada Al Quran.
Berdoa dengan ritual Islam sebanyak lima kali sehari seperti yang telah ditentukan waktunya. (Pada bab 15, saya akan menggambarkan sembahyang secara Islam dengan rinci.)
Membayar zakat (amal) ke “Rumah Uang,” yang dikelola oleh Muhammad. Setiap orang diminta untuk memberikan 2 persen dari seluruh pendapatannya. Zakat bukanlah pilihan. Muhammad menggunakan uang tersebut untuk membiayai pasukan umat Islam, membantu orang miskin dan membangun gedung-gedung. Pada saat itu belum dikenal istilah “pajak”, tetapi seperti itulah uang tersebut digunakan. Tidak ada pemerintahan sekuler, jadi negara Islam pada saat itu adalah satu-satunya negara yang mengumpulkan pajak. Saat ini, umat Islam tinggal di bawah pemerintahan sekuler dan harus membayar pajak kepada pemerintah. Jadi zakat adalah tambahan kepada pajak sekuler mereka. Karena tidak ada pusat negara Islam, maka setiap orang harus memilih kemana mereka akan memberikan uang mereka.
Puasa antara sembahyang pertama sampai ke empat, selama bulan Ramadan.
Melakukan ziarah (naik haji) ke Ka’abah di Mekah (surat 22:27)
Sebagai tambahan, Muhammad di Medinah menasehati orang-orang bahwa Allah “mencintai” mereka yang mau berperang baginya dalam perampokan dan dalam pertempuran umat Islam dengan orang-orang yang tidak percaya di wilayah Arab (Surat 8 dan 9).
Persyaratan untuk menyenangkan Tuhan
Pesan Yesus tetaplah sama sejak awal sampai pada akhirnya. Ia mengatakan bahwa ia adalah jalan untuk memperoleh hubungan yang benar dengan Tuhan. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
Yesus tidak mempunyai daftar persyaratan bagi para pengikutnya. Sebagai gantinya, ia mengundang mereka:
“Mari, ikutlah Aku.”
--- Markus 1:17 ---
Dan mereka mengikutinya.
“Dan orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia.”
--- Yohanes 6:2 ---
Yesus tidak pernah mengatakan bahwa mengikuti Dia akan mudah. Ia malah mengingatkan bahwa hidup mereka berada dalam bahaya.
“Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.”
--- Markus 8:34-35 ---
Tetapi Yesus juga menjanjikan bahwa ia tidak akan membebani para pengikutnya.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”
--- Matius 11:28-30 ---
Ia meminta mereka untuk mematuhi dua hukum “terbesar” dalam perintah Tuhan:
“Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
--- Lukas 10:25-28 ---
Singkatnya, persyaratan untuk menjadi seorang Kristen adalah mengikut Yesus, mencintai Tuhan, dan mencintai sesama. Berbeda dengan Muhammad, Yesus tidak pernah meminta murid-muridnya untuk mengikuti hukum tentang kapan harus berdoa, berapa banyak uang yang harus diberikan, berapa sering berpuasa atau kapan harus melakukan ziarah.
PENGAMPUNAN DOSA
Jika Anda belajar tentang bagaimana menyenangkan Tuhan, maka Anda harus menjelaskan apa yang akan terjadi jika terjadi suatu kesalahan yang tidak dapat dihindari. Dengan kata lain, apakah persyaratan Tuhan untuk memperoleh pengampunan? Marilah kita lihat apa yang dikatakan oleh Yesus dan Muhammad.
Allah memutuskan dosa-dosa siapa yang akan diampuni
Ada sebuah cerita yang sangat terkenal dalam sejarah Islam mengenai kematian paman Muhammad, Abu talib, yang telah melindungi Muhammad dari musuh-musuhnya di Mekah selama bertahun-tahun. Ketika pamannya sekarat, Muhammad memohon agar ia menerima Islam, tetapi ia menolak. Setelah itu Muhammad menerima pewahyuan dari Allah, yang mengatakan:
“Kamu mohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (para pemberontak, tidak taat kepada Allah).”
--- Surat 9:80 ---
Dengan kata lain, Muhammad berkata bahwa ia tidak mempunyai kemampuan untuk mengampuni seseorang dari kesalahnnya atau meyakinkan Allah untuk mengampuni. Muhammad hanya berkata bahwa ia hanya bisa mengurangi hukuman bagi pamannya, sebagai berikut:
“Di antara para penduduk api Abu Talib adalah yang paling kecil penderitaannya, dan ia akan memakai dua sepatu (dari api), yang akan mendidihkan otaknya.[4]”
Dalam kejadian yang lain, Muhammad berkata bahwa ia meminta Allah untuk mengampuni ibunya, yang meninggal dunia ketika Muhammad masih berusia enam tahun. Salah seorang pembantu Muhammad menceritakan kisah itu demikian:
“Abu Harriara mengisahkan, “Nabi Muhammad mengunjungi makam ibunya dan menangis, dan menangis hingga membuat semua orang yang berada di sekitarnya ikut menangis. Lalu Muhammad berkata, “Aku meminta Allah apakah aku boleh memohonkan ampun bagi ibuku, dan ia berkata tidak, tetapi ia hanya memberikanku ijin untuk mengunjungi makamnya.[5]”
Sekali lagi Muhammad menyatakan bahwa ia tidak dapat mempengaruhi Allah untuk mengampuni dosa. Melalui Al Quran dan Hadits, Muhammad berpikir bahwa hanya Allah yang memiliki wewenang untuk mengampuni dosa.
Semua pengampunan dosa tidaklah sama di dalam teologia Islam. Ada dosa besar dan ada dosa kecil. Contoh dosa besar adalah menyembah tuhan lain selain Allah; menyangkal dasar-dasar dalam agama Islam, terutama lima pilar; menghina Muhammad; membunuh orang di luar kerangka hukum Islam dan memfitnah orang ketika orang tersebut tidak ada. Si pembuat dosa harus bertobat di hadapan Allah, tetapi Allah yang memutuskan apakah orang tersebut akan diampuni atau tidak. Pada hari penghakiman, orang tersebut akan mengetahui apakan Allah akan mengampuninya atau tidak.
Sebaliknya, dosa kecil dapat dihapuskan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik, seperti melakukan sembahyang tambahan, berpuasa lebih banyak atau berbuat amal lebih banyak. Sebagai contoh dosa kecil adalah melewatkan waktu bersembahyang dalam satu hari, berbohong, makan ketika puasa di bulan Ramadan, atau menolak untuk membantu tetangga yang membutuhkan.
Singkatnya, Allah sendirilah yang memutuskan apakah seseorang akan diampuni. Jika ia melakukan dosa bear, ia bergantung pada belas kasihan Allah. Jika ia melakukan dosa kecil, ia dapat memohon pengampunan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik atau pergi naik haji (berziarah ke Mekah).
Pengampunan Allah bagi mereka yang ikut berperang
Setelah Muhammad mulai melakukan perjalanan militer dari Medinah, ia menerima pewahyuan mengenai cara khusus bagaiamana umat Islam dapat memperoleh pengampunan dari Allah – yaitu dengan berperang dan mati demi Islam. Salah satu wahyu menjelaskan tentang berperang untuk Allah seperti “berdagang”. Jika engkau memberikan “kemakmuran dan hidupmu” maka ia akan mengampuni dosa-dosamu, memasukkanmu ke dalam sorga, dan membantu kamu dalam peperanganmu. Berikut ini adalah ayat dari Al Quran:
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, (jika kamu melakukannya) niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ’Adn (Eden). Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah (terhadap musuh-mushmu) dan kemenangan yang dekat (waktunya).”
--- Surat 6:10-13 (penekanan ditambahkan) ---
Umat Islam lebih jauh mengartikan ayat ini bahwa orang yang mati dalam jihad akan langsung masuk sorga dan tidak perlu menunggu di dalam kuburnya sampai hari Penghakiman.
Yang Yesus ajarkan tentang pengampunan
Sementara Muhammad berkata bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk mengampuni dosa, Yesus secara terang-terangan mengakui bahwa ia memiliki kuasa penuh untuk mengampuni dosa.
“Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Tuhan." Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itu pun bangun lalu pulang.”
--- Matius 9:2-7; lihat juga Lukas 7:36-50 ---
Ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus berjalan ke arahnya, ia mengatakan, “Lihatlah Anak domba Tuhan, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Ketika Yesus membicarakan kematiannya melalui peristiwa penyaliban, ia berkata, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Matius 26:28).
Dengan kata lain, Yesus tidak hanya menyatakan bahwa dirinya sanggup mengampuni dosa atas nama Tuhan selama ia ada di bumi, tetapi ia juga menyatakan bahwa kematiannya akan berfungsi sebagai korban pengganti, memberikan pengampunan dosa bagi semua manusia di sepanjang masa. Salah satu pernyataan terakhir Yesus kepada murid-muridnya, adalah:
“Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.”
--- Lukas 24:46-47 (penekanan ditambahkan) ---
KEADAAN SETELAH KEMATIAN
Kita tahu bahwa Yesus dan Muhammad telah mengajarkan tentang diri mereka dan apa yang mereka minta untuk dilakukan oleh para pengikut mereka. Sekarang mari kita bandingkan ajara mereka tentang Tuhan atau bagaimana Allah memperlakukan orang-orang ketika mereka meninggal dunia.
Keadaan seorang muslim setelah meninggal
Muhammad mengajarkan bahwa setelah meninggal dunia, seseorang akan tetap tinggal di dalam kuburnya sampai pada Hari Penghakiman. Jika orang itu berbuat baik maka kuburnya akan seperti surga kecil. Tetapi jika perbuatan orang itu buruk, maka kuburnya akan menjadi tempat penderitaan (Surat 55:46-60). Namun demikian, Muhammad tidak dapat memberitahukan seseorang secara pasti apakah ia akan mendapatkan kegembiraan ataukah penderitaan di dalam kuburnya.
Sebagai seorang Muslim, saya sendiri frustasi dengan tidak jelasnya informasi mengenai ini. Saya heran, “Mengapa tuhan di dalam Al Quran memberikan begitu banyak pedoman tentang kehidupan di dunia, seperti apa yang harus dilakukan ketika seorang perempuan sedang mendapatkan haid, tetapi tidak dapat memberitahukan apakah aku akan disiksa atau memperoleh kenyamanan ketika aku meninggal dunia?”
Muhammad sendiri menyatakan kekhawatirannya tentang apa yang akan terjadi padanya di dalam kubur. Istrinya, Aisah mengatakan:
“Dua orang wanita tua Yahudi mengunjungiku di rumahku dan berkata kepadaku, “Orang mati di dalam kubur mereka akan dihukum.” Aku tidak percaya kepada mereka. Setelah mereka pergi, aku pergi kepada Nabi Muhammad dan menceritakan hal itu kepadanya, lalu ia berkata, “Ya, mereka mengatakan hal yang benar kepadamu; yaitu bahwa sebagian orang yang telah meninggal dunia akan dihukum, bahkan binatang pun dapat mendengar teriakan mereka di dalam kubur.” Sejak saat itu, setiap kali aku melihat Nabi Muhammad sembahyang, ia meminta Allah untuk membebaskannya dari penghakiman di dalam kubur.”[6]
Muhammad berpikir bahwa Hari Penghakiman akan dinyatakan dengan bunyi terompet. Kemudian semua yang mati dan yang hidup akan berkumpul bersama, digiring oleh para malaikat untuk masuk ke dalam kotak, untuk kemudian dihakimi oleh Allah sendiri. Allah akan menimbang perbuatan baik dan buruk mereka dan memutuskan siapa yang akan pergi ke sorga dan siapa yang akan ke neraka. Sampai Hari Penghakiman, seseorang tidak tahu apakah ia telah menyenangkan Allah. (Lihat Surat 6:73, 18:99, 20:102, 23:101, 27:87, 36:48, 39:68, 78:18.)
Muhammad sendiri berkata bahwa ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya di Hari Penghakiman. Mari kita lihat saat di mana ia membuat pernyataan ini. Muhammad sedang berkunjung ke suatu rumah di mana seorang pria Muslim meninggal dunia dan jenazahnya masih di sana. Seorang perempuan berkata kepada jenazah trersebut, “Kiranya belas kasihan Allah ada atasmu. Aku bersaksi bahwa Allah telah menghargaimu.”
Muhammad berkata kepada perempuan itu, “Bagaimana kau tahu hal itu (Allah menghargai pria tersebut)?”
Ia menjawab, “Aku tidak tahu, demi Allah.”
Muhammad menjawab, “Baginya, kematian telah mendatanginya dan aku berharap semua yang baik dari Allah untuknya. Demi Allah, meskipun aku adalah rasul Allah, aku sendiri tidak tahu apakah yang akan terjadi kepadaku, tidak juga dirimu.”[7]
Pengikut setia Muhammad, Abu Bakar juga berbicara tentang kengerian akan penghukuman Allah. Ia berkata, “Jika salah satu kakiku berada di sorga, dan yang satunya lagi berada di luar, aku tidak akan mempercayai kelicikan Allah.”[8] Maksud Bakar di sini yaitu bahwa hidup kekalnya adalah sebuah misteri sampai kedua kakinya benar-benar berada di dalam surga.
Nama kecil Abu Bakar adalah “Lelaki yang Menangis” karena ia bisa menangis terus menerus sementara ia sembahyang.[9] Ketika ditanya mengenai hal ini, jawabnnya adalah, “Setiap saat aku berdoa, aku membayangkan Allah berdiri di hadapanku dan raja kematian di belakangku, surga di sebelah kananku dan neraka di sebelah kiriku, dan aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Tuhanku kepadaku.”[10]
Ajaran Muhammad memberikan umat Islam sedikit kenyamanan ketika orang yang dicintai meninggal dunia.
“Muhammad melihat seorang perempuan menangis di makam anak lelakinya. Lalu ia berkata, “Jadilah orang yang bertakwa dengan baik dan bersabarlah.” Perempuan itu kemudian menjawabnya, “Pergilah, karena bukan engkau yang kehilangan orang yang dikasihi, melainkan aku. Perempuan itu tidak mengenal Muhammad.”[11]
Mari kita uji perkataan Muhammad yang menentramkan perempuan di atas. Ia menyuruhnya untuk menjadi seorang Muslim yang baik dan bersabar. Dalam ajaran agama Islam, apa yang terjadi pada anak laki-laki perempuan itu merupakan kehendak Allah. Tidak seorangpun tahu apakah ia akan pergi ke neraka atau ke sorga; Allah yang memutuskan. Jadi Muhammad mengatakan kepada perempuan itu untuk menerima keputusan Allah, apapun itu. Namun, hal ini tidak menentramkan hatinya.
Takdir
Ajaran Muhammad tentang Hari Penghakiman merupakan kombinasi dengan ajarannya mengenai takdir. Hasilnya adalah ketidakpastian besar dalam pikiran umat Islam tentang keadaan setelah meninggal dunia:
“Rasul Allah, satu-satu dan yang benar-benar memperoleh ilham berkata, (sebagai ciptaan Allah), setiap orang dari kamu dikumpulkan dalam rahim ibumu selama empat puluh hari pertama dan kemudian menjadi gumpalan pada empat puluh hari yang kedua, dan menjadi sepotong daging pada empat puluh hari berikutnya. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk menuliskan empat kata, “Ia menulis perbuatan-perbuatannya, waktu kematiannya, cara hidupnya dan apakah ia akan dikutuki atau diberkati (dalam agama). Baru kemudian jiwanya dihembuskan ke dalam tubuhnya. Jadi seseorang bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang dicirikan oleh orang-orang neraka. Api, begitu banyak sehingga jarak antara mereka dengan api itu hanya sedikit, maka apapun yang telah tertulis (oleh malaikat) akan berlaku, dan demikianlah ia memulai perbuatan ciri-ciri dari orang-orang yang berada di dalam dan akan masuk surga. Hampir sama dengan itu, seseorang bisa saja melakukan perbuatan seperti orang-orang sorga sebanyak mungkin sehingga hanya sedikit saja jaraknya dengan sorga, dan kemudian apa yang telah dituliskan (oleh malaikat) akan berlaku, dan ia yang melakukan perbuatan dari orang-orang (api) neraka akan masuk (api) neraka.”[12]
Ijinkan saya membuat ringkasan tentang apa yang dikatakan hadits supaya Anda memahaminya dengan mudah. Muhammad pikir bahwa ketika seseorang masih berada di dalam rahim ibunya, Allah mengutus malaikat untuk menulis tentang hidup orang tersebut mengenai: (1) perbuatan-perbuatannya, (2) waktu kematiannya, (3) cara hidupnya dan (4) apakah ia akan dikuti atau diberkati (artinya apakah ia akan masuk neraka atau masuk sorga).
Oleh karena itu, seseorang bisa saja melakukan perbuatan jahat seumur hidupnya, tetapi jika di dalam rahim ibunya, malaikat telah menulis bahwa ia akan “diberkati” maka pada akhir hidupnya takdir ini yang akan mengambil alih dan ia akan melakukan perbuatan baik lalu berakhir di sorga. Sebaliknya, seseorang yang melakukan perbuatan baik seumur hidupnya, tetapi jika malaikat telah menulis bahwa ia akan “dikutuk” maka pada akhir hidupnya, takdir ini jugalah yang akan mengambil alih dan orang tersebut akan mulai berbuat jahat dan berakhir di neraka.
Bagaimana hal ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Jika Anda adalah seorang Muslim, Anda akan berharap bahwa Allah akan menerima semua perbuatan baik dan mengijinkan Anda masuk sorga. Tetapi karena Anda berpikir bahwa takdir terakhir Anda didasarkan pada perkataan yang telah ditulis oleh malaikat sebelum Anda lahir, maka harapan Anda itu bisa dibayangi dengan keragu-raguan. Bagaimana jika aku termasuk dalam salah seorang yang ditakdirkan untuk melakukan perbuatan baik seumur hidupku tetapi pada akhirnya diputuskan masuk neraka?
Ajaran Yesus tentang keadaan setelah meninggal
Hari Penghakiman juga menjadi bagian dari ajaran Yesus (Matius 10:15, 11:22-24, 12:36, 41-42, 24:31; Lukas 10:14, 11:31-32). Mengenai Hari Penghakiman, Yesus berkata:
Tidak ada yang tahu tentang harinya kecuali Tuhan (Matius 24:36).
Suara sangkakala berbunyi (Matius 24:31).
Para Malaikat akan mengumpulkan orang-orang (Matius 13:41).
Seperti yang baru saja Anda baca, Muhammad menjelaskan semua keterangan yang sama enam ratus tahun kemudian. (Lihat Surat 6:73, 18:99, 20:10, 23:101, 27:87, 36:48, 50:20, 78:18). Meski demikian ajaran Yesus tentang Hari Penghakiman sangat berbeda dengan ajaran Muhammad. Sebagai contoh, Yesus mengatakan bahwa ia akan kembali dan melakukan penghakiman (Matius 13:24-30, 36-41, 47-50; 25:31-33; Yohanes 5:22). Sedangkan Muhammad mengatakan Allahlah yang akan menghakimi.
Yesus menceritakan empat perumpamaan dalam Matius 24 dan 25 tentang Hari Penghakiman, untuk menggambarkan kriteria orang-orang yang mana yang akan dihakimi. Setiap perumpamaan mengajak orang-orang untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama mereka untuk mendapatkan hidup yang kekal.
Apakah ini berarti bahwa Yesus menuntut perbuatan baik agar seseorang masuk sorga? Ini adalah pertanyaan penting yang dapat kita jawab melalui ajaran Yesus itu sendiri. Yesus berkata bahwa iman kepadanya diperlukan untuk memperoleh hidup kekal, “Ia (Tuhan) telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Dan Yesus sendiri berakta, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15). Ini berarti bahwa jika Anda benar-benar mempercayai bahwa Yesus adalah Anak Tuhan, Anda akan menaati perintahnya. Jika Anda tidak menaati perintahnya, itu berarti Anda tidak mempercayainya.
Pemahaman ni didukung oleh tulisan para pengikut Yesus. Yakobus, salah seorang murid Yesus yang sangat dekat dengannya menulis, “Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). Ia melukiskan perbuatan baik sebagai bukti dari iman, “Aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku” (Yakobus 2:18). Kitab Efesus menyatakan dengan sederhana, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9).
Oleh karena itu, pada Hari Penghakiman, Yesus akan mencari perbuatan baik yang merupakan bentuk iman kepadanya.
Untuk mengetahui apa yang terjadi pada orang-orang mati sementara mereka menantikan Hari Penghakiman, Yesus memberikan sebuah ajaran. Ia bercerita tentang sebuah kisah di mana seorang yang kaya meninggal dunia lalu masuk neraka, dan seorang miskin yang juga meninggal dunia namun duduk di pangkuan Abraham, yang merupakan tempat yang nyaman (Lukas 16:19-31). Hal ini memberikan sebuah indikasi tempat di mana orang-orang yang telah meninggal dunia menunggu sampai tiba Hari Penghakiman. Keterangan lainnya mengenai penghakiman bagi orang percaya dan bukan orang percaya digambarkan dalam bagian lain di kitab Perjanjian Baru, terutama kitab Wahyu.
KESIMPULAN
Yesus dan Muhammad telah menjelaskan gagasan yang sangat mendalam tentang bagaimana menyenangkan Tuhan, pengampunan dan Hari Penghakiman. Mereka melihat peran mereka sebagai utusan Tuhan dengan cara yang berbeda pula. Dalam bab berikutnya, kita akan melihat apa yang dikatakan oleh Muhammad tentang Yesus dan apa yang mungkin saja dikatakan oleh Yesus tentang Muhammad.
[1] The Correct Books of Bukhari, vol. 4, buku 56, no 735.
[2] Ibn Hisham, vol. 1, bagian 1, hal. 302.
[3] Ibn Hisham, vol. 3, bagian 6, hal 8.
[4] The Correct Books of Muslim, buku 1, no. 413.
[5] Sahih Muslim, no. 2259.
[6] Sahih Muslim, no. 1321. Lihat juga The Correct Books of Muslim, buku 4, hal 1214.
[7] The Correct Books of Bukhari, vol. 9, buku 87, no. 145. Narasi oleh Kharija bin Zaid bin Thabit.
[8] Dr. Haykyl, Men Around the Messenger (Cairo, Mesir: Dar Al-Nahadah Publishers, 1972)
[9] The Correct Books of Bukhari, vol. 5, buku 58, no. 245.
[10] Haykyl, Men Around the Messenger.
[11] Sahih al-Bukhari, no. 372, vol. 2, hal 208. Lihat juga The Correct Books of Bukhari, vol. 2, buku 23, no. 372.
[12] The Correct Books of Bukhari, vol. 4, buku 55, no. 549. Narasi oleh Abdullah.
11. AJARAN MEREKA MENGENAI SATU SAMA LAIN
Kebanyakkan orang Barat akan terkejut jika mengetahui bahwa Muhammad dan Al Quran menyatakan rasa hormat kepada Yesus. Setengah bagian pertama dari bab ini kita akan melihat banyak dari ajaran Muhammad berbicara tentang Yesus. Namun, Yesus tidak pernah berbicara secara langsung tentang Muhammad karena Yesus hidup enam ratus tahun sebelum Muhammad lahir. Meski demikian, saya yakin kita dapat memberikan perkiraan apa yang mungkin Yesus katakan tentang Muhammad, berdasarkan ajaran Yesus yang telah kita ketahui. Setengah bagian yang kedua dari bab ini akan menjelaskan tentang hal tersebut.
RASA HORMAT MUHAMMAD BAGI YESUS
Muhammad menggambarkan dirinya dan Yesus sebagai “saudara seiman.”
“Utusan Allah berkata, “Aku adalah orang yang paling dekat dengan Yesus, anak Maria, di antara semua manusia di bumi ini baik yang hidup saat ini maupun yang akan datang. Mereka lalu bertanya, “Utusan Allah, bagaimana hal itu bisa terjadi?” Ia pun menjawab, “Para nabi adalah saudara seiman, karena memiliki ibu yang berbeda. Namun, agama mereka tetaplah satu dan tidak ada nabi lain di antara kami (antara aku dan Yesus Kristus).”
Jadi Muhammad menyatakan bahwa dirinya dan Yesus mempraktekkan agama yang sama. Bagaimana ini? Untuk memahami hal ini dan ajaran lainnya dari Muhammad tentang Yesus, Anda perlu berhati-hati terhadap penjelasan Muhammad mengenai hubungan antara Islam, Kekristenan dan Yudaisme.
Islam, Yudaisme dan Kekristenan
Ingat bahwa Muhammad tinggal dalam kelompok masyarakat yang di dalamnya terdapat orang-orang Yahudi, Kristen dan penyembah berhala. Karena Muhammad menyatakan hanya ada satu Tuhan, sama seperti orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen, ia harus menjelaskan bahwa Tuhan yang satu inilah adalah sama dengan Tuhannya mereka.
Penjelasannya adalah bahwa Islam datang terlebih dahulu, dan Abraham mempraktekkan Islam sebelum Kristen dan dan Yudaisme datang.
“Ibrahim (Abraham) bukanlah orang Yahudi dan bukan pula seorang Kristen, akan tetapi dia adalah seorang Islam yang sejati ... Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim (Abraham) ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yang beriman (Muslim).”
--- Surat 3:67-68 ---
Menurut Muhammad, karena Abraham mempraktekkan Islam dan menyembah Allah, semua nabi yang berasal darinya juga mempraktekkan Islam. Al Quran menuliskan banyak daftar nama nabi yang berasal Alkitab, seperti Ishak, Ismael, Yakub, Yusuf, Nuh, Daud, Salomo dan Musa. Bahkan Al Quran juga menyatakan Yohanes (Pembaptis) dan Yesus adalah nabi Allah juga (Surat 4:163; 6:84-86; lihat juga 2:130, 135; 3:95; 4:125, 6:161). Muhammad menunjuk semua nabi sebagai “saudara”, kecuali Abraham yang disebutnya sebagai ayah.
Pertanyaannya adalah, “Jika semua nabi ini mengikuti Islam, darimanakah Yudaisme dan Kekristenan berasal?” Al Quran menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen telah menyelewengkan pesan yang disampaikan oleh para nabi, dan sebagai hasilnya adalah agama Yudaisme dan Kristen (Surat 2:75; cf ayat 76-79, Surat 5:13). Oleh karena itu, Kitab Suci orang Yahudi dan Kristen dianggap tidak sah.
Muhammad berkata bahwa wahyu yang diterimanya telah membatalkan Kekristenan dan Yahudi, dan membawa orang-orang kembali kepada agama yang sesungguhnya, yang dipahami dan dipraktekkan oleh Abraham (Islam).
Oleh karena itu, ketika Muhammad berbicara tentang Yesus, ia menganggapnya sebagai nabi Allah yang mengajarkan Islam.
Mari kita lihat beberapa ajaran Muhammad yang secara khusus berbicara tentang Yesus. Kita akan melihat bagaimana ia setuju terhadap Alkitab mengenai beberapa peristiwa di dalam hidup Yesus. Tetapi dalam banyak hal, Muhammad juga bertentangan dengan ajaran Alkitab.
AJARAN MUHAMMAD TENTANG YESUS
Muhammad memberikan banyak pernyataan positif tentang Yesus, khususnya melalui pewahyuan Al Quran. Saya telah menyiapkan daftar ayat lengkap di dalam Al Quran yang menggambarkan keterangan mengenai Yesus, yang disebutkan di dalam Alkitab. Silahkan membaca daftarnya di dalam Appendix D.
Salah satu ayat yang paling signifikan adalah di dalam Surat 3:33-63. Para sarjana Islam mengatakan bahwa Muhammad menyampaikan ayat-ayat ini ketika pada tahun 9 H ia dikunjungi oleh beberapa orang pendeta Krsiten dari Najran, sebuah daerah di dekat perbatasan utara Yaman sekarang. Pendeta ini datang untuk bercakap-cakap dengan Muhammad tentang Islam.
Muhammad lalu berkata kepada mereka, “Jadilah orang Islam.”
Mereka menjawab, “Kami adalah Muslim,” yang artinya, “Bahkan sebelum kami bertemu denganmu, kami menyembah hanya satu Tuhan.” Kemudian Muhammad terus menggambarkan kepada mereka perbedaan antara Islam dan Kristen. Pertama ia menyampaikan kisah tentang kelahiran Maria, ibu Yesus, dan kelahiran Yohanes Pembaptis. (Cerita ini mencakup apa yang diceritakan di dalam Alkitab, tetapi ada juga informasi yang tidak ditemukan dalam Alkitab). Kemudian ia menggambarkan Yesus sebagai berikut:
Yesus lahir dari seorang perawan
“(Ingatlah), ketika malaikat berkata, “Wahai Maryam (Maria), sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan Kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya adalah Al-Masih, Isa Putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)... Maryam berkata, “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.” Allah berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, “Jadilah,” lalu jadiolah ia.”
--- Surat 3:45-47, Lihat juga 4:171 ---
Muhammad tidak hanya menyatakan bahwa Maria hamil ketika ia masih perawan, tetapi ia juga mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Selanjutnya, Muhammad menyatakan bahwa Yesus melakukan berbagai mujizat.
Yesus melakukan mujizat
“Dan menjadikannya (Isa/Yesus) sebagai rasul kepada Bani Israel (yang berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mujizat) dari Tuhanmu yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya, dan penderita sakit kusta dan aku menghidupkan orang-orang yang telah mati dengan seizin Allah.”
--- Surat 3:49 ---
Meskipun cerita tentang membuat burung dari tanah tidak ada di dalam kitab Injil, tetapi kata-kata terakhir dari ayat ini secara mengejutkan memiliki kesamaan dengan ucapan Yesus yang dicatat di dalam kitab Matius:
“Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”
--- Matius 11:4-5 ---
Dengan kata lain, Muhammad setuju dengan Kristen bahwa Yesus melakukan banyak mujizat, bahkan membangkitkan orang mati. (Ini hanya sebagian kecil dari hal-hal positif yang ditunjukkan oleh Al Quran mengenai Yesus. Silahkan lihat Apendix D untuk daftar yang lebih lengkap. Namun demikian, dalam banyak hal Muhammad berbeda dengan catatan di Alkitab. Sebagai contoh, ia mengatakan kepada kelompok pendeta Kristen ini bahwa Yesus menyembah Allah.
Yesus menyembah Allah
“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalah yang lurus.”
--- Surat 3:51 ---
Muhammad berkata bahwa murid-murid Yesus menyatakan, “Kami adalah umat Islam” (ayat 52) dan menolak menyembah yang lain selain Allah (ayat 53). Dengan kata lain, Muhammad mengatakan bawah para murid menolak untuk menyembah Yesus sebagai Tuhan. Namun demikian, Injil menyebutkan beberapa contoh dari para murid yang menyembah Yesus (Matius 14:33; 28:9; Lukas 24:51-52).
Muhammad menyimpulkan dengan menceritakannya pada tamunya yang beragama Kristen, “Ini adalah kisah yang sebenarnya....” (Surat 3:62). Tetapi, para tamu itu menolak apa yang disampaikan oleh Muhammad.
Sementara khotbah Muhammad kepada para pendeta ini memberikan sudut pandang yang bagus, mari kita lihat beberapa pernyataan dalam Al Quran yang menunjukkan pandangan Muhammad tentang Yesus.
Muhammad katakan Yesus menubuatkan kedatangannya
“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Mariam berkata, “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”
--- Surat 61:6 ---
Ahmad adalah salah satu dari nama Muhammad, jadi Muhammad berpikir Yesus telah menubuatkan kedatangannya. Namun, Muhammad juga berkata bahwa orang Kristen telah menghilagkan ayat ini dari Kitab Suci mereka. Para Sarjana Islam, telah menyatakan bahwa beberapa ucapan Yesus yang dicatat dalam kitab Yohanes berbicara tentang Muhammad, namun umat Kristen memahami ayat-ayat tersebut menunjuk kepada Roh Kudus (Yohanes 14:16-17, 24; 16:7; lihat juga Appendiks D).
Tuhan tidak punya anak
Umat Kristen yang membaca Al Quran tentu akan terkejut melihat Al Quran begitu sering dan secara spesifik menyangkal bahwa Tuhan bisa mempunyai seorang anak. Sebagai contoh:
“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) yang beserta-Nya.”
--- Surat 23:91---
“Katakanlah (Ya Muhammad): “Jika (Allah) adalah yang Maha Mulia itu mempunyai anak, aku akan menjadi orang pertama yang menyembahnya.”
--- Surat 43:81, terjemahan Ali ---
“Janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga,” berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak.”
--- Surat 4:171 ---
Tidak seharusnya Yesus disembah
Menurut Al Quran, Allah akan menanyai Yesus pada Hari Kebangkitan, “Apakah engkau berkata kepada orang-orang, ’Sembahlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?”
Yesus akan menjawab, “Tidak pernah aku berkata kepada mereka, kecuali seperti yang Engkau (Allah) perintahkan aku untuk sampaikan, ’Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’” (Surat 5:116-117; lihat juga ayat 72).
Muhammad berkata bahwa orang Kristen salah karena menyembah Yesus.
“Aku mendengar Nabi berkata, “Jangan terlalu membesar-besarkan dalam menyembahku seperti orang Kristen menyembah anak Maria, karena aku hanyalah seorang hamba. Jadi panggil saja aku hamba Allah dan rasul-Nya.”
Yesus tidak bangkit dari kematian
Bicara tentang mereka yang berkata bahwa mereka telah menyalibkan Yesus, Muhammad mengatakan:
“mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.... tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepadanya.”
--- Surat 4:157-158 ---
Dengan kata lain, Muhammad berkata bahwa sebagai gantinya disalibkan, Yesus telah diangkat secara langsung kepada Allah.
KESIMPULAN
Ajaran Muhammad tentang Yesus, khususnya yang berasal dari Al Quran, secara terus menerus mengatakan hal-hal yang positif dan menekankan hal yang sama dengan yang di dalam Alkitab. Namun, wahyu di dalam Al Quran juga berulang kali menyangkal salah satu pernyataan penting yang telah dibuat oleh Yesus, yaitu bahwa ia adalah Anak Tuhan. Kelompok Nestoria dan Ebionite di Arab yang hidup pada masa Muhammad, juga menegaskan kenabian Yesus meski mereka menolak keilahiannya. Islam menyatakan Yesus adalah salah satu nabinya, dan Muhammad mengatakan bahwa Yesus telah menubuatkan tentang kedatangannya.
AJARAN YESUS TENTANG MUHAMMAD
Ijinkanlah saya menyatakan sejak awal, bahwa bagian tentang Yesus ini hanya ditulis sebagai sebuah opini. Yesus tidak mengajarkan tentang Muhammad secara langsung karena ia hidup enam ratus tahun sebelum Muhammad. Oleh karena itu, kita harus mengetahui apa yang menjadi ajaran Yesus untuk dapat mengetahui tentang Muhammad. Menurut pendapat saya, Yesus akan mempertanyakan kenabian Muhammad dalam tiga hal, yaitu (1) tindakan Muhammad terhadap orang lain, (2) gambaran Muhammad tentang persyaratan untuk menyenangkan Tuhan, (3) gambaran Muhammad tentang sifat Tuhan.
Tindakan Muhammad terhadap orang lain
Yesus mengajarkan orang banyak, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu .... Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka .... Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” (Matius 7:15-17)
Buah dari kehidupan seseorang adalah perbuatannya, jadi mari kita pikirkan tentang buah-buah Muhammad. Dengan keahlian perang, berdebat, dan mengintimidasi, Muhammad telah menaklukkan seluruh wilayah Arab ke dalam otoritas Islam. Selama proses tersebut, pasukannya telah membunuh ribuan orang. Muhammad dan tentaranya telah mengambil harta dan menjual para perempuan serta anak-anak mereka untuk menjadi budak.
Anda dapat mengatakan bahwa Muhammad berperang demi kelangsungan hidupnya dan agama Islam. Tetapi argumentasi itu hanya bertahan sesaat. Ketika Muhammad telah memperoleh kekuasaan, ia mulai bersikap agresif terhadap orang-orang yang bahkan sama sekali tidak menjadi ancaman baginya.
Sebagai orang yang telah mempelajari sejarah Islam secara mendalam, saya tidak dapat menyangkal mengenai kenyataan hidup Muhammad. Kehidupan Muhammad mengingatkan saya tentang gambaran penjahat yang dikatakan oleh Yesus yang datang untuk mencuri domba. “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan,” (Yohanes 10:10). Inilah buah dari kehidupan Muhammad.
Dengan standar ini, saya yakin bahwa jika Yesus bertemu dengan Muhammad, ia akan menyebut Muhammad dengan nabi palsu.
Syarat untuk menyenangkan hati Tuhan
Baik Injil Matius maupun Lukas mencatat tentang ucapan Yesus yang memarahi ahli-ahli Taurat dan imam kepala. Salah satu keluhan Yesus adalah karena mereka membebani orang dengan hukum Taurat tanpa membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan.
Yesus memanggil mereka “pemandu buta”. Mengapa mereka dikatakan pemandu yang buta?
“Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang,”
--- Lukas 11:46 ---
Para ahli Taurat meminta orang-orang untuk mengikuti aturan yang sulit dalam kehidupan dan doa sehari-hari. Dengan cara yang sama, Muhammad meminta orang-orang untuk mengikuti aturan hukum Islam yang sangat memberatkan (berpuasa, membayar pajak, bersembahyang lima kali sehari, naik haji ke Mekah, dan menjalankan huku-hukum Islam lainnya) untuk menyenangkan hati Tuhan.
Hukum ini memberikan beban yang berat kepada orang-orang dan lebih memperhatikan apa yang kelihatan di luar. Yesus menantang mereka yang terpusat pada hukum Taurat, “Kamu ... membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.” (Lukas 11:39). Yesus menentang orang-orang Yahudi yang saleh yang berdoa panjang sementara mereka merampasi rumah janda-janda.
Saya yakin, Yesus akan mengatakan hal yang sama kepada Muhammad yang telah mengajarkan umat Islam untuk mencuci tubuh bagian luar mereka lima kali sehari sebelum sembahyang, tetapi pada saat yang sama mengajak mereka untuk memerangi semua orang Arab dan menggunakan keserakahan mereka sebagai alasan untuk berperang dan memotivasi mereka untuk mengorbankan nyawa mereka. (Lihat juga Matius 15)
Yesus mengatakan belas kasihan Tuhan lebih berkuasa daripada hukum Taurat. Ia memarahi para pemimpin agama yang mengikuti aturan tetapi melupakan belas kasihan Tuhan. Sebagai contoh, Yesus melanggar aturan orang Yahudi dengan “bekerja” pada hari Sabat untuk menyembuhkan seorang perempuan yang bungkuk punggungnya (Lukas 13:10-17).
Saya percaya Yesus juga akan memarahi Muhammad karena berpusat kepada persyaratan yang salah untuk menyenangkan hati Tuhan.
Sifat Tuhan
Saya percaya Yesus akan berkata kepada Muhammad, “Siapakah Tuhanmu? Tuhan yang kamu gambarkan benar-benar berbeda dengan Tuhan yang aku kenal.” Al Quran mengatakan bahwa Tuhan dalam Islam bekerjasama dengan setan dan iblis untuk mengajak orang-orang masuk ke neraka (Surat 6:39, 126; 43:36-37). Sebaliknya Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mencintai dunia ini dan tidak menginginkan satu orangpun binasa (Yohanes 3:16-17).
Yesus menggambarkan bahwa Tuhan itu kasih; Muhammad (melalui wahyu Al Quran) menggambarkan Tuhan sebagai Tuhan yang suka menghukum. Jika Anda mencari dalam Perjanjian Baru kata hukuman/menghukum/dihukum Anda akan menemukan 15 contoh tentang orang-orang tidak percaya yang dihukum di neraka. (Perjanjian Lama memiliki 159 contoh dari kata ini).
Tetapi, jika Anda mencari di dalam Al Quran (yang lebih sedikit dari Perjanjian Baru) untuk kata hukuman/menghukum/dihukum, Anda akan menemukan 379 contoh. Ayat-ayat ini menggambarkan bagaimana Allah menghukum berbagai macam orang dan dosa.
Anda juga dapat mencari kata kasih di dalam Al Quran dan menemukan 82 contoh. Jumlah ini termasuk cukup baik. Tetapi jika Anda secara acak melihat kepada konteksnya, Anda akan menemukan gambaran yang menunjukkan bahwa Allah sebenarnya tidaklah penuh KASIH. (Bab 14 akan menjelaskan lebih banyak lagi mengenai ajaran dalam Al Quran mengenai kasih).
Jika Anda mencari melalui komputer untuk kata kasih di dalam Perjanjian Baru, Anda akan menemukan 260 ayat. Sekitar sepertiga dari ayat-ayat ini berbicara tentang cinta kasih Tuhan bagi anak-Nya atau umat-Nya. Kurang lebih setengahnya memberikan gambaran tentang orang-orang yang mencintai Tuhan atau sesamanya. Dan selebihnya adalah penggunaan kata cinta dalam konteks pengajaran, sebagai contoh, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang” (1 Timotius 6:10). Hanya satu ayat yang berbicara tentang Tuhan tidak mencintai seseorang atau sesuatu (Roma 9:13).
Tentu saja, seseorang dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa konsep cinta kasih lebih sering digunakan dalam masyarakat pada zaman Yesus daripada masyarakat pada zaman Muhammad. Namun, di atas semua itu, angka-angka di atas menunjukkan betapa berbedanya sifat Tuhan yang digambarkan oleh Muhammad dengan yang digambarkan oleh Yesus.
Saya yakin, Yesus akan mempertanyakan gambaran Muhammad tentang Tuhan.
Tanggapan Yesus terhadap setan
Akhirnya, mari kita melihat kisah hidup Muhammad yang telah banyak diketahui, yang menunjukkan sisi kemanusiaannya. Dalam Kekristenan, adalah sebuah penghinaan yang sangat besar apabila orang percaya berada di bawah pengaruh kuasa setan. Tetapi, sudut pandang umat Islam berbeda. Hal itu tidak dianggap sebagai kehilangan iman. Malahan, dalam salah satu kisah di hadits, Muhammad memberitahukan Aisah bahwa ia terkena sebuah “mantera.”
“Aisah bercerita bahwa seorang Yahudi yang berasa dalam Bani Zuraiq yang bernama Labid bin al-A’sam mengucapkan mantera kepada utusan Allah sehingga akibatnya ia (ketika berada di bawah pengaruh mantera) berpikir bahwa ia telah melakukan sesuatu, padahal kenyataannya tidak. (Hal ini berlangsung terus) sampai suatu hari atau pada suatu malam utusan Allah menaikkan doa permohonan (untuk menghilangkan pengaruhnya). Ia menaikkan doa permohonan dan melakukannya lagi.”
Hal ini ditunjukkan dalam pewahyuan Surat 7:200
“Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah”
--- Surat 7:200 ---
Jika Muhammad benar-benar terganggu dengan kuasa setan, dan ia datang kepada Yesus untuk meminta tolong, kita dapat memperkirakan apa yang akan Yesus lakukan. Yesus akan mengusir setan itu keluar, seperti yang telah ia lakukan kepada yang lainnya.
KESIMPULAN
Yesus mengingatkan bahwa nabi-nabi palsu akan datang dan ia memberitahu para pengikutnya untuk mengenali mereka melalui perbuatan yang baik ataupun buruk dari para nabi palsu tersebut. Ketika Yesus menemui para pemimpin agama yang menekan orang banyak, ia memarahi mereka. Saya yakin informasi ini memberitahukan kita bagaimana Yesus akan bersikap kepada Muhammad.
Sekarang kita telah melihat pada ajaran Yesus dan Muhammad yang sama-sama menyatakan dirinya seperti apa, dan apa yang mungkin akan dikatakan terhadap satu sama lain. Sekarang mari kita kembali pada subyek ajaran yang spesifik, khususnya tentang penyembuhan dan mujizat.
RASA HORMAT MUHAMMAD BAGI YESUS
Muhammad menggambarkan dirinya dan Yesus sebagai “saudara seiman.”
“Utusan Allah berkata, “Aku adalah orang yang paling dekat dengan Yesus, anak Maria, di antara semua manusia di bumi ini baik yang hidup saat ini maupun yang akan datang. Mereka lalu bertanya, “Utusan Allah, bagaimana hal itu bisa terjadi?” Ia pun menjawab, “Para nabi adalah saudara seiman, karena memiliki ibu yang berbeda. Namun, agama mereka tetaplah satu dan tidak ada nabi lain di antara kami (antara aku dan Yesus Kristus).”
Jadi Muhammad menyatakan bahwa dirinya dan Yesus mempraktekkan agama yang sama. Bagaimana ini? Untuk memahami hal ini dan ajaran lainnya dari Muhammad tentang Yesus, Anda perlu berhati-hati terhadap penjelasan Muhammad mengenai hubungan antara Islam, Kekristenan dan Yudaisme.
Islam, Yudaisme dan Kekristenan
Ingat bahwa Muhammad tinggal dalam kelompok masyarakat yang di dalamnya terdapat orang-orang Yahudi, Kristen dan penyembah berhala. Karena Muhammad menyatakan hanya ada satu Tuhan, sama seperti orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen, ia harus menjelaskan bahwa Tuhan yang satu inilah adalah sama dengan Tuhannya mereka.
Penjelasannya adalah bahwa Islam datang terlebih dahulu, dan Abraham mempraktekkan Islam sebelum Kristen dan dan Yudaisme datang.
“Ibrahim (Abraham) bukanlah orang Yahudi dan bukan pula seorang Kristen, akan tetapi dia adalah seorang Islam yang sejati ... Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim (Abraham) ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yang beriman (Muslim).”
--- Surat 3:67-68 ---
Menurut Muhammad, karena Abraham mempraktekkan Islam dan menyembah Allah, semua nabi yang berasal darinya juga mempraktekkan Islam. Al Quran menuliskan banyak daftar nama nabi yang berasal Alkitab, seperti Ishak, Ismael, Yakub, Yusuf, Nuh, Daud, Salomo dan Musa. Bahkan Al Quran juga menyatakan Yohanes (Pembaptis) dan Yesus adalah nabi Allah juga (Surat 4:163; 6:84-86; lihat juga 2:130, 135; 3:95; 4:125, 6:161). Muhammad menunjuk semua nabi sebagai “saudara”, kecuali Abraham yang disebutnya sebagai ayah.
Pertanyaannya adalah, “Jika semua nabi ini mengikuti Islam, darimanakah Yudaisme dan Kekristenan berasal?” Al Quran menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen telah menyelewengkan pesan yang disampaikan oleh para nabi, dan sebagai hasilnya adalah agama Yudaisme dan Kristen (Surat 2:75; cf ayat 76-79, Surat 5:13). Oleh karena itu, Kitab Suci orang Yahudi dan Kristen dianggap tidak sah.
Muhammad berkata bahwa wahyu yang diterimanya telah membatalkan Kekristenan dan Yahudi, dan membawa orang-orang kembali kepada agama yang sesungguhnya, yang dipahami dan dipraktekkan oleh Abraham (Islam).
Oleh karena itu, ketika Muhammad berbicara tentang Yesus, ia menganggapnya sebagai nabi Allah yang mengajarkan Islam.
Mari kita lihat beberapa ajaran Muhammad yang secara khusus berbicara tentang Yesus. Kita akan melihat bagaimana ia setuju terhadap Alkitab mengenai beberapa peristiwa di dalam hidup Yesus. Tetapi dalam banyak hal, Muhammad juga bertentangan dengan ajaran Alkitab.
AJARAN MUHAMMAD TENTANG YESUS
Muhammad memberikan banyak pernyataan positif tentang Yesus, khususnya melalui pewahyuan Al Quran. Saya telah menyiapkan daftar ayat lengkap di dalam Al Quran yang menggambarkan keterangan mengenai Yesus, yang disebutkan di dalam Alkitab. Silahkan membaca daftarnya di dalam Appendix D.
Salah satu ayat yang paling signifikan adalah di dalam Surat 3:33-63. Para sarjana Islam mengatakan bahwa Muhammad menyampaikan ayat-ayat ini ketika pada tahun 9 H ia dikunjungi oleh beberapa orang pendeta Krsiten dari Najran, sebuah daerah di dekat perbatasan utara Yaman sekarang. Pendeta ini datang untuk bercakap-cakap dengan Muhammad tentang Islam.
Muhammad lalu berkata kepada mereka, “Jadilah orang Islam.”
Mereka menjawab, “Kami adalah Muslim,” yang artinya, “Bahkan sebelum kami bertemu denganmu, kami menyembah hanya satu Tuhan.” Kemudian Muhammad terus menggambarkan kepada mereka perbedaan antara Islam dan Kristen. Pertama ia menyampaikan kisah tentang kelahiran Maria, ibu Yesus, dan kelahiran Yohanes Pembaptis. (Cerita ini mencakup apa yang diceritakan di dalam Alkitab, tetapi ada juga informasi yang tidak ditemukan dalam Alkitab). Kemudian ia menggambarkan Yesus sebagai berikut:
Yesus lahir dari seorang perawan
“(Ingatlah), ketika malaikat berkata, “Wahai Maryam (Maria), sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan Kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya adalah Al-Masih, Isa Putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)... Maryam berkata, “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.” Allah berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, “Jadilah,” lalu jadiolah ia.”
--- Surat 3:45-47, Lihat juga 4:171 ---
Muhammad tidak hanya menyatakan bahwa Maria hamil ketika ia masih perawan, tetapi ia juga mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Selanjutnya, Muhammad menyatakan bahwa Yesus melakukan berbagai mujizat.
Yesus melakukan mujizat
“Dan menjadikannya (Isa/Yesus) sebagai rasul kepada Bani Israel (yang berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mujizat) dari Tuhanmu yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya, dan penderita sakit kusta dan aku menghidupkan orang-orang yang telah mati dengan seizin Allah.”
--- Surat 3:49 ---
Meskipun cerita tentang membuat burung dari tanah tidak ada di dalam kitab Injil, tetapi kata-kata terakhir dari ayat ini secara mengejutkan memiliki kesamaan dengan ucapan Yesus yang dicatat di dalam kitab Matius:
“Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”
--- Matius 11:4-5 ---
Dengan kata lain, Muhammad setuju dengan Kristen bahwa Yesus melakukan banyak mujizat, bahkan membangkitkan orang mati. (Ini hanya sebagian kecil dari hal-hal positif yang ditunjukkan oleh Al Quran mengenai Yesus. Silahkan lihat Apendix D untuk daftar yang lebih lengkap. Namun demikian, dalam banyak hal Muhammad berbeda dengan catatan di Alkitab. Sebagai contoh, ia mengatakan kepada kelompok pendeta Kristen ini bahwa Yesus menyembah Allah.
Yesus menyembah Allah
“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalah yang lurus.”
--- Surat 3:51 ---
Muhammad berkata bahwa murid-murid Yesus menyatakan, “Kami adalah umat Islam” (ayat 52) dan menolak menyembah yang lain selain Allah (ayat 53). Dengan kata lain, Muhammad mengatakan bawah para murid menolak untuk menyembah Yesus sebagai Tuhan. Namun demikian, Injil menyebutkan beberapa contoh dari para murid yang menyembah Yesus (Matius 14:33; 28:9; Lukas 24:51-52).
Muhammad menyimpulkan dengan menceritakannya pada tamunya yang beragama Kristen, “Ini adalah kisah yang sebenarnya....” (Surat 3:62). Tetapi, para tamu itu menolak apa yang disampaikan oleh Muhammad.
Sementara khotbah Muhammad kepada para pendeta ini memberikan sudut pandang yang bagus, mari kita lihat beberapa pernyataan dalam Al Quran yang menunjukkan pandangan Muhammad tentang Yesus.
Muhammad katakan Yesus menubuatkan kedatangannya
“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Mariam berkata, “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”
--- Surat 61:6 ---
Ahmad adalah salah satu dari nama Muhammad, jadi Muhammad berpikir Yesus telah menubuatkan kedatangannya. Namun, Muhammad juga berkata bahwa orang Kristen telah menghilagkan ayat ini dari Kitab Suci mereka. Para Sarjana Islam, telah menyatakan bahwa beberapa ucapan Yesus yang dicatat dalam kitab Yohanes berbicara tentang Muhammad, namun umat Kristen memahami ayat-ayat tersebut menunjuk kepada Roh Kudus (Yohanes 14:16-17, 24; 16:7; lihat juga Appendiks D).
Tuhan tidak punya anak
Umat Kristen yang membaca Al Quran tentu akan terkejut melihat Al Quran begitu sering dan secara spesifik menyangkal bahwa Tuhan bisa mempunyai seorang anak. Sebagai contoh:
“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) yang beserta-Nya.”
--- Surat 23:91---
“Katakanlah (Ya Muhammad): “Jika (Allah) adalah yang Maha Mulia itu mempunyai anak, aku akan menjadi orang pertama yang menyembahnya.”
--- Surat 43:81, terjemahan Ali ---
“Janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga,” berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak.”
--- Surat 4:171 ---
Tidak seharusnya Yesus disembah
Menurut Al Quran, Allah akan menanyai Yesus pada Hari Kebangkitan, “Apakah engkau berkata kepada orang-orang, ’Sembahlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?”
Yesus akan menjawab, “Tidak pernah aku berkata kepada mereka, kecuali seperti yang Engkau (Allah) perintahkan aku untuk sampaikan, ’Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’” (Surat 5:116-117; lihat juga ayat 72).
Muhammad berkata bahwa orang Kristen salah karena menyembah Yesus.
“Aku mendengar Nabi berkata, “Jangan terlalu membesar-besarkan dalam menyembahku seperti orang Kristen menyembah anak Maria, karena aku hanyalah seorang hamba. Jadi panggil saja aku hamba Allah dan rasul-Nya.”
Yesus tidak bangkit dari kematian
Bicara tentang mereka yang berkata bahwa mereka telah menyalibkan Yesus, Muhammad mengatakan:
“mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.... tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepadanya.”
--- Surat 4:157-158 ---
Dengan kata lain, Muhammad berkata bahwa sebagai gantinya disalibkan, Yesus telah diangkat secara langsung kepada Allah.
KESIMPULAN
Ajaran Muhammad tentang Yesus, khususnya yang berasal dari Al Quran, secara terus menerus mengatakan hal-hal yang positif dan menekankan hal yang sama dengan yang di dalam Alkitab. Namun, wahyu di dalam Al Quran juga berulang kali menyangkal salah satu pernyataan penting yang telah dibuat oleh Yesus, yaitu bahwa ia adalah Anak Tuhan. Kelompok Nestoria dan Ebionite di Arab yang hidup pada masa Muhammad, juga menegaskan kenabian Yesus meski mereka menolak keilahiannya. Islam menyatakan Yesus adalah salah satu nabinya, dan Muhammad mengatakan bahwa Yesus telah menubuatkan tentang kedatangannya.
AJARAN YESUS TENTANG MUHAMMAD
Ijinkanlah saya menyatakan sejak awal, bahwa bagian tentang Yesus ini hanya ditulis sebagai sebuah opini. Yesus tidak mengajarkan tentang Muhammad secara langsung karena ia hidup enam ratus tahun sebelum Muhammad. Oleh karena itu, kita harus mengetahui apa yang menjadi ajaran Yesus untuk dapat mengetahui tentang Muhammad. Menurut pendapat saya, Yesus akan mempertanyakan kenabian Muhammad dalam tiga hal, yaitu (1) tindakan Muhammad terhadap orang lain, (2) gambaran Muhammad tentang persyaratan untuk menyenangkan Tuhan, (3) gambaran Muhammad tentang sifat Tuhan.
Tindakan Muhammad terhadap orang lain
Yesus mengajarkan orang banyak, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu .... Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka .... Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” (Matius 7:15-17)
Buah dari kehidupan seseorang adalah perbuatannya, jadi mari kita pikirkan tentang buah-buah Muhammad. Dengan keahlian perang, berdebat, dan mengintimidasi, Muhammad telah menaklukkan seluruh wilayah Arab ke dalam otoritas Islam. Selama proses tersebut, pasukannya telah membunuh ribuan orang. Muhammad dan tentaranya telah mengambil harta dan menjual para perempuan serta anak-anak mereka untuk menjadi budak.
Anda dapat mengatakan bahwa Muhammad berperang demi kelangsungan hidupnya dan agama Islam. Tetapi argumentasi itu hanya bertahan sesaat. Ketika Muhammad telah memperoleh kekuasaan, ia mulai bersikap agresif terhadap orang-orang yang bahkan sama sekali tidak menjadi ancaman baginya.
Sebagai orang yang telah mempelajari sejarah Islam secara mendalam, saya tidak dapat menyangkal mengenai kenyataan hidup Muhammad. Kehidupan Muhammad mengingatkan saya tentang gambaran penjahat yang dikatakan oleh Yesus yang datang untuk mencuri domba. “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan,” (Yohanes 10:10). Inilah buah dari kehidupan Muhammad.
Dengan standar ini, saya yakin bahwa jika Yesus bertemu dengan Muhammad, ia akan menyebut Muhammad dengan nabi palsu.
Syarat untuk menyenangkan hati Tuhan
Baik Injil Matius maupun Lukas mencatat tentang ucapan Yesus yang memarahi ahli-ahli Taurat dan imam kepala. Salah satu keluhan Yesus adalah karena mereka membebani orang dengan hukum Taurat tanpa membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan.
Yesus memanggil mereka “pemandu buta”. Mengapa mereka dikatakan pemandu yang buta?
“Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang,”
--- Lukas 11:46 ---
Para ahli Taurat meminta orang-orang untuk mengikuti aturan yang sulit dalam kehidupan dan doa sehari-hari. Dengan cara yang sama, Muhammad meminta orang-orang untuk mengikuti aturan hukum Islam yang sangat memberatkan (berpuasa, membayar pajak, bersembahyang lima kali sehari, naik haji ke Mekah, dan menjalankan huku-hukum Islam lainnya) untuk menyenangkan hati Tuhan.
Hukum ini memberikan beban yang berat kepada orang-orang dan lebih memperhatikan apa yang kelihatan di luar. Yesus menantang mereka yang terpusat pada hukum Taurat, “Kamu ... membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.” (Lukas 11:39). Yesus menentang orang-orang Yahudi yang saleh yang berdoa panjang sementara mereka merampasi rumah janda-janda.
Saya yakin, Yesus akan mengatakan hal yang sama kepada Muhammad yang telah mengajarkan umat Islam untuk mencuci tubuh bagian luar mereka lima kali sehari sebelum sembahyang, tetapi pada saat yang sama mengajak mereka untuk memerangi semua orang Arab dan menggunakan keserakahan mereka sebagai alasan untuk berperang dan memotivasi mereka untuk mengorbankan nyawa mereka. (Lihat juga Matius 15)
Yesus mengatakan belas kasihan Tuhan lebih berkuasa daripada hukum Taurat. Ia memarahi para pemimpin agama yang mengikuti aturan tetapi melupakan belas kasihan Tuhan. Sebagai contoh, Yesus melanggar aturan orang Yahudi dengan “bekerja” pada hari Sabat untuk menyembuhkan seorang perempuan yang bungkuk punggungnya (Lukas 13:10-17).
Saya percaya Yesus juga akan memarahi Muhammad karena berpusat kepada persyaratan yang salah untuk menyenangkan hati Tuhan.
Sifat Tuhan
Saya percaya Yesus akan berkata kepada Muhammad, “Siapakah Tuhanmu? Tuhan yang kamu gambarkan benar-benar berbeda dengan Tuhan yang aku kenal.” Al Quran mengatakan bahwa Tuhan dalam Islam bekerjasama dengan setan dan iblis untuk mengajak orang-orang masuk ke neraka (Surat 6:39, 126; 43:36-37). Sebaliknya Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mencintai dunia ini dan tidak menginginkan satu orangpun binasa (Yohanes 3:16-17).
Yesus menggambarkan bahwa Tuhan itu kasih; Muhammad (melalui wahyu Al Quran) menggambarkan Tuhan sebagai Tuhan yang suka menghukum. Jika Anda mencari dalam Perjanjian Baru kata hukuman/menghukum/dihukum Anda akan menemukan 15 contoh tentang orang-orang tidak percaya yang dihukum di neraka. (Perjanjian Lama memiliki 159 contoh dari kata ini).
Tetapi, jika Anda mencari di dalam Al Quran (yang lebih sedikit dari Perjanjian Baru) untuk kata hukuman/menghukum/dihukum, Anda akan menemukan 379 contoh. Ayat-ayat ini menggambarkan bagaimana Allah menghukum berbagai macam orang dan dosa.
Anda juga dapat mencari kata kasih di dalam Al Quran dan menemukan 82 contoh. Jumlah ini termasuk cukup baik. Tetapi jika Anda secara acak melihat kepada konteksnya, Anda akan menemukan gambaran yang menunjukkan bahwa Allah sebenarnya tidaklah penuh KASIH. (Bab 14 akan menjelaskan lebih banyak lagi mengenai ajaran dalam Al Quran mengenai kasih).
Jika Anda mencari melalui komputer untuk kata kasih di dalam Perjanjian Baru, Anda akan menemukan 260 ayat. Sekitar sepertiga dari ayat-ayat ini berbicara tentang cinta kasih Tuhan bagi anak-Nya atau umat-Nya. Kurang lebih setengahnya memberikan gambaran tentang orang-orang yang mencintai Tuhan atau sesamanya. Dan selebihnya adalah penggunaan kata cinta dalam konteks pengajaran, sebagai contoh, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang” (1 Timotius 6:10). Hanya satu ayat yang berbicara tentang Tuhan tidak mencintai seseorang atau sesuatu (Roma 9:13).
Tentu saja, seseorang dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa konsep cinta kasih lebih sering digunakan dalam masyarakat pada zaman Yesus daripada masyarakat pada zaman Muhammad. Namun, di atas semua itu, angka-angka di atas menunjukkan betapa berbedanya sifat Tuhan yang digambarkan oleh Muhammad dengan yang digambarkan oleh Yesus.
Saya yakin, Yesus akan mempertanyakan gambaran Muhammad tentang Tuhan.
Tanggapan Yesus terhadap setan
Akhirnya, mari kita melihat kisah hidup Muhammad yang telah banyak diketahui, yang menunjukkan sisi kemanusiaannya. Dalam Kekristenan, adalah sebuah penghinaan yang sangat besar apabila orang percaya berada di bawah pengaruh kuasa setan. Tetapi, sudut pandang umat Islam berbeda. Hal itu tidak dianggap sebagai kehilangan iman. Malahan, dalam salah satu kisah di hadits, Muhammad memberitahukan Aisah bahwa ia terkena sebuah “mantera.”
“Aisah bercerita bahwa seorang Yahudi yang berasa dalam Bani Zuraiq yang bernama Labid bin al-A’sam mengucapkan mantera kepada utusan Allah sehingga akibatnya ia (ketika berada di bawah pengaruh mantera) berpikir bahwa ia telah melakukan sesuatu, padahal kenyataannya tidak. (Hal ini berlangsung terus) sampai suatu hari atau pada suatu malam utusan Allah menaikkan doa permohonan (untuk menghilangkan pengaruhnya). Ia menaikkan doa permohonan dan melakukannya lagi.”
Hal ini ditunjukkan dalam pewahyuan Surat 7:200
“Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah”
--- Surat 7:200 ---
Jika Muhammad benar-benar terganggu dengan kuasa setan, dan ia datang kepada Yesus untuk meminta tolong, kita dapat memperkirakan apa yang akan Yesus lakukan. Yesus akan mengusir setan itu keluar, seperti yang telah ia lakukan kepada yang lainnya.
KESIMPULAN
Yesus mengingatkan bahwa nabi-nabi palsu akan datang dan ia memberitahu para pengikutnya untuk mengenali mereka melalui perbuatan yang baik ataupun buruk dari para nabi palsu tersebut. Ketika Yesus menemui para pemimpin agama yang menekan orang banyak, ia memarahi mereka. Saya yakin informasi ini memberitahukan kita bagaimana Yesus akan bersikap kepada Muhammad.
Sekarang kita telah melihat pada ajaran Yesus dan Muhammad yang sama-sama menyatakan dirinya seperti apa, dan apa yang mungkin akan dikatakan terhadap satu sama lain. Sekarang mari kita kembali pada subyek ajaran yang spesifik, khususnya tentang penyembuhan dan mujizat.
Langganan:
Postingan (Atom)